Rabu, 02 Januari 2013

KESADARAN MULTIKULTURALISME DALAM SASTRA



KESADARAN MULTIKULTURALISME DALAM SASTRA
Oleh: Indra Tjahyadi*)

Seorang sastrawan peraih Hadiah Nobel berdarah Yahudi, Imre Kartesz, pernah menyatakan bahwa tindak penciptaan sastra merupakan kegiatan privat, sesuatu yang pribadi. Artinya tindak penciptaan sastra seorang sastrawan dilakukan untuk melayani atau memenuhi kebutuhan seorang sastrawan itu sendiri. Ini disebabkan karena seorang sastrawan menulis bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk dirinya sendiri.
Bagi seorang sastrawan, dunia adalah kenyataan objektif yang senantiasa berada di luar dirinya. Dunia sebagai kenyataan objektif adalah sesuatu yang terpisah dari diri seorang sastrawan. Keterpisahan ini mengakibatkan adanya jarak antara sastarawan dengan dunia. Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa seorang sastrawan dalam tindak penciptaan sastranya tidak berangkat dari kenyataan, hanya saja kenyataan yang tampil dihadapan seorang sastrawan bukanlah kenyataan objektif tetapi kenyataan subjektif.
Kenyataan subjektif adalah kenyataan objektif yang telah mengalami persinggungan dengan hal-hal yang personal dari seseorang. Ia merupakan hasil dari perbenturan antara represi kenyataan objektif dan resistensi eksistensialis seseorang. Persinggungan dan perbenturan tersebut akhirnya memproduksi sebuah dunia, suatu kenyataan yang memiliki pemaknaan yang berbeda dengan yang disodorkan oleh kenyataan objektif. Keberbedaan ini karena pemaknaan kenyataan subjektif adalah pemaknaan yang sifatnya pribadi.
Adapun sifat pribadi ini mengakibatkan munculnya kebergandaan pemaknaan terhadap sebuah kenyataan yang berusaha dihadirkan dalam sebuah karya sastra. Sebagai contoh tengok saja puisi karya Mashuri yang berjudul Hotel itu Bernama Surabaya:

selat itu menyekat pipih geografi, kau menyebutnya: Surabaya
kota yang terbaca dari titik kecil: noktah hitam di peta,
di pinggir delta, di tepi laut Jawa
kau berhayat di antara kiblat-kiblatnya
ketika kita bertemu tanpa sekat, lalu kau
melihat sebarisan malaikat ---di Ampel, di Bungkul, berjamaat
atau tak terangkul di seberang semak-keramat
tapi aku terasing, buta, serupa pejalan yang tak sempat
melihat ujung tubuh: ber-Hujung Galuh, be-ruh
aku pun tak mampir berlabuh, tak parkir ke riuh
: bongkar-muat, ganti cawat, atau angkat sauh

kau tetap saja berkisah dengan angka, tahun-tahun
tapi aku seperti tersekat di seperempat abad pertama
pasca 1900: saat segala genap menjadi ganjil
dan segala luapan demikian gigil
saat gelora masih membenih di asa: meletup ke degup
indra, seperti pelari dengan api
yang tak redup, meski hati terseret ke jalan-jalan mati
jalan penuh mimpi!

lalu kau sebut 45: aku pun tersudut ke ruang nganga,
aku tak ingat sungguhkah gaung itu meraung
demikian agung; adakah tonggak: lingga yang menancap
tanah demikian tegap; lalu kau acungkan sahwat
: o, pahlawan, pahlawanku bertugu

tapi aku pun seasing budak belian kembali,
ketika segala temali mengikatku lagi
kutapaki jalan-jalan penuh hantu, perempatan berbatu
kulihat mercu suar membubung tinggi, berkabut
aku terpana ke pesona
: di lorong-lorong renjana
aku dipersilah dengan pantun penuh gairah:

“Tanjung Perak, kapale kobong!
Mangga pinarak, kamare kosong!”*

kau pun beringsut, seperti seorang yang mengigau
tapi aku bersorak, tanpa risau:
“inilah Surabaya, hotel tempat singgah
tapi bukan tempat berlibur, atau mengubur darah
segalanya lembur
seperti juga kapal-kapal yang berhenti lalu
berangkat, berganti-ganti
di sini, segala ranjang tak cukup dipandang
tapi dierami
silahkan merangkak, sebab segala sprei tak sengak
tak ada jerami, tak ada jejak
kecuali apak selangkang sendiri, yang kumal
ketika segala kemudi kembali ke asal
ke tujuan awal
di sini, kamar telah menjadi bujur sangkar
dan tak kenal lingkaran”

kau pun turun, menghitung kesunyian demi kesunyian
tapi biografi telah terbelah, garis-garis itu saling patah
kau dapati dirimu batu
tak berayah-beribu ---kau sangsikan jejak
-jejak panjang, segepok riwayat nan keropok
ihwal pertempuran di delta
antara ikan-buaya
lalu segalanya menjadi nama
kota, jalan, kampung, sungai, juga lorong-lorong keparat
tempat buaya darat bermunajat…
kau pun sangsikan segala sebab; kerna tak ada warta
yang lebih nyata kecuali kata-kata dusta
yang diulang ke berjuta

aku pun tersampir seperti gombal lusuh
di pinggir lenguh ---aku tak hirau pada riuh
sejarah ingatanmu
kudapati tubuhku, kurayakan tubuhku
seperti persinggahan di tengah perjalanan
yang tak mengenal kenang
kenanganku pun hilang bersama sunyi
: perempuan
yang selalu berharap diairi, di semak, di makam
di rumah-rumah yang berjajar dengan geletar

ketika kau mabuk
dan ambruk kedalaman luka tak berufuk
: silam!
kuangkat bir hitam, kuingat pada anak terkutuk
: diriku!
aku bangkit, kuangkat sauh, kulenguh langit
: “beri aku harapan untuk berlayar ke cakrawala
tanpa rasa luka oleh perih kenang dan ingat”

di seberang, kubangun kota-kota di hatiku
dengan batu-batu yang kucuri dari persinggahanku
agar aku tidak melupakanmu,
melupakan angka-angka
yang sempat kau hitung dengan deret aritmatika
yang tak kunjung kau ketahui jumlahnya
---kecuali waktu yang terus berputar
kau tetap tak tak ingin sesat di silam
dan terbenam bersama jangkar malam
: kini telah 180 derajat berputar
tak ada alasan untuk membangun sangkar

moga di milenium ini, kau tak lagi terpaku
pada paku silammu
tapi mengandangkannya di kalbu
lalu kau tulis deret rumus baru
: bahwa zaman telah berganti
hotel itu harus diperbarui, dicat dan pugar kembali
atau disucikan api…

Surabaya, 2006/9
* Di Tanjung Perak, kapal dilalap api
silahkan singgah sejenak, kamarnya tak berpenghuni

(Mashuri, Hotel Itu Bernama Surabaya)

Dalam puisi karya Mashuri tersebut Surabaya hadir dengan gambaran yang ironis. Dalam artian, bahwa Surabaya adalah sebuah entitas yang stagnan padahal zaman telah berubah. Selain itu, ironisitas juga ditampilkan dengan betapa rasa asing begitu kuat dirasakan para pendatangnya. Bagi para pendatang tersebut, Surabaya bukanlah wilayah yang menawarkan kenyamanan atau keramahan. Bagi mereka, Surabaya hanyalah tempat singgah. Istirahat sejenak. Rehat tanpa perlu bertegur sapa.
Ini berbeda dengan puisi Kentrung Jancukan karya F. Aziz Manna yang merepresentasikan Surabaya sebagai sebuah domain hunian meskipun tidak menawarkan kenyamanan akan tetapi tetap dihuni dengan rasa riang gembira:

Kramat Gantung pinggir Gemblongan
ini kentrung, kentrung jancukan

saat matahari begitu jalang
nyocok-cucuki pepunggung kuli bangunan
tramtib berdentam
ram tam tam ram tam tam
njebol warung pinggir jalan

dan kendaraan tetap ngerayap
mobil gilap, motor, bemo, becak
nyelonong setopan, nyerundul uyel-uyelan
awas Cak, ini kentrung, kentrung jancukan

ada yang nangis sesenggukan
ada yang ngos-ngosan, ada pentungan, kayu bongkotan
ada juga yang bawa kelewang, bawa parang
bagi yang berada lima kaki dari jalanan
ini bukan pilem murahan
ini kentrung, kentrung jancukan

beberapa pejalan gegas tergesa
megal-megol-naik-turun pinggulnya
dicethot kondektur angkot
            Auw!  
malah ada yang ketawa

dan panas pun tumpah di Surabaya
di bedak-bedak pasar di Surabaya
di sudut-sudut trotoar di Surabaya
seorang bungkuk
merunduk-runduk
nyanyikan kisah cintanya yang keseruduk
Mak, ini kentrung, kentrung jancukan

dedaun garing reranting ceking
yun terayun jatuh di aspal
bah bedebah biarkan saja
biar seluruh kota porak poranda
sebab kata lenyaplah sudah
aum amuk jadi bahasa
percayalah, ini kentrung, kentrung jancukan

ketika lampu mulai dinyalakan
berapa perempuan langsung berdandan
syahdan, di selempitan gang di Surabaya
saat semua orang sibuk takbiran, sibuk ngurusi kuelebaran
seorang perempuan  ditusuk turuknya

Kramat Gantung pinggir Gemblongan
ini kentrung, kentrung jancukan

(F. Aziz Manna, Kentrung Jancukan)

Dari kedua contoh kasus di atas, dapat ditarik pemahaman bahwa tindak penciptaan sastra seorang sastrawan senantiasa berdasar pada kenyataan, akan tetapi kenyataan tersebut bukanlah kenyataan objektif melainkan kenyataan subjektif. Karena kenyataan tersebut subjektif, maka pemaknaan atas kenyataan tersebut meskipun berakar pada kenyataan yang sama akan tetapi dapat menghasilkan produksi makna yang berbeda. Jika diibaratkan kenyataan objektif itu merupakan penanda kosong dalam tesis Ernesto Laclau sedangkan kenyataan subjektif itu tidak lain adalah penanda mengambang yang siap mengisi penanda kosong tersebut.
Adapun penanda mengambang ini jumlahnya sebanyak jumlah benak manusia sebagai pribadi. Oleh karena itu, pemaknaan atas penanda kosong itu tidak pernah bersifat tetap, senantiasa ada fluktuasi dan dinamika pemaknaan atas sebuah penanda kosong. Maka, Surabaya sebagai penanda kosong bisa berarti apa saja, bermakna apa pun, bergantung pada penanda mengambang yang mengisinya.
Selain keterikatan seorang sastrawan dengan kenyataan dan keberagaman pemaknaan, hal lain yang dapat disimpulkan dari fenomena tersebut adalah bahwa telah tumbuh dan diterimanya oleh publik sastra Indonesia kesadaran seorang sastrawan sebagai seseorang yang bersifat pribadi, privat, dan personal. Lebih jauh, dapat ditarik pemahaman, bahwa fenomena ini memperlihatkan adanya kesadaran pentingnya pengakuan hak-hak manusia sebagai individu.
Kesadaran multikulturalisme adalah kesadaran di mana identitas manusia sebagai individu menemukan pengakuannya. Dalam wacana multikultural, keberagaman budaya merupakan faktor penting terciptanya wacana tersebut. Dengan menerima keberagaman budaya maka dapat dikatakan kesetaraan hak hidup, termasuk berekspresi dan bereksistensi, juga telah diakui. Bagi sastrawan, itu semua hanya dapat dicapai apabila seseorang kembali kepada dirinya sebagai seorang individu, seorang pribadi. Karena, bagaimana pun juga, wacana multikultur adalah wacana yang berangkat dari pemahaman penting pengakuan atas hak-hak yang bersifat periferal dan minoritas.
Di dalam kehidupan yang serba otoritatif dan massif, kesadaran individu adalah kesadaran yang terpinggirkan, kesadaran yang minoritas. Ia tidak lebih narasi-narasi kecil yang berserakan yang tidak diakui keberadaannya. Oleh wacana multikulturalisme kesadaran semacam itu berusaha dibongkar. Oleh karena itu, wacana politik multikultur sangat dekat dengan wacana politik liberal karena pengakuan keberagaman hanya dapat terjadi apabila setiap orang memiliki hak suaranya masing-masing. Terbebas dari represi. Terbebas dari tendensi otoritatif penguasa.

*) penulis adalah anggota Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar