DASAR-DASAR PENULISAN CERITA PENDEK
Program Studi Sastra
Inggris, Fakultas Sastra dan Filsafat, Universitas Panca Marga, Jalan Yos
Sudarso No.107, Krajan, Pabean, Dringu, Probolinggo, Jawa Timur 67271. Telp:
(0335) 422715. Pos-el: indratjahyadi@upm.ac.id
PENGANTAR
Upaya peningkatan daya kreativitas
seseorang dapat dilakukan melalui praktik atau tindak penulisan karya sastra. Dalam
praktik atau tindak penulisan sastra, seseorang tidak hanya dilatih untuk
berimajinasi saja, tetapi juga diajarkan untuk dapat memanifestasikan
imajinasinya tersebut dalam bentuk bahasa yang bersifat linguistis dan
menenunnya atau merangkainya menjadi satu bentuk utuh. Dalam kegiatan menenun
atau merangkai, dibutuhkan daya kreativitas agar kegiatan tersebut menghasilkan
sesuatu yang indah. Inilah yang menyebabkan seseorang yang melakukan penulisan
atau penciptaan karya sastra menjadi sebuah pribadi yang kreatif.
PENGERTIAN CERPEN
Salah satu genre atau jenis karya
sastra yang dapat mendorong peningkatan daya kreativitas seseorang adalah
cerita pendek (Cerpen). Cerita pendek, atau yang dalam khazanah sastra
Indonesia biasa disebut cerpen, merupakan salah satu genre dari prosa-fiksi
(Klarer, 2005: 12). Menurut Edgar Allen Poe, seorang sastrawan besar Amerika,
(dalam Nurgiyantoro, 2010: 10) cerpen dapat dipahami cerita yang selesai dibaca
dalam sekali duduk, atau cerita yang durasi pembacaannya kisaran satu sampai
dua jam saja. Pemahaman cerpen yang diberikan Poe tersebut masih membingungkan
karena masih terlalu luas dan tidak pasti. Oleh karena itu, perlu dilakukan
pemeriksaan tentang definisi cerpen yang pernah diberikan oleh ahli sastra yang
lain.
Jakob Sumardjo dan Saini K.M. (1986:
36) mendefinisikan cerita pendek atau cerpen sebagai salah satu genre dari
prosa yang memiliki karakteristik cerita atau narasi yang tidak bersifat
analisis argumentatif tetapi lebih bersifat fiktif, dan memiliki durasi
pengisahan relatif pendek. Dalam cerpen, penceritaan atau narasi disajikan
secara hemat dan ekonomis. Namun, itu tidak berarti cerpen tidak memiliki
kesatuan bentuk yang utuh.
Sebagai
sebuah karya bergenre prosa-fiksi, cerpen juga memiliki kesatuan bentuk yang
utuh sebagaimana jenis-jenis prosa-fiksi yang lain. Ini sebagaimana yang
dinyatakan oleh Abrams (2012: 365) berikut:
“The short story differs
from the anecdote—the unelaborated narration of a single incident—in`that, like
the novel, it organizes the action, thought, and dialogue of its characters
into the artful pattern of a plot, directed toward particular effects on an audience.”
Berdasarkan
pernyataan Abrams tersebut dapat dipahami bahwa cerpen, meskipun berbentuk
lebih pendek, tetap memiliki kesatuan bentuk dan kekuatan bercerita yang sama
dengan novel. Oleh karena itu, upaya untuk menulis cerpen juga harus bersandar
pada unsur-unsur yang dimiliki oleh prosa-fiksi pada umumnya. Itu sebagaimana
tampak dalam cerpen berjudul Keputusasaan
Perempuan Tua karya Charles Baudelaire berikut:
Kerutan-kerutan
di kulit perempuan tua mungil merasakan kegembiraan melihat bayi yang cantik
yang dibicarakan banyak orang, seseorang yang ingin disenangkan oleh banyak
orang; mahluk yang cantik ini serapuh dirinya, perempuan tua mungil, dan—juga
seperti dirinya—tanpa gigi dan rambut.
Dan ia
menghampiri bayi itu, berencana untuk membuat seutas senyum dan wajah penuh
kegembiraan padanya. Namun, bayi yang takut itu meronta dibelaian perempuan
jompo yang baik itu, dan memenuhi seluruh sudut rumah dengan dengkingannya.
Lantas
perempuan tua yang baik itu berbalik pulang ke kesendiriannya yang abadi, dan
ia menangis di sebuah sudut, berkata kepada dirinya sendiri: “Ah, bagi kami
perempuan-perempuan tua yang buruk, zaman-zaman menyenangkan tanpa rasa
bersalah telah usai; dan yang kami bangkitkan hanyalah kengerian bagi bayi
mungil yang ingin kami cintai!”
Pada cerpen karya Baudelaire
tersebut, unsur-unsur prosa seperti tokoh dan penokohan, alur, latar, bahkan
sudut pandang penceritaan tampak terdapat di dalamnya. Tokoh dan penokohan
dalam cerpen tersebut diperlihatkan dengan hadirnya tokoh perempuan tua dengan
watak yang sabar dan perasa. Alur dalam cerpen tersebut alur maju. Itu tampak
pada perubahan peristiwa dari aksi perempuan tua menggendong bayi, lantas
meletakkannya, untuk kemudia perempuan tua itu pulang ke rumahnya dengan
perasaan sedih. Adapun latar juga tampak pada keberadaan rumah sebagai tempat
terjadinya peristiwa. Begitu juga dengan sudut pandang. Sudut pandang pada
cerpen tersebut menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Itu
disebabkan model penceritaan yang menggunakan model “dia”-an dengan pengarang
sebagai narator yang mengontrol jalannya cerita.
Berdasarkan penjelasan tersebut,
tampak bahwa cerpen, meskipun berbentuk relative ringkas, tetap memiliki
kesatuan bentuk dan unsur-unsur yang sama kompleksnya dengan novel, atau
jenis-jenis prosa yang lain. Ini membuat upaya untuk memahami cerpen, ataupun
menulis cerpen, sama dengan usaha memahami atau menulis novel. Oleh karena itu,
untuk dapat menulis cerpen dengan baik, maka, perlu dipahami lebih mendalam
unsur-unsur yang menyusun sebuah cerpen.
SEJARAH CERPEN
Menurut Klarer (2005: 13) cerpen
merupakan jenis prosa-fiksi yang muncul pertama kali pada abad 18. Kemunculan
cerpen pada abad 18 tersebut dipengaruhi oleh munculnya koran sebagai bacaan
masyarakat di Eropa dan Amerika saat itu. Kebutuhan untuk sedikit mencari
hiburan dari keseriusan penyajian berita di setiap halaman koran, membuat
cerpen menjadi alternative yang dapat membuat pembaca koran sedikit merasa
rileks. Namun, sebagaimana penyajian berita di koran yang berbentuk ringkas dan
ekonomis, cerpen hadir dengan bentuk yang sama: ringkas dan ekonomis. Meskipun
demikian, cerpen tetap berbeda dari bentuk penyajian berita yang lebih bersifat
faktual. Sifat sastra yang berupa kreasi, membuat cerpen tetap hadir dengan
sifat fiksi yang kuat meskipun terdapat di koran.
Namun, kemunculan cerpen pada abad
18 di Eropa dan Amerika tersebut bukannya tanpa faktor-faktor yang
mendahuluinya. Klarer (2005: 12) berpendapat bahwa meskipun cerpen baru muncul
dan menjadi tren di masayarakat pada abad 18, keberadaannya dalam bentuk yang
berbeda telah ada sejak Abad Pertengahan (kisaran abad 5 sampai dengan abad
15). Ini tampak pada kemiripan bentuk yang dimiliki dongeng, ataupun fabel,
juga legenda dengan cerpen. Oleh karena itu, bentuk-bentuk cerita yang telah
ada sejak Abad Pertengahan tersebut dapat dikatakan merupakan akar dari cerpen.
Maka, tidaklah mengherankan apabila kita membaca cerita-cerita fabel semacam Si
Kancil kita akan menemukan cara bercerita yang sama dengan ketika kita membaca
sebuah cerpen.
CIRI DAN UNSUR CERPEN
Sampai di sini, kita, setidaknya,
telah mengetahui pengertian dan sejarah cerpen. Namun, untuk menjadi penulis
cerpen yang baik seseorang juga harus mengetahui unsur-unsur yang terdapat pada
cerpen. Ini agar cerpen yang dibuat seseorang dapat dihadapi dan dipahami
pembaca sebagai cerpen pula. Selain itu, dengan memahami ciri dan unsur cerpen,
seseorang dapat melakukan tindak penulisan atau praktik penciptaan cerpen
dengan luwes dan kreatif. Ini diperlukan agar karya cerpen yang diciptakan
dapat terasa segar dan diminati pembaca.
Ciri Cerpen
Sebagai jenis prosa-fiksi yang
mandiri, cerpen juga memiliki ciri-ciri yang khas yang hanya terdapat padanya.
Menurut Hartoko dan Rahmanto (1986: 152) cerpen memiliki ciri khas yang berbeda
dari novel. Ciri khas pertama, cerpen biasanya memusatkan perhatian
perceritaannya pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada situasi sehari-hari.
Ketersediaan ruang yang pendek, membuat penulis cerpen biasanya hanya melakukan
pemusatan penceritaan pada satu tokoh utama saja. Itu sebagaimana tampak pada sebuah
cerpen yang ditulis oleh Yanusa Nugroho yang berjudul Dua Telinga Saya, Rasanya Cukup (http://daenkfatimah.blogspot.com/2011/12/dua-telinga-saya-rasanya-cukup.html)
.
Ciri khas cerpen yang kedua adalah
penggunaan bahasa yang bersifat sugestif (Hartoko dan Rahmanto, 1986: 152). Secara
umum, bahasa sugestif dapat dipahami sebagai bahasa yang mengandung kekuatan
presuposisi hipnotik, yakni asumsi yang terselubung (dengan sengaja) dan
keberadaan asumsinya tidak bisa dikenali oleh alam sadar/otak kiri secara
alamiah. Ruang cerpen yang kecil menuntut seorang cerpenis menggunakan bahasa
yang dapat membangkitkan imajinasi atau pencitraan di pikiran pembaca secara
efektif tersebut. Ini sebagaimana yang tampak pada sebuah cerpen berjudul Sepotong Senja untuk Pacarku yang
ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (https://sukab.wordpress.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/)
berikut:
Alina
tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin,
debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya
dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga
burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu
lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga
lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada
buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang
paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal
sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.
Adapun
ciri khas ketiga dari cerpen adalah akhir cerita (ending) yang biasanya disajikan terbuka (Hartoko dan Rahmanto,
1986: 152). Open ending atau akhir
cerita terbuka adalah model pengakhiran cerita yang tidak memberikan keputusan
mutlak pada cerita. Kelebihan model pengakhiran cerita seperti ini adalah
memberi kesempatan kepada pembaca untuk memikirkan kelanjutan cerita. Hal itu
karena meskipun cerpen sudah ditutup tetapi seperti masih ada kelanjutan
ceritanya. Efek yang diberikan kepada pembaca bisa berupa sebuah misteri,
pertanyaan, ambigu, dan sebagainya. Cerpen Anjing-anjing
Menyerbu Kuburan karya Kuntowijoyo menjadi sebuah contoh cerpen dengan
ending jenis ini, khususnya memberi efek ambigu pada pembacanya.
Unsur Cerpen
Selain
ciri khas, cerpen juga memiliki unsur-unsur penyusun yang berada di dalamnya.
Dalam studi sastra, unsur-unsur tersebut biasa disebut unsur intrinsik. Menurut
Jakob Sumardjo dan Saini K.M. (1986: 37) cerpen memiliki unsur-unsur intrinsik
yang meliputi alur, tema, tokoh cerita, suasana cerita, latar cerita, sudut
pandang penceritaan, dan gaya pengarang.
Unsur
intrinsik cerpen yang pertama adalah alur. Alur atau Plot adalah unsur
intrinsik cerpen yang menjelaskan mengenai rangkaian peristiwa yang disampaikan
oleh cerpenis untuk membentuk cerita dalam cerpen. Alur cerita memiliki
tahapan-tahapan sebagai berikut:
1.
Tahap perkenalan, yaitu tahapan pengenalan tokoh
dan latar dalam cerpen.
2.
Tahap kemunculan konflik, yaitu tahapan dimana
konflik atau permasalahan mulai muncul dalam cerpen.
3.
Tahap klimaks, yaitu tahapan dimana konflik
berada pada titik puncak. Biasanya pada tahap ini tokoh utama mengalami
kebingungan atau sedih.
4.
Tahap peleraian, yaitu tahap dimana permasalahan
mulai mereda dan terdapat solusi yang diambil oleh tokoh utama.
5.
Tahap penyelesaian, yaitu tahap akhir pada
sebuah cerita pendek. Umumnya tahap ini berakhir dengan kebahagiaan (happy
ending).
Tahap-tahap
di dalam cerpen diatur melalui alur jalan cerita. Alur cerita ini dapat membuat
cerpen menjadi lebih menarik dan membuat penasaran pembacanya (Jakob Sumardjo
dan Saini K.M., 1986: 48-50).
Berikut
ini adalah dua jenis alur yang sering digunakan dalam cerita pendek:
1.
Alur maju, yaitu rangkaian cerita yang bergerak
secara berurutan dimana urutannya adalah pengenalan, munculnya masalah/
konflik, klimaks, peleraian, dan penyelesaian.
2.
Alur mundur, yaitu rangkaian cerita yang
bergerak secara tidak berurutan. Pada alur mundur biasanya pengarang membuatnya
dengan memunculkan konflik terlebih dahulu. Selanjutnya, terlihat beberapa
peristiwa yang menjadi sebab-akibat munculnya konflik tersebut.
Unsur
kedua yang terdapat di dalam cerpen adalah tema. Tema adalah ide cerita. Tema
adalah sesuatu yang ingin disampaikan oleh seorang cerpenis kepada pembaca
melalui cerpen yang diciptakannya. Tema tidak selalu berujud moral atau ajaran
moral. Tema bisa saja hanya berujud hasil pengamatan seorang cerpenis terhadap kehidupan. Seorang cerpenis,
biasanya, menyatakan tema ceritanya secara tersembunyi dalam suatu potongan
perkataan tokoh utamanya, atau dalam satu adegan cerita. Oleh karena itu, tema
cerpen bisa hadir secara tersirat ataupun tersurat. Pemilihan tersebut
didasarkan pada selera pribadi cerpenis (Jakob Sumardjo dan Saini K.M., 1986:
56-58).
Tokoh
cerita adalah unsur instrinsik ketiga dari cerpen. Tokoh merupakan para pemain
atau orang-orang yang terlibat di dalam sebuah cerita pendek. Tokoh cerita
hadir melalui perbuatan, dialog, penggambaran fisik, dan pikiran-pikiran yang
dihadirkan oleh cerpenis pada cerpen. Namun, tokoh dalam cerpen juga dapat
dihadirkan melalui teknik penerangan secara langsung oleh pengarangnya (Jakob
Sumardjo dan Saini K.M., 1986: 63-66). Dalam keberadaannya tokoh dapat dipilah
menjadi beberapa kategori seperti berikut:
A.
Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu
1.
Tokoh sentral protagonis. Tokoh sentral
protagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan
nilai-nilai pisitif.
2.
Tokoh sentral antagonis. Tokoh sentral antagonis
adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis
atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
B.
Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung
atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu
1.
Tokoh andalan. Tokoh andalan adalah tokoh bawahan
yang menjadi kepercataan tokoh sentral (protagonis atau antagonis).
2.
Tokoh tambahan. Tokoh tambahan adalah tokoh yang
sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita.
3.
Tokoh lataran. Tokoh lataran adalah tokoh yang
menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.
C.
Berdasarkan cara menampikan perwatakannya, tokoh
dalam cerita dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
1.
Tokoh datar/ sederhana/ pipih. Yaitu tokoh yang
diungkapkan atau disoroti dari satu segi watak saja. Tokoh ini bersifat statis,
wataknya sedikit sekali berubah, atau bahkan tidak berubah sama sekali
(misalnya tokoh kartun, kancil, film animasi).
2.
Tokoh bulat/ komplek/ bundar. Yaitu tokoh yang
seluruh segi wataknya diungkapkan. Tokoh ini sangat dinamis, banyak mengalami
perubahan watak.
Unsur
intrinsik cerpen yang keempat adalah suasana cerita. Suasana cerita adalah perasaan
atau suasana kejadian peristiwa dalam cerpen itu terjadi. Suasana cerita juga
dapat dipahami sebagai latar yang berhubungan dengan situasi atau kondisi
ketika terjadinya peristiwa dalam cerita. Contoh Latar Suasana adalah saat
gembira, saat galau, saat sedih, saat kecewa dan lain sebagainya.
Latar cerita adalah unsur instrinsik
cerpen kelima yang harus ada dalam setiap cerpen. Latar tidak saja berarti
tempat terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita, tetapi juga daerah tertentu,
orang-orang tertentu dengan watak-watak tertentu akibat situasi lingkungan atau
zaman tertentu, cara hidup tertentu, cara berpikir tertentu. Latar harus
menyatu dengan kisah dan perwatakan tokoh.
Ada 3
jenis latar/setting yang utama yakni latar tempat, latar waktu dan latar
suasana seperti yang dijelaskan sebagai berikut (Jakob Sumardjo dan Saini K.M.,
1986: 75-81):
1.
Latar tempat yaitu menjelaskan dimana peristiwa
dalam novel terjadi, misalnya di rumah, di sekolah, di kota, di jalan dan
sebagainya.
2.
Latar waktu yaitu menjelaskan kapan peristiwa
dalam novel terjadi, misalnya saat pagi hari, malam hari, kemarin, keesokan
harinya dan sebagainya.
3.
Latar suasana yaitu menjelaskan bagaimana
gambaran suasana saat peristiwa dalam novel terjadi, bisa berkaitan dengan
perasaan tokoh juga, misalnya suasana ramai, suasana tegang, suasana sedih dan
sebagainya.
Unsur
intrinsik cerpen keenam adalah sudut pandang atau point of view. Pengertian
sudut pandang adalah cara pandang pengarang dalam menceritakan kisahnya dalam cerpen.
Secara umum ada 2 jenis sudut pandang dalam novel yakni sudut pandang orang
pertama dan sudut pandang orang ketiga sebagai berikut.
1.
Sudut pandang orang pertama yaitu cara pengarang
menyampaikan cerita sebagai orang pertama. Ciri-cirinya adalah menggunakan kata
ganti orang pertama seperti aku, kami dan sebagainya.
2.
Sudut pandang orang ketiga cara pengarang
menyampaikan cerita sebagai orang ketiga. Ciri-cirinya adalah menggunakan kata
ganti orang ketiga seperti dia, mereka dan sebagainya.
Gaya
bahasa merupakan unsur inrinsik cerpen yang ketujuh. Gaya bahasa adalah ciri
khas pemilihan kata dan bahasa yang digunakan oleh penulis. Artinya cerpenis
tentu memiliki gaya bahasa yang berbeda-beda. Gaya bahasa bisa berupa pemilihan
kata, penggunaan kalimat, penghematan kata, pemakaian majas dan sebagainya.
TEKNIK MENULIS CERPEN
Setiap cerpenis memiliki teknik
penulisan atau penciptaan cerpen yang berbeda-beda dan khas. Namun, secara umum
teknik menulis cerpen dapat dipilah menjadi empat teknik besar, yakni teknik
tema, teknik tokoh, teknik bebas, dan teknik kerangka karangan. Adapun di
antara keempat teknik tersebut tidak ada yang lebih baik, semuanya baik.
Pemilihan teknik penciptaan didasarkan pada selera penulisnya atau cerpenisnya.
Teknik tema adalah teknik penciptaan
cerpen yang menitikberatkan penciptaannya pada tema. Pada teknik ini, seorang
cerpenis mula-mula menetapkan tema yang hendak diangkat dalam cerpennya. Pada teknik ini, perhitungan mengenai tepat
atau tidaknya tema yang hendak disampaikan menjadi pertimbangan mendasar yang
utama.
Berbeda dengan teknik tema, teknik
tokoh adalah teknik penulisan cerpen berdasarkan tokoh yang diminati oleh
seorang cerpenis. Teknik ini pernah digunakan oleh Budi Darma dalam menulis
cerpen-cerpennya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington. Seorang cerpenis yang hendak menulis
dengan menggunakan teknik ini harus memiliki gambaran untuh mengenai perwatakan
dan profil fisik tokoh yang hendak diangkat dalamnya. Biasanya, cerpenis yang
menggunakan teknik ini tidak terlalu memperdulikan apakah tema yang diangkatnya
cukup menarik atau aktual. Profil tokoh yang menjadi pusat perhatian dan pemicu
kreativitas penciptaan cerpen yang diciptakan oleh cerpenis tersebut.
Teknik bebas merupakan teknik
berikutnya yang biasa digunakan cerpenis dalam menciptakan karya cerpennya.
Teknik bebas adalah teknik penciptaan cerpen yang membiarkan cerita hadir tanpa
batas. Pada teknik ini, seorang cerpenis biasanya hanya berdasar pada cerita
yang ingin disampaikan. Tema dan tokoh tidak terlalu diperdulikan. Teknik ini
juga banyak digunakan oleh cerpenis Indonesia, salah satunya adalah Eka
Kurniawan.
Adapun teknik keempat adalah teknik
kerangka karangan. Seorang cerpenis bisa saja melakukan pemetaan cerita sebelum
dia menulis utuh cerpennya. Dalam teknik penciptaan cerpen model ini, seorang
cerpenis membuat bagan alur cerita sehingga cerpen yang ditulisnya tidak
melenceng jauh dari kehendak cerpenisnya. Namun, teknik ini memiliki
kekurangan. Biasanya cerpen yang hadir dengan teknik ini memiliki cerita yang
sudah terencana dengan baik. Dampaknya sisi misteri cerita yang kerap membuat
pembaca tertarik pada cerita tidak muncul. Pembaca bisa dengan mudah menebak
akhir cerita.
SUMBER INSPIRASI CERITA
Dalam tindak penciptaan karya
sastra, sumber inspirasi menjadi hal penting. Sumber inspirasi menjadi pemicu
awal yang memungkinkan seseorang dapat melakukan tindak penciptaan karya
sastra. Begitu juga pada tindak penciptaan cerpen. Seorang cerpenis haruslah
memiliki inspirasi yang membuatnya bersemangat atau memiliki tenaga untuk
menciptakan cerpen. Tenaga penciptaan itulah yang nantinya dapat menginspirasi
pembaca cerpen yang diciptakan oleh cerpenis tersebut. Dengan kata lain, semakin
kuat daya inspirasi yang diterima oleh cerpenis, semakin kuat pula cerpen
ciptaannya dapat menginspirasi pembacanya.
Inspirasi cerita bisa diperoleh oleh
cerpenis dari banyak hal atau tempat. Sumber inspirasi bisa berasal dari
kehidupan yang dijalani oleh cerpenisnya sendiri. Hal tersebut sebagaimana yang
dialami oleh Pidi Baiq ketika menciptakan karya novelnya yang berjudul Dilan. Bagi Pidi Baiq kisah hidupnya
atau riwayat hidupnya merupakan sumber inspirasi menarik yang dapat membuatnya
untuk menciptakan sebuah novel. Namun, inspirasi yang menjadi sumber penciptaan
cerpen juga dapat berasal dari sumber yang lain.
Buku juga dapat menjadi sumber
inspirasi yang bagi seorang cerpenis. Pembacaan sebuah buku kerap kali memiliki
kesan yang mendalam bagi seseorang. Kesan yang mendalam tersebut dapat membuat
seseorang untuk tergerak melakukan kerja penulisan ulang dengan kreativitas
yang dimilikinya. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh pengarang Amerika yang
terkenal, Jorge Luis Borges. Borges ketika mengarang cerpennya yang berjudul Ibnu Hakkan Al-Bokhari Mati di
Dalam Labirinnya Sendiri terinspirasi oleh cerita yang dia baca dalam
Al-Quran. Pada intinya, sebenarnya, terdapat banyak sumber inspirasi yang dapat
dijadikan pemicu awal bagi seorang cerpenis untuk menciptakan karya cerpennya.
PENUTUP
Menulis cerpen merupakan tindakan
yang dapat meningkatkan kreativitas kita sebagai manusia, karena dalam menulis
cerpen kita diajak untuk meningkatkan kemampuan kita tidak saja dalam hal
berpikir, tetapi juga mengamati, dan merasakan. Maka, menulis cerpen menjadi
elemen penting bagi terwujudnya kemampuan kreatif manusia. Meskipun demikian,
untuk menjadi seorang cerpenis hal yang pertama harus dilakukan adalah menulis
cerpen. Penguasaan teknik penulisan cerpen bukanlah syarat pertama yang harus
dimiliki. Namun, niat menulis cerpen itulah yang menjadi dasar terciptanya
sebuah cerpen. Maka, menulis cerpen, menulis cerpen, dan menulis cerpen
merupakan kegiatan yang harus dilakukan apabila dia ingin menjadi seorang
cerpenis.
DAFTAR PUSTAKA
Abrams,
M.H.. 2012. Glossary of Literary Terms.
Boston: Wadsworth.
Hartoko,
Dick dan B. Rahmanto. 1986. Pemandu di
Dunia Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Klarer,
Mario. 2005. Introduction to Literary
Study. London: Routledge.
Sumardjo,
Jakob dan Saini K.M.. 1986. Apresiasi
Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.