Rabu, 06 April 2011

WACANA POSTKOLONIAL DALAM SASTRA

Tulisan ini pernah dimuat di harian Surabaya News, 17 November 2002

WACANA POSTKOLONIAL DALAM SASTRA

Oleh: Indra Tjahyadi



Postkolonial merupakan suatu tipe kritik kultural yang berkembang setelah era kolonialisme berakhir. Postkolonial menitikberatkan kajiannya pada apa-apa yang terkena kolonisasi. Postkolonial berusaha melihat sejauh mana kolonisasi tersebut mempengaruhi, atau bahkan membentuk dan menciptakan suatu imaji dan mitos atas kultur mereka yang terkena kolonisasi.

            Pada umumnya postkolonial memperbincangkan masalah kritik terhadap Eropa atas kolonisasinya terhadap dunia di luar dirinya. Karena selama kolonisasi terjadi, Eropa senantiasa merupakan tonggak utama dari kejadian kolonisasi tersebut. Dan postkolonial berusaha menghapuskan dominasi sang superior (dalam kasus ini kerap kali yang menjadi acuannya adalah Eropa) terhadap mereka yang terdominasi.

            Menurut Homi K. Babha, postkolonial memperlihatkan bagaimana suatu kultur tertentu mengalami (mis)representasi terhadap kultur-kultur selain dia, yang mana kultur tertentu tersebut senantiasa menjadi sesuatu dominasi atas kultur-kultur selain dia tersebut.

Postkolonial juga melihat bagaimana sebuah proyek de-teritorialisasi atas sebuah teritori yang diinisasikan oleh proyek Imperialisme. Postkolonial melihat akibat-akibat dari terjadinya usaha dekolonisasi pada tempat-tempat yang terkena kolonisasi tersebut. Dan bagaimana usaha dekolonisasi tersebut membentuk karakter kultur atas mereka yang terkeda dan mengalami kolonisasi tersebut, seperti yang ditulis Frantz Fanon dalam bukunya "The Wretched of the Earth" (1961).

Menurut Ross Morfin dan Supriya M. Ray dalam esainya "Definition of Postcolonial Crticism", kritik postkolonial dipengaruhi oleh khazanah Marxis, karya-karya Michel Foucault, dan juga dekosntruksi. Dan hal tersebut, menurut mereka, dapat dilihat dari usaha kritik postkolonial untuk melakukan penghapusan terhadap hirarki. Serta pengembalian akan kesetaraan atas dunia. sehingga tidak lagi ada dominasi yang satu dengan yang lainnya. Karena semuanya setara dan tidak saling pinggir atau meminggirkan.

Bagi dunia sastra, diskursus postkolonial adalah bukan hal yang asing atau aneh sekali. Bagi sastra, diskursus postkolonial adalah salah satu mata yang membantunya untuk mengenali dirinya (maksudnya sastra) kembali. Karena postkolonial, dalam kerja kritiknya, senantiasa menggunakan analisis teks sastra dalam usahanya. Hanya saja kerap kali analisis teks sastranya diperuntukkan untuk karya-karya yang muncul dari tempat-tempat yang terkena kolonisasi. Dan hal tersebut dapat dilihat dari usaha-usaha Edward Said dalam bukunya "Kebudayaan dan Kekuasaan" yang senantiasa menggunakan teks-teks sastra untuk melakukan kajian kritik postkolonial.

Dari penuturan di atas tersebut, maka adalah bukan hal yang mengherankan apabila dalam kajian postkolonial akan banyak ditemukan karya-karya yang muncul dari Dunia Ketiga, yang mana ia merupakan obyek kolonisasi dari Dunia Pertama.

Sebutlah nama-nama seperti Aime Cesaire, Salman Rushdie, Octavio Paz, Ngugi Wa Thiong'o, Ben Okri, Rene Depestre, Arundhati Roy, Bharati Mukherje, yang merupakan sebagian nama-nama dari banyak para sastrawan di dunia yang terpinggirkan, yang terdominasi dan dieksploitasi oleh Eropa, yang mengangkat atau dipengaruhi diskursus postkolonial dalam setiap karya yang diciptakannya.

Dalam dunia sastra Indonesia, postkolonial dapat juga digunakan untuk melihat fenomena sastra yang timbul di dalam dirinya. Karena seperti juga negara-negara Dunia Ketiga lainnya, Indonesia juga membawa hantu kolonialisme dalam setiap ingatan sejarahnya. Dan hal tersebut, entah sadar atau tidak, juga turut membentuk dan mempengaruhi setiap perilaku dan kultur orang-orang Indonesia. Seperti pada novel-novel karya Pramudya Ananta Toer, Mochtar Loebis, ataupun Mas Marco.

Pada akhirnya, bangkitnya wacana postkolonial di dunia telah membuat keberadaan Dunia Terpinggirkan menemukan kesetaraannya dengan Dunia yang Meminggirkan. Dan lewat kritik postkolonial hal tersebut diperlihatkan dan terlihatkan dengan seksama bagaimana dunia-dunia yang terpinggirkan mengalami evolusi kulturnya masing-masing. Dan hal tersebut diperlihatkan melalui analisis teks sastra postkolonial. Karena sebagai bagian dari wacana besar postmodern, postkolonial juga senantiasa menempatkan sastra dan seni sebagai titik utama kajiannya. Terutama karya-karya yang muncul dari dunia yang terkolonisasi dan oleh penulis yang berada di dalam dunia terkolonisasi tersebut.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar