Rabu, 06 April 2011

MEMBACA TREN TEORI-TEORI SASTRA MUTAKHIR

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Seni dan Budaya, Kidung, Edisi 16 2009.

MEMBACA TREN TEORI-TEORI SASTRA MUTAKHIR*)

Oleh: David Carter

Sepertinya telah muncul perasaan yang sama di antara para teoritikus bahwa seluruh era teori, atau setidaknya masa keemasannya, mungkin akan berakhir. Belakangan ini banyak pembahasan yang mengindikasikan dasar munculnya perasaan tersebut. Ada, sebagai contoh, kumpulan esai yang dieditori oleh Martin McQuillan dan lain-lainnya yang berjudul Theory: New Directions in Criticism (1999) dan dua karya dengan judul yang sama After Theory, yang satu oleh Thomas Docherty dan yang satunya lagi oleh Terry Eagleton (keduanya dipublikasikan di tahun 2003). Beberapa teoritikus memutuskan bahwa inilah saat untuk mengembalikan kritik kepada analisis teks sastra secara mendetail. Jonathan Culler, dalam esainya What Left of Theory? (2000), berargumen bahwa inilah saat untuk ‘melakukan penggalian kembali sastra di dalam kesusastraan’, dan Valentine Cunningham, dalam Reading After Theory (2002), menyatakan perlunya untuk kembali kepada metoda pembacaan dekat terhadap teks. Tetapi Terry Eagleton, dalam After Theory (2003), berargumentasi bahwa teori kultural, dengan implikasi teori sastranya, telah senantiasa membaca teks-teks tersebut secara dekat. Meskipun ada beberapa yang hadir kacau dan kurang memiliki tujuan baru yang kuat bila dilihat dari sudut pandang teoritikal, beberapa kegelisahan telah dikristalkan ke dalam kecenderungan khusus, yang dapat diidentifikasikan dan, bahkan, dinamai.

Historisime Baru

            Sebuah definisi yang sangat berguna dari historisisme baru diberikan oleh Jhon Brannigan dalam New Historicism and Cultural Materialism (1998). Ia mendeskripsikan new historicism sebagai ‘suatu model kritik interpretasi yang keistimewaan relasi kuasanya sebagai konteks yang paling penting dari segala macam teks…’ dan ‘…hal ini memberlakukan teks sastra sebagai sebuah ruang di mana relasi kuasa menjadi tampak’. Kuasa yang diacukan di sini adalah, tentu saja, yang diusulkan oleh Foucault yang berupa penggunaan diskursus, memperbolehkan subjek untuk percaya bahwa ia, baik lelaki ataupun perempuan, bebas dan berhak untuk menciptakan keputusan yang otonom. Periode kesejarahan sebuah teks haruslah dikaji dalam detail-detailnya untuk dapat menetapkan relasi kuasa apakah (atau, dalam istilah Foucault, praktek diskursif) yang beroperasi dan bagaimana hal-hal tersebut mempengaruhi teks. Historisisme baru mencari evidensinya di mana-mana, tidak hanya terbatas pada teks. Segala hal yang merupakan bagian dari sebuah kultur dapat dianalisis layaknya sebuah teks. Intertekstualitas (penelusuran hubungan antar teks-teks) oleh karena itu merupakan perhatiannya yang utama. Terry Eagleton dengan tepat menulis: ‘…historisisme baru dipersiapkan dalam semangat pluralis untuk menguji sembarang topik dalam keseluruhannya selama ia muncul dengan tiba-tiba dalam karya-karya Michael Foucault (Literary Theory, 2002).
            Seorang praktisi utamanya, Stephen Greenblatt, dalam bukunya Resonance and Wonder (1990), menyatakan bahwa ‘historisisme baru, sebagaimana yang saya pahami darinya, tidaklah menempatkan proses kesejarahan sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah dan tak terelakkan, akan tetapi ia cenderung untuk mengetahui batas atau kendala atas intervensi individual…’ Sebuah kritisisme utama yang diarahkan pada historisisme baru adalah bahwa para praktisinya buta terhadap kondisi yang memengaruhi cara pandang mereka sendiri. Untuk beberapa tingkatan, argumentasi mereka senantiasa merupakan produk personal dan situasi sosial mereka sendiri dan dapat tidak pernah mencapai sebentuk objektivitas yang sepertinya mereka harapkan.
            Historisisme baru menciptakan sebuah bentuk kritik analisis yang besar yang utamanya menaruh perhatian pada kesusastraan Romantik dan Renaisans. Mereka mengeksplorasi, sebagai contoh, cara-cara drama-drama Shakespeare bertindak di luar kekuasaan struktur monarki Tudor, merefleksikan dominasi diskursus masyarakat kontemporer. Meskipun, ide-ide subversif secara berkesinambungan dieksplorasi dalam drama-drama Shakespeare, ide ini senantiasa dimuati dengan diskursus kendali dari era tersebut. Mereka tidak menjadi revolusioner. Kritik Marjorie Levinson melihat sebuah karya dalam konteks zamannya dan direlasikan pada diskursus yang mendominasi, tetapi tidak menempatkannya sebagai sebuah kekontemporeran atau cara pandang dari penulisnya: tujuannya adalah ‘untuk mengetahui sebuah karya bukan sebagai karya, atau sebagai pembacanya yang asali, atau apa yang diketahui oleh penulisnya’ (Wordsworth’s Great Period Poems, 1986).

Materialisme Kultural

            Materialisme kultural dikembangkan di Inggris sebagai sebuah bentuk yang secara politis lebih radikal ketimbang historisisme baru. Bagi mereka gagasan-gagasan Foucault menyatakan ketidakstabilan yang besar dalam kuasa struktur diskursus ketimbang dirasakan oleh kaum historisisme baru. Mereka mendasarkan diri pada model kultural dalam gagasan Raymond Williams yang lebih dinamis, sebagaimana yang diformulasikan pada tahun 1997 (dalam Marxism and Literature). Eagleton mendefinisikan materialisme kultural yang dibenihkan oleh Williams sebagai ‘sebuah bentuk analisis yang mempelajari kultur sebagai satu set monumen artistik yang terisolasi ketimbang sebagai formasi material’ lengkap dengan ‘audensi yang dapat diidentifikasi, kondisi kesejerahan bentuk-pikiran’ mereka sendiri dsb. Bagi Eagleton, materialisme kultural juga merupakan semacam bentuk yang menjembatani antara Marxisme dan postmodernisme dan, layaknya historisisme baru, mengambil topik-topik bahasan yang memiliki ruang yang lebar, termasuk feminisme, orientasi seksual, etnik dan isu-isu postcolonial. Perhatiannya yang lain (seperti yang terdapat dalam beberapa tulisan karya Jonathan Dollimore dan Alan Sinfield) adalah pada cara-cara bagaimana sastra-sastra lama difungsikan dan ditanggapi para periode setelahnya. Sinfield juga mengeksplorasi dugaan-dugaannya atas ‘hubungan kecacatan’ dalam sastra, atau kontradiksi pada ideologi yang dapat ditemukan dalam teks. Dan Michael Bristol mengambil konsep ‘karnaval’ Bakhtin dan mengaplikasikannya pada kultur Renaisans di Inggris. Karnaval adalah contoh utama dari bagaimana kultur popular dapat bertahan untuk beroposisi terhadap sesuatu yang resmi. Karnaval, klaim Bristol, juga menipu simbol kekuasaan, meskipun kritisisme di tempatkan berlawanan dengan argumentasinya bahwa karnaval tak dapat menjadi sebuah strategi oposisi yang efektif karena hal ini, dalam kenyataannya, tak lebih dari olok-olok yang dipersetujukan. Ini hanyalah sebuah jalan keluar bagi rasa frustasi dan kebusukannya haruslah disingkirkan.

Kritisisme Genetik

            Kritisisme genetik mencari evidensi tekstual yang diniatkan seorang penulis yang dapat dibuktikan dan menganalisis faktor-faktor yang mendeterminasi sifat-sifat teks jadi sebagaimana teks tersebut berkembang dari manuskrip lantas menjadi sebuah buku. Kritisisme genetik juga mempelajari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh penyensoran dan perevisian. Ia mencoba untuk mengarasi secara tepat apa yang dapat dengan sah dikatakan mengenai sebuah teks. Kritik Jean-Michael Rabate begitu dekat dihubungkan dengan formulasi dari prinsip-prinsip yang dijalankan pemerintah.

Estetikisme Baru

            Nama Estetikisme Baru diciptakan oleh Jhon Joughlin dan Simon Malpas dalam The New Aestheticism (2003). Argumentasi mereka menekankan pada pengembangan dalam teori kultural yang menuntun mereka sampai pada gagasan-gagasan dari ‘sebuah karya seni’ yang telah hilang. Kritik tidak lagi menaruh perhatiannya secara spesial pada ‘pengertian seni sebagai sebuah objek analisis…’ Kritik-kritiknya mendukung estetikisme baru untuk tidak memanggil kembali bentuk pendekatan dari ‘seni hanya untuk seni semata’ tetapi menegaskan bahwa mereka ingin untuk mempertalikan pengertian baru dari bentuk estetika kepada sebuah kesadaran dari konteks sosial dan perhatian yang bersifat politik. Jhon Brenkman dalam Extreme Criticism (2000), terpanggil untuk melakukan pendekatan lebih pada kajian mengenai hubungan antara sisi dalam bentuk dan sisi duniawi dari sebuah teks. Dalam The Radical Aesthetic (2000) Isobel Armstrong menganjurkan untuk mengasaskan ‘estetika demokratik’, yang menurutnya mungkin karena kita semua berbagi komponen estetika kehidupan yang sama seperti bermainan dan bermimpi. Thomas Docherty, dalam bukunya After Theory (1997), memperkenalkan sebuah pendekatan baru pada kaidah-kaidah sastra dalam pengajaran dan kultur secara general. Dalam teori estetikisme baru, popularitas dan aksesibilitas akan terlihat implisit jika tidak merupakan semboyan yang eksplisit. Eksponen-eksponennya menekankan pada karangan-karangan yang ideal dalam penjajakan yang bagus terhadap kata-kata. Ini menyisakan agar melihat apakah sebuah koherensi kerangka teori kritik yang menyangga cita-cita ideal ini akan muncul.

Ekokritisisme

            Dalam The Guardian, edisi 30 Juli 2005, sebuah artikel yang ditulis oleh Robert Macfarlane hadir dengan judul ‘Where the Wild Things Are’. Di halaman dengan pada bagian ‘Review’ diperlihatkan fotonya dengan kepala judul ‘The Landscape Library: Robert Macfarlane on Ecoclassics’. Di dalam artikelnya, Macfarlane menganjurkan kepada semua perspektif baru untuk menaruh perhatiannya pada tempat di mana seharusnya studi sastra dan kesusastraan menaruh perhatiannya yang utama. Dalam esainya yang lebih awal, ia mengusulkan penempatan dan pempublikasian dari sebuah perpustakaan dari sifat-sifat karya tulis klasik yang berasal dari Inggris dan Irlandia:’…akan merupakan satu jilid karya tulis lokal, yang dipusatkan di tempat-tempat yang terpisah, dan yang senantiasa dikaryakan untuk membedakan, tak pernah dimaksudkan untuk digeneralisasikan’. Berbagai buku, dengan maksud agar dapat dimasukkan, ‘harus menunjukkan dengan jelas keyakinan bahwa takdir kemanusiaan dan takdir alam tidaklah dapat dipisahkan’. Dan lingkungan alamiah haruslah didekati ‘tidak dengan cara pandang penaklukan, ketamakan dan kegunaan, tetapi merujuk pada prinsip-prinsip pengendalian dan timbal-balik’. Marcfarlane secara esensial mengawali proses pembentukan suatu kanon yang bersifat kesadaran ekologi pada kesusastraan Inggris, yang disajikan sebagai dasar dari pendekatan ekokritik terhadap studi sastra.
            Di Amerika konsep ‘ekokritisisme’ dapat ditelusuri ke belakang, paling tidak pada esai karya William Rueckert yang ditulis tahun 1978, yang berjudul Literature and Ecology: An Experiment in Ecocriticism. Konsepnya untuk beberapa waktu terbaring terbengkalai sampai Cheryll Burgess Glotfelty membangunkan kembali proyek tersebut melalui pempublikasian penelitian-penelitian pada lapangan tersebut, yang ia dieditori bersama Harold Fromm di bawah judul The Ecocriticism Reader: Landmarks in Literary Ecology (1996). Pada tahun 1992, dibentuk Asosiasi Studi Sastra dan Lingkungan, dengan memiliki jurnal, newsletter dan website. Sepertinya masih belum ada kesepakatan antara apa yang dikonstitusikan sebagai ‘ekokritisisme’. Beberapa sarjana mengklaim bahwa hal tersebut menambahkan ‘tempat’ kategori baru di antara ras, kelas, gender dsb, sebagai sebuah perspektif untuk menganalisis kesusastraan. Kritik Lawrence Buell menyatakan bahwa dalam teori telah ada cukup lama ‘sebuah garis pemisah antara teks dan fakta’. Ekokritisisme mengisi garis pemisah itu: ‘Ekokritisisme menganggap ada suatu realitas ekstra-tekstual yang memengaruhi manusia dan artefaknya—dan seluruh kebijaksanaannya’. Glen A Love (University of Oregon) pernah berkata: ‘Inilah saatnya untuk melakukan penyembuhan pada pelanggaran-pelanggaran antara sains berat dan kemanusiaan—dan teori sastra tidak sedang melakukan hal itu’. Beberapa esai dalam The Ecocriticism Reader, bagaimanapun juga, menyatakan bahwa teori-teori Foucault dan Said relevan pada studi lingkungan yang merupakan konstruksi kultural itu sendiri.
            Pada kata pengantarnya pada jilid yang sama Glofelty dan Fromm mendefinisikan ekokritisisme sebagai ‘studi hubungan antara sastra dan lingkungan fisik.’ Ekokritik mengajukan beberapa pertanyaan seperti: ‘Bagaimana alam direpresentasikan dalam sonet ini? Kaidah apakah yang dimainkan oleh latar fisik dari novel ini? Apakah nilai-nilai yang diekspresikan dalam drama ini konsisten dengan kebijaksanaan yang bersifat ekologi?’ dsb. Pertanyaan-pertanyaan lainnya adalah ‘Apakah lelaki berbeda dengan perempuan ketika menuliskan tentang alam?’ Tidak mengejutkan, ini menuntun kita pada sub-kategori dari ekokritisisme yang dikenali sebagai ‘ekofeminisme’ dengan antologinya dari perempuan penulis alam. Louise H Westling dari University of Oregon, bagaimanapun juga, menaruh perhatiannya tentang bagaimana ekofeminisme menitikberatkan dirinya pada cara bagaimana gender direfleksikan dalam penggambaran lanskap dan percaya bahwa hal tersebut menguatkan tradisi yang menganggap bahwa bumi adalah betina dan siapa pun yang menggunakannya dan mendominasinya laki-laki: ‘Tanah bukanlah seorang perempuan. Tetapi berasal dari waktu lampau, para penulis menggunakan imaji feminine untuk membenarkan penaklukannya.’

 



*) Tulisan ini diterjemahkan oleh Indra Tjahyadi dari tulisan David Carter yang berjudul Recent Trends dalam David Carter, Literary Theory (Herts: Pocketessential, 2006), hlm. 133-140.

1 komentar:

  1. Ecocriticism berarti teori yang masih muda daripad ateori2 lainnya :)

    BalasHapus