KESADARAN MULTIKULTURALISME DALAM SASTRA
Oleh: Indra
Tjahyadi*)
Seorang
sastrawan peraih Hadiah Nobel berdarah Yahudi, Imre Kartesz, pernah menyatakan
bahwa tindak penciptaan sastra merupakan kegiatan privat, sesuatu yang pribadi.
Artinya tindak penciptaan sastra seorang sastrawan dilakukan untuk melayani
atau memenuhi kebutuhan seorang sastrawan itu sendiri. Ini disebabkan karena
seorang sastrawan menulis bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk dirinya
sendiri.
Bagi
seorang sastrawan, dunia adalah kenyataan objektif yang senantiasa berada di
luar dirinya. Dunia sebagai kenyataan objektif adalah sesuatu yang terpisah
dari diri seorang sastrawan. Keterpisahan ini mengakibatkan adanya jarak antara
sastarawan dengan dunia. Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa seorang
sastrawan dalam tindak penciptaan sastranya tidak berangkat dari kenyataan,
hanya saja kenyataan yang tampil dihadapan seorang sastrawan bukanlah kenyataan
objektif tetapi kenyataan subjektif.
Kenyataan
subjektif adalah kenyataan objektif yang telah mengalami persinggungan dengan
hal-hal yang personal dari seseorang. Ia merupakan hasil dari perbenturan
antara represi kenyataan objektif dan resistensi eksistensialis seseorang.
Persinggungan dan perbenturan tersebut akhirnya memproduksi sebuah dunia, suatu
kenyataan yang memiliki pemaknaan yang berbeda dengan yang disodorkan oleh
kenyataan objektif. Keberbedaan ini karena pemaknaan kenyataan subjektif adalah
pemaknaan yang sifatnya pribadi.
Adapun
sifat pribadi ini mengakibatkan munculnya kebergandaan pemaknaan terhadap
sebuah kenyataan yang berusaha dihadirkan dalam sebuah karya sastra. Sebagai
contoh tengok saja puisi karya Mashuri yang berjudul Hotel itu Bernama Surabaya:
selat itu
menyekat pipih geografi, kau menyebutnya: Surabaya
kota yang terbaca
dari titik kecil: noktah hitam di peta,
di pinggir
delta, di tepi laut Jawa
kau berhayat di
antara kiblat-kiblatnya
ketika kita
bertemu tanpa sekat, lalu kau
melihat
sebarisan malaikat ---di Ampel, di Bungkul, berjamaat
atau tak
terangkul di seberang semak-keramat
tapi aku
terasing, buta, serupa pejalan yang tak sempat
melihat ujung
tubuh: ber-Hujung Galuh, be-ruh
aku pun tak
mampir berlabuh, tak parkir ke riuh
: bongkar-muat,
ganti cawat, atau angkat sauh
kau tetap saja
berkisah dengan angka, tahun-tahun
tapi aku seperti
tersekat di seperempat abad pertama
pasca 1900: saat
segala genap menjadi ganjil
dan segala
luapan demikian gigil
saat gelora
masih membenih di asa: meletup ke degup
indra, seperti
pelari dengan api
yang tak redup,
meski hati terseret ke jalan-jalan mati
jalan penuh
mimpi!
lalu kau sebut
45: aku pun tersudut ke ruang nganga,
aku tak ingat
sungguhkah gaung itu meraung
demikian agung;
adakah tonggak: lingga yang menancap
tanah demikian
tegap; lalu kau acungkan sahwat
: o, pahlawan,
pahlawanku bertugu
tapi aku pun
seasing budak belian kembali,
ketika segala
temali mengikatku lagi
kutapaki
jalan-jalan penuh hantu, perempatan berbatu
kulihat mercu
suar membubung tinggi, berkabut
aku terpana ke
pesona
: di
lorong-lorong renjana
aku dipersilah
dengan pantun penuh gairah:
“Tanjung Perak,
kapale kobong!
Mangga pinarak,
kamare kosong!”*
kau pun
beringsut, seperti seorang yang mengigau
tapi aku
bersorak, tanpa risau:
“inilah
Surabaya, hotel tempat singgah
tapi bukan
tempat berlibur, atau mengubur darah
segalanya lembur
seperti juga
kapal-kapal yang berhenti lalu
berangkat,
berganti-ganti
di sini, segala
ranjang tak cukup dipandang
tapi dierami
silahkan
merangkak, sebab segala sprei tak sengak
tak ada jerami,
tak ada jejak
kecuali apak selangkang
sendiri, yang kumal
ketika segala
kemudi kembali ke asal
ke tujuan awal
di sini, kamar
telah menjadi bujur sangkar
dan tak kenal
lingkaran”
kau pun turun,
menghitung kesunyian demi kesunyian
tapi biografi
telah terbelah, garis-garis itu saling patah
kau dapati
dirimu batu
tak
berayah-beribu ---kau sangsikan jejak
-jejak panjang,
segepok riwayat nan keropok
ihwal
pertempuran di delta
antara
ikan-buaya
lalu segalanya
menjadi nama
kota, jalan,
kampung, sungai, juga lorong-lorong keparat
tempat buaya
darat bermunajat…
kau pun
sangsikan segala sebab; kerna tak ada warta
yang lebih nyata
kecuali kata-kata dusta
yang diulang ke
berjuta
aku pun
tersampir seperti gombal lusuh
di pinggir
lenguh ---aku tak hirau pada riuh
sejarah
ingatanmu
kudapati tubuhku,
kurayakan tubuhku
seperti
persinggahan di tengah perjalanan
yang tak
mengenal kenang
kenanganku pun
hilang bersama sunyi
: perempuan
yang selalu
berharap diairi, di semak, di makam
di rumah-rumah
yang berjajar dengan geletar
ketika kau mabuk
dan ambruk
kedalaman luka tak berufuk
: silam!
kuangkat bir
hitam, kuingat pada anak terkutuk
: diriku!
aku bangkit,
kuangkat sauh, kulenguh langit
: “beri aku
harapan untuk berlayar ke cakrawala
tanpa rasa luka
oleh perih kenang dan ingat”
di seberang,
kubangun kota-kota di hatiku
dengan batu-batu
yang kucuri dari persinggahanku
agar aku tidak
melupakanmu,
melupakan
angka-angka
yang sempat kau
hitung dengan deret aritmatika
yang tak kunjung
kau ketahui jumlahnya
---kecuali waktu
yang terus berputar
kau tetap tak tak
ingin sesat di silam
dan terbenam
bersama jangkar malam
: kini telah 180
derajat berputar
tak ada alasan
untuk membangun sangkar
moga di milenium
ini, kau tak lagi terpaku
pada paku
silammu
tapi
mengandangkannya di kalbu
lalu kau tulis
deret rumus baru
: bahwa zaman
telah berganti
hotel itu harus
diperbarui, dicat dan pugar kembali
atau disucikan
api…
Surabaya, 2006/9
* Di Tanjung
Perak, kapal dilalap api
silahkan singgah
sejenak, kamarnya tak berpenghuni
(Mashuri, Hotel Itu Bernama Surabaya)
Dalam
puisi karya Mashuri tersebut Surabaya hadir dengan gambaran yang ironis. Dalam
artian, bahwa Surabaya adalah sebuah entitas yang stagnan padahal zaman telah
berubah. Selain itu, ironisitas juga ditampilkan dengan betapa rasa asing
begitu kuat dirasakan para pendatangnya. Bagi para pendatang tersebut, Surabaya
bukanlah wilayah yang menawarkan kenyamanan atau keramahan. Bagi mereka,
Surabaya hanyalah tempat singgah. Istirahat sejenak. Rehat tanpa perlu bertegur
sapa.
Ini
berbeda dengan puisi Kentrung Jancukan
karya F. Aziz Manna yang merepresentasikan Surabaya sebagai sebuah domain
hunian meskipun tidak menawarkan kenyamanan akan tetapi tetap dihuni dengan
rasa riang gembira:
Kramat Gantung pinggir Gemblongan
ini kentrung, kentrung jancukan
saat matahari begitu jalang
nyocok-cucuki pepunggung kuli bangunan
tramtib berdentam
ram tam tam ram tam tam
njebol warung pinggir jalan
dan kendaraan tetap ngerayap
mobil gilap, motor, bemo, becak
nyelonong setopan, nyerundul uyel-uyelan
awas Cak, ini kentrung, kentrung jancukan
ada yang nangis sesenggukan
ada yang ngos-ngosan, ada pentungan,
kayu bongkotan
ada juga yang bawa kelewang, bawa parang
bagi yang berada lima kaki dari jalanan
ini bukan pilem murahan
ini kentrung, kentrung jancukan
beberapa pejalan gegas tergesa
megal-megol-naik-turun pinggulnya
dicethot kondektur angkot
Auw!
malah ada yang ketawa
dan panas pun tumpah di Surabaya
di bedak-bedak pasar di Surabaya
di sudut-sudut trotoar di Surabaya
seorang bungkuk
merunduk-runduk
nyanyikan kisah cintanya yang keseruduk
Mak, ini kentrung, kentrung jancukan
dedaun garing reranting ceking
yun terayun jatuh di aspal
bah bedebah biarkan saja
biar seluruh kota porak poranda
sebab kata lenyaplah sudah
aum amuk jadi bahasa
percayalah, ini kentrung, kentrung
jancukan
ketika lampu mulai dinyalakan
berapa perempuan langsung berdandan
syahdan, di selempitan gang di Surabaya
saat semua orang sibuk takbiran, sibuk
ngurusi kuelebaran
seorang perempuan ditusuk turuknya
Kramat Gantung pinggir Gemblongan
ini kentrung, kentrung jancukan
(F. Aziz Manna, Kentrung Jancukan)
Dari
kedua contoh kasus di atas, dapat ditarik pemahaman bahwa tindak penciptaan
sastra seorang sastrawan senantiasa berdasar pada kenyataan, akan tetapi
kenyataan tersebut bukanlah kenyataan objektif melainkan kenyataan subjektif.
Karena kenyataan tersebut subjektif, maka pemaknaan atas kenyataan tersebut
meskipun berakar pada kenyataan yang sama akan tetapi dapat menghasilkan
produksi makna yang berbeda. Jika diibaratkan kenyataan objektif itu merupakan
penanda kosong dalam tesis Ernesto Laclau sedangkan kenyataan subjektif itu
tidak lain adalah penanda mengambang yang siap mengisi penanda kosong tersebut.
Adapun
penanda mengambang ini jumlahnya sebanyak jumlah benak manusia sebagai pribadi.
Oleh karena itu, pemaknaan atas penanda kosong itu tidak pernah bersifat tetap,
senantiasa ada fluktuasi dan dinamika pemaknaan atas sebuah penanda kosong.
Maka, Surabaya sebagai penanda kosong bisa berarti apa saja, bermakna apa pun,
bergantung pada penanda mengambang yang mengisinya.
Selain
keterikatan seorang sastrawan dengan kenyataan dan keberagaman pemaknaan, hal
lain yang dapat disimpulkan dari fenomena tersebut adalah bahwa telah tumbuh
dan diterimanya oleh publik sastra Indonesia kesadaran seorang sastrawan
sebagai seseorang yang bersifat pribadi, privat, dan personal. Lebih jauh,
dapat ditarik pemahaman, bahwa fenomena ini memperlihatkan adanya kesadaran
pentingnya pengakuan hak-hak manusia sebagai individu.
Kesadaran
multikulturalisme adalah kesadaran di mana identitas manusia sebagai individu
menemukan pengakuannya. Dalam wacana multikultural, keberagaman budaya
merupakan faktor penting terciptanya wacana tersebut. Dengan menerima
keberagaman budaya maka dapat dikatakan kesetaraan hak hidup, termasuk
berekspresi dan bereksistensi, juga telah diakui. Bagi sastrawan, itu semua
hanya dapat dicapai apabila seseorang kembali kepada dirinya sebagai seorang
individu, seorang pribadi. Karena, bagaimana pun juga, wacana multikultur
adalah wacana yang berangkat dari pemahaman penting pengakuan atas hak-hak yang
bersifat periferal dan minoritas.
Di
dalam kehidupan yang serba otoritatif dan massif, kesadaran individu adalah
kesadaran yang terpinggirkan, kesadaran yang minoritas. Ia tidak lebih
narasi-narasi kecil yang berserakan yang tidak diakui keberadaannya. Oleh
wacana multikulturalisme kesadaran semacam itu berusaha dibongkar. Oleh karena
itu, wacana politik multikultur sangat dekat dengan wacana politik liberal
karena pengakuan keberagaman hanya dapat terjadi apabila setiap orang memiliki
hak suaranya masing-masing. Terbebas dari represi. Terbebas dari tendensi
otoritatif penguasa.
*)
penulis adalah anggota Forum Studi Sastra
dan Seni Luar Pagar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar