Rabu, 27 April 2011

SOSIOLOGI SASTRA DI ERA POSMODERN

SOSIOLOGI SASTRA DI ERA POSMODERN
Oleh: Indra Tjahyadi

Muncul dan merebaknya model-model kajian posmodernian  di dalam ranah kajian sastra Indonesia saat ini mengakibatkan menugunya anggapan bahwa model kajian inilah yang paling revelan untuk mengkaji dan memahami fenomena sastra Indonesia saat ini. Padahal, jika kita pindai lebih luas dan cermat serta mendalam, banyak teori-teori, metode, pendekatan, dan model kajian dalam studi sastra yang masih relevan digunakan untuk mengkaji fenomena dalam sastra Indonesia, salah satunya adalah Sosiologi Sastra.

Sastra dan Studi Sastra

Secara umum, apa yang kita kenal sebagai sastra terdiri dari dua ruang lingkup, yakni sastra sebagai karya kreatif dan sastra sebagai ilmu. Sastra sebagai karya kreatif berbeda dengan sastra sebagai ilmu (Wellek, 1990: 3). Menurut Darma (2004: 1) ruang lingkup sastra sebagai karya kreatif adalah kreativitas penciptaan, sedangkan ruang lingkup sastra sebagai ilmu adalah karya sastra sebagai objeknya. Dengan demikian, perbedaan di antara keduanya adalah jika sastra sebagai karya kreatif berfokus pada kreativitas, sedangkan sastra sebagai ilmu berfokus pada ruang lingkup keilmuan sastra.

Munculnya perbedaan fokus ini, lanjut Darma (1990: 1), mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi yang berbeda pula. Jika sastra sebagai karya kreatif bertanggung jawab pada estetika, sedangkan sastra sebagai ilmu bertanggung jawab pada logika ilmiah.

Sebagai ilmu, sastra (atau yang lazim disebut studi sastra), tidak hanya menawarkan kebhinekaan teori, metode, dan pendekatan, tetapi juga menawarkan kebhinekaan model kajian. Masing-masing teori, metode, pendekatan, dan model kajian ini memiliki fokusnya masing-masing. Sosiologi Sastra adalah salah satu teori, metode, pendekatan, dan model kajian yang ditawarkan oleh kebhinekaan yang dimiliki oleh studi sastra.Tetapi, kiranya, sebelum berbicara secara panjang lebar mengenai Sosiologi Sastra, ada baiknya, kita melihat dulu dengan cermat hubungan antara sastrawan, sastra, dan masyarakat.

Sastrawan, Sastra, dan Masyarakat

Korelasi antara sastrawan, sastra, dan masyarakat merupakan hal yang tidak dapat dielakkan. Damono (dalam Manuaba, 2008: 1) menegaskan bahwa
"Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, difahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat; ia terikat oleh status sosial tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium; bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial."

Hubungan antara sastrawan, sastra, dan masyarakat, juga dilihat oleh Luxemburg dan kawan-kawan. Bagi Luxemburg dan kawan-kawan (1992: 23):
"Sastra dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis pada waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma dan adat istiadat zaman itu. Pengarang menggubah karyanya selaku seorang warga masyarakat dan menyapa pembaca yang sama-sama dengan dia merupakan warga masyarakat ...."


Mengenai hubungan antara sastrawan, sastra, dan masyarakat , Tjahyadi dalam esainya yang berjudul "Puisi dan Masyarakat" mengemukakan bahwa sastra merupakan produk masyarakat. Sastra berada di tengah-tengah masyarakat. Ia dilahirkan atas desakan ontologis, epistemologis, dan aksiologis masyarakatnya.

Pemikiran ini memunculkan pemahaman bahwa fenomena sastra tidak dapat hanya dipahami melalui teks sastra sebagai sesuatu yang otonom sebab ia dibentuk oleh kondisi sosial masyarakat teks sastra tersebut diciptakan. Maka, dalam memahami sastra, seorang publik sastra harus dimulai dari penglihatan atas fungsi, kedudukan, interelasi, dan interaksi antara teks sastra dan masyarakatnya.

Masyarakat dan zaman secara keseluruhan merupakan konteks bagi teks sastra. Goldamann (dalam Tjahyadi, 2000) mengemukakan bahwa sastra merupakan ekspresi puncak kesadaran yang mungkin dari masyarakat. Ia merupakan produk dari pandangan dunia yang ada dalam suatu masyarakat. Ia merupakan pemindahan imajiner Weltanschauung dari suatu masyarakat.

Sosiologi Sastra

Adanya fakta hubungan antara sastrawan, sastra, dan masyarakat mendesak studi sastra untuk menawarkan satu bentuk teori, metode, pendekatan, ataupun model kajian yang mampu memahami fakta tersebut. Teori, metode, pendekatan, dan model kajian itu adalah Sosiologi Sastra.

Sosiologi Sastra merupakan satu disiplin yang tidak terlampau lama. Sebagai satu disiplin yang mandiri, Sosiologi Sastra muncul pada kisaran abad 18. Kemunculan Sosiologi Sastra di ranah studi sastra ditandai dengan tulisan Madame de Stael (Ratna, 2004: 331).

Sosiologi Sastra, merujuk pada Wellek dan Warren (dalam Semi, 1989: 53), adalah suatu telaah sosiologis terhadap suatu karya sastra. Sebagai sebuah pendekatan, ia merupakan pendekatan dalam studi sastra yang menggunakan pendekatan sosial dalam menelaah karya sastra (Suroso, 2009: 22).

Sebagai suatu perspektif, Sosiologi Sastra menawarkan sesuatu yang khas, yang berbeda dari teori-teori, metode-metode, pendekatan-pendekatan, dan model kajian sastra yang lain. Kekhasan perspektif ini salah satunya adalah pada tidak adanya pengkategorisasian antara sastra serius dan sastra populer. Menurut Manuaba (2008: 3) tidak dilakukannya pengkategorisasian ini karena dalam pandangan Sosiologi Sastra semua karya sastra memiliki fungsi dan pendukungnya masing-masing.

Sosiologi Sastra memandang sastra sebagai produk kebudayaan pada suatu zaman dan tempat tertentu. Dalam arti bahwa setiap karya sastra merupakan hasil dari kerja dipengaruhi dan memengaruhi antara sastrawan, sastra, dan masyarakat.

Sosiologi Sastra tertarik pada keragaman. Ia merupakan perayaan atas keberagaman yang muncul atau dimunculkan oleh sastra. Ini diperlihatkan oleh Sosiologi Sastra lewat tidak adanya pengkategorisasian sastra serius dan pop, high culture dan low culture dalam Sosiologi Sastra.

Tidak adanya pengkategorisasian ini merupakan fakta bahwa Sosiologi Sastra menerima keragaman. Bagi Manuaba (2008: 5) penerimaan yang semacam ini karena Sosiologi sastra mengakui bahwa setiap karya sastra memiliki pembacanya sendiri-sendiri, dan memiliki fungsinya yang masing-masing.

Penerimaan dan ketertarikan pada keanekaragaman ini, Manuaba (2008: 5) mengemukakan, membuat Sosiologi Sastra cenderung untuk menghindari menilai karya sastra. Bagi para peneliti Sosiologi Sastra sastra, apa pun ragamnya, merupakan data ilmuah yang sama nilainya, dan yang perlu diuji maknanya secara sosiologis. Oleh karena itu, dalam Sosiologi Sastra tidak ada nilai tinggi dan rendah, yang ada hanya pemahaman bahwa sastra itu beragam. Pemahaman dan pandangan inilah, tegas Manuaba (2008: 6), yang menjadi nilai lebih pada Sosiologi Sastra.

Klasifikasi dalam Sosiologi Sastra

Sosiologi Sastra adalah cabang ilmu sastra yang mendekati sastra dari hubungannya dengan kenyataan sosial. Sosiologi sastra memerhatikan baik pengarang, proses penulisan maupun pembaca, serta teks itu sendiri (Hartoko, 1986: 129).

Menurut Wellek dan Warren (dalam Semi, 1989: 53) sosiologi sastra memiliki tiga klasifikasi, yakni: sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra, dan sosiologi sastra. Masing-masing klasifikasi ini memiliki pokok-pokok bahasannya masing-masing yang berbeda antara satu sama lainnya. Persamaan mereka hanya pada bahwa ketiga melihat sastra dari perspektif sosiologis.

Klasifikasi Sosiologi Sastra yang pertama adalah sosiologi pengarang. Sosiologi pengarang merupakan klasifikasi sosiologi sastra yang menaruh perhatian utamanya pada faktor-faktor sosial pengarang dalam hubungannya dengan teks sastra yang dia ciptakan. Klasifikasi ini mempermasalahkan tentang status sosial, ideologi politik, dan pelbagai hal yang menyangkut diri pengarang (Wellek dan Warren dalam Semi, 1989: 53).

Dalam klasifikasi Sosiologi Sastra ini menitikberatkan kajiannya pada pengarang. Dengan menyelidiki pelbagai data yang berkaitan dengan pengarang, model kajian ini berusaha mengungkap pandangan dunia atau ideologi pengarang.

Ini dapat dilakukan dengan jalan mengelaborasi data-data yang berkaitan dengan pengarang seperti hasil wawancara dengan pengarang, ataupun pelbagai laporan aktivitas dan karya-karya yang membicarakan pengarang tersebut, juga karya-karya yang diciptakan oleh pengarang tersebut. Apabila pengarang yang hendak diteliti sudah meninggal, wawancara antara peneliti dengan pengarang boleh tidak dilakukan, diganti dengan wawancara dengan mereka yang pernah mengenal pengarang tersebut.

Sosiologi karya sastra adalah klasifikasi dalam sosiologi sastra yang berikutnya. Sosiologi karya sastra adalah klasifikasi Sosiologi Sastra yang mempermasalahkan mengenai suatu karya sastra. Pokok kajian klasifikasi ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikan oleh karya sastra tersebut (Wellek dan Warren dalam Semi, 1989: 53).

Klasifikasi Sosiologi Sastra ini menitik beratkan kajiannya pada karya sastra. Ia hendak mengungkap aspek sosiologis dari karya sastra sebagai sebuah teks. Dan ini dilakukan dengan jalan melakukan inklusi dan ekslusi terhadap data-data yang didapat berkaitan dengan teks. Inklusi dan ekslusi ini penting untuk memilah mana data-data yang dapat digunakan sebagai sumber rujukan kajian atau penelitian, dan mana yang tidak.

Klasifikasi Sosiologi Sastra yang terakhir adalah sosiologi sastra. Klasifikasi ini memasalahkan mengenai pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat (Wellek dan Warren dalam Semi, 1989: 53). Klasifikasi ini disebut juga sosiologi pembaca.

Sosiologi pembaca ini menitikberatkan kajiannya pada pembaca. Dan ini dilakukan bersandar dan berdasar pada data-data yang berkaitan dengan teks yang menjadi objek kajian dan para pembaca teks tersebut. Klasifikasi model ini berkaitan dengan fungsi sosial sastra. Oleh karena itu, konteks pembaca juga menjadi hal yang penting dalam klasifikasi ini.

Relevansi Sosiologi Sastra di Era Posmodern

Era posmodern adalah era di mana keragaman dirayakan. Era di mana logosentris dan diterminasi struktural menemui kritiknya. Era posmodern adalah era di mana segala hal yang hirarkis diruntuhkan.

Seperti juga posmodern, Sosiologi Sastra adalah sebentuk teori, metode, pendekatan, dan model kajian yang juga merayakan keragaman. Ia, sebagaimana posmodern, juga tidak menganggap pentingnya dikotomis yang hirarkis pada sastra. Inilah titik relevansi Sosiologi Sastra di era posmodern seperti saat ini.

Dengan bersandar pada Sosiologi Sastra, femonena sastra di era posmodern yang merayakan keragaman, keruntuhan dikotomis hirarkis dapat dipahami dan diungkap. Maka, kemungkinan-kemungkinan pengetahuan sastra akan kembali terbuka, dan menemukan kebaruan-kebaruannya, kemutakhiran-kemutakhirannya, karena Sosiologi Sastra menggiriang studi sastra masuk ke dalam dunia sosial, dunia (meminjam istilah Laclau dan Mouffe) yang dipenuhi oleh titik-titik antagonisme dan perjuangan antara yang determinan dan yang kontingen.

Daftar Pustaka

Darma, Budi. 2004. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional.

Hartoko, Dick, dan B. Rahmanto. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Jogjakarta: Kanisius.

Luxemburg, Jan van, Mieke Bal, dan Willem G. Weststeijn. 1992. Pengantar Ilmu Sastra.
Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.

Manuaba, Putera. 2008. "Sosiologi Sastra dan Penerapannya" dalam Materi Kegiatan
Penerapan Sosiologi Sastra di Balai Bahasa Surabaya.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Jogjakarta:
Pustaka Pelajar.

Semi, Atar. 1989. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.

Suroso, Puji Santosa, Pardi Suratno. 2009. Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi.
Jogjakarta: Elmatera Publishing.

Tjahyadi, Indra. 2000. "Puisi dan Masyarakat" dalam Surabaya Post, 26 November 2000.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani
Budianta. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar