Senin, 22 Agustus 2011

PUISI DI TENGAH MASYARAKAT KRISIS

PUISI DI TENGAH MASYARAKAT KRISIS 
Oleh: Indra Tjahyadi*)
(Jurnal Nasional, 15 Juni 2008)

Puisi tidak lahir dari kekosongan. Ia lahir dari totalitas pengalaman estetika manusia dalam relasinya dengan realitas dunia, yang kemudian dimaterialkan dalam bentuk jalinan kata-kata (yang indah), yang memiliki daya guna bagi kelangsungan hidup peradaban manusia. Antara puisi dan di dunia ia dilahirkan senantiasa memiliki hubungan yang tak terpungkiri. Suatu pertalian yang sangat erat dan saling bersikait antara satu dengan lainnya.
            Realitas dunia adalah tempat pengetahuan-pengetahuan, pengalaman-pengalaman artistik dan kreatif milik seorang penyair ditempa dan dimatangkan. Untuk kemudian dilebur menjadi satu manifestasi total yang baru, yang dengan “campur tangan” realitas dunia menjadi satu material yang mencakup seluruh eksistensi manusia dalam relasi dan keberadaannya dengan dunia. Oleh sebab itu usaha untuk meniadakan relasi antara puisi dan dunia dengan realitasnya adalah hal yang sangat naif dan mengaburkan kebenaran yang ada.
Meskipun demikian kita tidak boleh secara gegabah dan serampangan menyatakan bahwa puisi adalah sekedar “tiruan” atau “refleksi” dari alam. Sebab, merujuk pada Karl Marx, seorang pemikir besar zaman modern, puisi sebagai bagian dunia yang perlu dibedakan dari kerja manusia, tentu bukanlah sekedar “tiruan” atau “refleksi” atas relitas eksternal, melainkan lebih jauh merupakan upaya memasukkan realitas ke dalam tujuan-tujuan manusia, karena ia melukiskan manusia yang secara alamiah, menjadikan aktivitas hidup manusia sebagai obyek kesadarannya. Dalam kata lain, puisi senantiasa berelasi dengan relitas dunia. Ia tidaklah semata-mata merupakan mimetik dari dunia eksternal, karena dalam puisi realitas internal, yang merupakan totalitas pengalaman estetika manusia, lebur dengan realitas eksternal yang merupakan kenyataan yang ada di luar manusia sebagai diri. Hal ini tak lain dan tak bukan karena puisi, sebagaimana seni pada umumnya, tidak hanya mimetik dengan maksud utilitarian secara langsung, selalu saja ada unsur-unsur di dalam puisi yang mengandung tujuan di dalam dirinya sendiri.
            Di dalam peradaban masyarakat krisis, di mana segala nilai sosial, politik, dan kebudayaan tengah mengalami degradasi dan kerunyamannya seperti saat ini, kita tidaklah dapat menyatakan secara diktatoris-dogmatis bahwa puisi-puisi yang muncul seharusnya berpegang pada komitmen sosial yang berpegang pada kegelisahan yang muncul dari realitas keseharian, sebab pemikiran semacam ini sama saja dengan mengingkari keberadaan realitas internal sebagai salah satu faktor yang juga penting dan utama dalam fakta dan proses penciptaan puisi.
            Masyarakat krisis adalah masyarakat yang telah tercerabut dari nilai-nilai dan norma-norma yang telah dipercayaiannya. Nilai-nilai ataupun norma-norma yang dulu menjadi pegangan hidup dalam menjalani kehidupan kini seakan-akan tak lagi dapat dipercaya, bahkan dapat dikatakan telah hilang dan menemukan pengasingannya dalam realitas keseharian. Ini berdampak pada hilang dan terasingkannya eksistensi yang telah mereka bangun dan miliki selama ini, sehingga ia mengalami semacam kebuntuan, kesesatan, bahkan kegelapan dalam menjalankan tugasnya sebagai “pejalan di muka bumi”.
            Bagi puisi, keadaan yang demikian tersebut mengakibatkan munculnya dua dampak yang tak terelakkan, yakni: (a) di satu sisi ingin melarikan diri dan lebur dalam keasingan, dan (b) di lain sisi berada pada jalur pencarian kembali eksistensi dengan jalan mempertanyakan kembali keberadaannya, dunia dan realitasnya secara frontal. Akan tetapi meski kedua dampak tersebut terlihat agak berseberangan, sebenarnya, keduanya masih menyimpan satu persamaan yang tak dapat dipungkiri, yakni: bahwa keduanya mengandung semangat dan nilai resistensi atas dunia dan realitasnya yang mengingkari dan mengasingkannya.
            Ya. Nilai dan semangat resistensi atas dunia dan realitasnya adalah hal yang khas yang muncul dalam peradaban masyarakat krisis. Dalam pemikiran kaum neo-marxis, nilai dan semangat resistensi yang tumbuh kembang dalam peradaban masyarakat krisis pada akhirnya senantiasa memunculkan dua tipologi pemahaman estetika. Yang pertama, adalah estetika sebagai ruang bebas otonom, tempat orang berekspresi di tengah segala macam penindasan dan keterkungkungan. Pada tipologi ini, puisi menjelma sebuah wilayah “tak bertuan” tempat manusia menjadi kreator yang bisa menciptakan makna yang nampaknya tak ada dalam dunia empiris yang sedang kacau balau dan penuh kontradiksi.
Di dalam wilayah ini, seorang penyair bisa merekonstruksi makna secara subyektif, tanpa terlalu peduli pada objektivitas dan relevansi langsung dari momen-momen realitas dunia. Hal ini menjadikan puisi dapat dipahami sebagai jalan pembebasan, suatu wahana kreatifitas manusia yang ditolak oleh sistem hidup sehari-hari. Sebab ia memuat kekuatan-kekuatan dan daya transendensi, serta kekuatan untuk mengambil jarak dengan kehidupan sosial yang represif, serta mengemban nilai otonomi dalam dirinya sendiri, dan senantiasa tidak berpretensi untuk membawa perubahan atau revolusi masyarakat. Pendeknya, puisi menjadi mimpi masyarakat ideal. Suatu kondisi yang begitu diidam-idamkan oleh masyarakat krisis.
Tipologi yang kedua adalah estetika sebagai alat untuk meneriakkan resistensi, momen korektif dan protes terhadap masyarakat, dan pendorongan ke arah perubahan. Dalam pemahaman tipologi ini, puisi berdiri pada titik di mana ia menjadi sarana untuk mewujudkan kembali dunia yang utuh. Di sini, penyair tidak tenggelam dalam kesempitan dunianya sendiri, karena ia tidak menjadi pasif, dan tidak hanya memperhatikan gerak perubahan jiwanya sendiri. Di sini setiap perubahan gerak jiwa seorang penyair dibarengi dengan perubahan gerak jiwa zaman di mana penyair tersebut hidup dan pernah, serta akan, hidup.
Dalam pemahaman ini, puisi senantiasa terlibat dalam gerakan resistensi, senantiasa memuat kontradiksi masyarakat, memprotes keadaan, memuat pesan utopis-mesianik untuk melawan reifikasi total, komodifikasi, hilangnya aura, dan budaya fetish dari masyarakat krisis. Dalam pemahaman ini puisi berfungsi sebagai semacam alat komunikasi politik yang menampakkan tanggung jawab sosialnya. Ia menginspirasikan sebuah gerakan sosial demi perubahan, dan ia menjadi inspiratif karena diangkat dari situasi sosial masyarakat, tidak diisolasi dan tidak ditaruh di puncak mercusuar yang indah.
Hanya saja pemahaman tersebut juga menimbulkan beberapa efek yang lain, semisal semakin menyempitnya ruang transendensi manusia, dan semakin jauhnya penyair dari sebuah kosmos tunamakna yang memberi kelebihan padanya dalam membentuk ruang pemaknaan yang sebebas-bebasnya. Akibatnya puisi-puisi yang lahir dari tipologi pemahaman estetika ini kerap terjerembab dalam kompromi terhadap situasi. Karena dalam pemahaman ini, puisi berada dalam kerangka besar untuk perubahan masyarakat.

Selasa, 16 Agustus 2011

PARADOKS KOTA HADJAR


PARADOKS KOTA HADJAR
Oleh: Indra Tjahyadi*)
Sumber: Jawa Pos, Minggu 10 Juli 2011 


Bagi masyarakat urban, kota merupakan satu paradoks. Di satu sisi, kota menyajikan impian-impian indah akan harapan kehidupan yang lebih baik, tetapi di sisi lain, kota menghadirkan rasa putus asa yang mendalam bagi setiap anggota masyarakatnya. Situasi ini mengakibatkan munculnya konflik tidak berkesudahan di dalam diri setiap anggota masyarakat urban. Melalui keberadaan konflik tak berkesudahan inilah eksistensi setiap anggota masyarakat urban ditegaskan, dan identitas mereka ditentukan dan diteguhkan.

Kiranya, hal inilah yang hendak direpresentasikan oleh Saiful Hadjar lewat karya-karya seni grafisnya. Saiful Hadjar adalah seorang seniman grafis Surabaya yang namanya sudah tidak asing lagi di dunia seni grafis Surabaya, dan Indonesia pada umunya. Kiprahnya bersama Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) pada era akhir 80an s.d. awal 90an mencuri perhatian para kritikus seni rupa Indonesia. Bahkan oleh seorang kritikus seni rupa Indonesia, Arief Bagus Prasetya, Hadjar dijuluki sebagai "seniman diskursif", sebab ia senantiasa mendasarkan karya-karyanya pada satu wacana yang tengah digelutinya.

Dalam menciptakan karya-karya grafisnya, Hadjar berpegang pada teknik cukil kayu, karakter pewarnaan yang monokrom, pemilihan media dengan bahan yang mudah didapat, dan komposisi tata letak yang kontras Dengan menggunakan teknik cukil kayu, pewarnaan monokrom, serta komposisi tata letak gambar yang kontras ini  kesan kota sebagai sesuatu yang paradoks bagi masyarakatnya disajikan secara kuat. Ini terlihat pada salah karyanya yang berjudul Kendhat.


Kendhat muncul dengan komposisi yang kontras pada tata letaknya. Kekontrasan komposisi terlihat pada penataan gambar sosok perempuan setengah badan dengan rambut bergelung bermimik wajah sedih dan tali bersimpul menggantung di hadapannya yang lebih besar ketimbang gambar kota yang berada di atasnya. Sosok perempuan setengah badan bermimik wajah sedih dengan rambut bergelung merepresentasikan sosok masyarakat urban, lengkap dengan psikologi individunya, yang mengalami rasa putus asa.

Secara sederhana, masyarakat urban dapat dipahami sebagai masyarakat yang timbul akibat urbanisasi. Urbanisasi merupakan satu situasi yang ditimbulkan oleh derasnya arus migrasi penduduk desa ke kota. Citra kota sebagai tempat yang menjanjikan kehidupan perekenomian yang lebih baik merupakan faktor pemicu munculnya migrasi ini. Migrasi yang berupa perpindahan penduduk dari desa ke kota ini tidak hanya meliputi perpindahan yang bersifat fisik saja, tetapi juga psikologis. Ketidaksiapan psikologis para pelaku migrasi dalam beradaptasi dengan tempatnya yang baru memunculkan banyak persoalan kultural.

Cultural shock dan cultural alienation merupakan dua "penyakit" yang banyak diidap oleh masyarakat urban. Cultural shock terjadi karena terguncangnya jiwa seorang individu disebabkan oleh perbedaan budaya antara dirinya dengan masyarakat yang baru dikenal. Berpindahnya seorang individu dari masyarakat desa yang homogen ke dalam kehidupan masyarakat kota yang memiliki karakter budaya yang heterogen dapat menimbulkan depresi.

Cultural shock ini akan menjadi cultural alienation apabila seseorang gagal dalam beradaptasi dengan masyarakatnya yang baru. Heterogenisitas budaya yang dimiliki oleh kehidupan kota, membuat individu-individu yang hidup di kota terbelah-belah dalam pelbagai bentuk dan nilai budaya. Situasi ini mengakibatkan tingkat kesulitan yang tinggi dalam beradaptasi. Pada gilirannya, mereka yang gagal melakukan adaptasi akan terpinggirkan. Peminggiran inilah yang mengakibatkan pengasingan. Itu merupakan paradoks kota yang hendak ditampilkan oleh Hadjar lewat karya-karya grafisnya. Dan itu juga terlihat pada karya-karya grafis Hadjar lainnya, seperti pada karyanya yang berjudul Alienasi.


Alienasi tampil dengan komposisi tata letak yang kontras. Yakni, menampilkan gambar sosok lelaki setengah badan tanpa pakaian dengan tatapan mata menatap kosong yang lebih besar ketimbang gambar kota yang berada tepat di atasnya dengan ukuran gambar yang lebih kecil. Penempatan kota pada posisi di atas gambar sosok lelaki itu memperlihatkan betapa kota masih menjadi angan-angan yang indah, meski menghasilkan kekosongan jiwa.

Pada gilirannya, kekosongan jiwa ini mengakibatkan munculnya rasa terasing dalam diri setiap individu masyarakat urban. Meski demikian, keterasingan itu tetap tidak dapat mengusir bayangan kota sebagai suatu mimpi indah, tempat bergantungnya harapan manusia akan kehidupan yang lebih baik. Karena itu, seburuk-buruknya kota, ia tetap menjadi sesuatu yang indah bagi manusia urban. Dan seindah-indahnya impian yang ditawarkan kota, ia tetap sesuatu yang buruk bagi masyarakatnya. Dalam kata lain, kota, bagaimanapun, tetap merupakan paradoks.
           
*) Penulis adalah mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya Unair.

Jumat, 12 Agustus 2011

REALISME MAGIS

REALISME MAGIS
 Oleh: Indra Tjahyadi

Realisme magis lebih merupakan sebuah bentuk sastra daripada suatu genre sastra yang dapat dibedakan. Ia dikarakterisasi oleh 2 (dua) perspektif yang saling bertentangan,  yaitu: di satu sisi berbasis pada sebuah cara pandang rasional atas realitas, dan di sisi lain berbasis pada penerimaan pada hal-hal yang bersifat supranatural sebagai sebuah realitas yang prosaik. Meskipun demikian, realisme magis berbeda dari fantasi murni. Hal ini dikarenakan realisme magis ditata dalam bentuknya yang normal, sebuah dunia modern dengan deskripsi otentik atas manusia dan masyarakat.
Secara tipikal, karya-karya realisme magis, senantiasa menghadirkan karakter-karakter yang hidup di dunia realitas keseharian dan karakter mimpinya sendiri. Meskipun demikian, realisme magis juga dapat didefinisikan sebagai suatu keasyikan atau ketertarikan yang teramat sangat dalam memprlihatkan hal-hal yang biasa atau yang terjadi sehari-hari menjadi sesuatu yang tidak sekedar biasa atau bahkan aneh.
Angel Flores berpendapat bahwa realisme magis melibatkan peleburan hal-hal riil dengan hal-hal fantastik, atau dalam kata-katanya,”suatu penggabungan atau peleburan dari realisme dan fantasi”. Dalam realisme magis kehadiran hal-hal supranatural kerap kali terhubung pada hal-hal purbawi atau mentalitas magis orang Indian, yang hidup dalam semesta gabungan dengan rasionalitas Eropa. Mencermati pikiran tersebut maka bukanlah hal mengherankan apabila Ray Vrezasconi, seperti juga kritikus-kritikus lainnya, pernah menyatakan bahwa realisme magis adalah sebuah ekspresi dari realitas Dunia Baru yang pada satu saat mengkombinasikan elemen-elemen rasionalitas peradaban-tinggi Eropa dan elemen-elemen irasional suatu peradaban primitif Amerika
Menurut Gonzales Echeverria, realisme magis menawarkan sebuah pandangan dunia yang tak berdasar pada alam atau hukum-hukum fisik juga realitas objektif. Sehingga dalam realisme magis seorang penulis berusaha untuk melawan kenyataan dan mencoba untuk kembali menyingkapnya dengan jalan mencari apa yang menjadi inti misteri dalam kehidupan, obyek, serta perilaku manusia.
Dalam realisme magis seorang sastrawan atau seniman bukannya hendak menghadirkan sesuatu fenomena sebagai sesuatu yang keseharian. Sebab, melalui realisme magis seorang sastrawan atau seniman menciptakan ilusi atas “sesuatu yang tak nayata”, berusaha untuk memalsukan pelarian dari hal-hal natural, dan menyampaikan suatu tindakan yang seandainya pun dapat hadir sebagai suatu yang dapat dijelaskan akan datang dan melintas sebagai suatu keanehan.
Hal ini menimbulkan kesan, bahwa dalam realisme magis seorang sastrawan atau seniman menggubah realitas sehari-hari menjadi sesuatu yang ajaib, gaib, penuh dengan nuansa-nuansa mistis. Meskipun demikian, bagaimana pun juga karya-karya realisme magis masih berdasar pada realitas. Sebab karakter, fenomena dan kejadian atau peristiwa dalam realisme magis adalah sesuatu yang dapat dikenali dan dapat dipikirkan sebagaimana layaknya.
Akan tetapi dalam realisme magis, realisme hadir tidak seperti biasanya, atau berdasar pada konvensinya saja, melainkan sebagai suatu “mukjizat” atau menyerupai sesuatu yang senantiasa mempunyai hak-hak istimewa dalam perubahan atas realitas. Hal ini lebih didorong, bahwa tujuan seorang sastrawan atau seniman dalam realisme magis adalah untuk merangsang timbulnya perasaan aneh dengan cara memunculkan penjelasan yang tidak logis. Sejalan dengan pikiran tersebut, adalah bukan hal yang mengherankan apabila Franz Roh, seorang kritikus seni berkebangsaan Jerman, sampai berpendapat  bahwa realisme magis adalah suatu cara dari representasi dan merespon realitas dan menggambarkan gambaran teka-teki realitas.
Realisme magis mempunyai taktik penulisan yang digunakan untuk mengubah wujud realitas sehari-hari menjadi suatu bentuk yang berbeda. Strategi penulisan realisme magis terletak pada usaha untuk memperlihatkan suatu atsmosfer supranatural dalam setiap penciptaannya. Dan hal ini dikerjakan dengan tanpa adanya usaha penyakalan atau pengingkaran terhadap alam.
Dalam realisme magis, kesadaran keajaiban penciptaan merupakan kesadaran keajaiban penciptaan yang tidak biasa, tak terduga, dan senantiasa merujukkan diri pada fenomena-fenomena yang tak mungkin terjadi. Akan tetapi dalam realisme magis, hal ini tidaklah terjadi secara alamiah, melainkan karena disebabkan oleh manipulasi yang disengaja atas realitias dan persepsi seorang sastrawan atau senimannya sendiri dalam usahanya guna menciptakan karya-karyanya. Juga diakibatkan oleh besarnya ketertarikan sastrawan atau seniman tersebut pada hal-hal supranatural. Dalam beberapa kasus karya-karya realisme magis, hal ini menimbulkan banyaknya hal-hal aneh yang bermunculan. Hal ini memunculkan kesan, bahwa karya-karya realisme magis mengabaikan segenap efek emosional dan keacuhan manusia atas kengerian yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa yang aneh,
Di Amerika Latin pada tahun 1940-an realisme magis merupakan suatu cara untuk mengekspresikan mentalitas Amerika dan gaya sastra yang otonom. Dan pada kisaran tahun 1940-an s/d 1970-an realisme magis digunakan untuk mendeskripsikan serta mendefinisikan suatu tendensi naratif di Amerika Latin.
Secara umum,  karakterisasi realisme magis meliputi: (a) Hibriditas, (b) Ironi Berkenaan dengan Perspektif Penulis, (c) Sikap Bungkam Penulis dan (d) Supranatural dan Natural.
Hibriditas: realisme magis menggabungkan banyak tehnik yang menghubungkannya pada post kolonialisme, dengan hibriditas menjadi ciri khas utama. Sehingga secara spesifik realisme magis adalah diilustrasikan dalam arena yang tidak harmonis sebagaimana pertentangan urban dengan orang-orang desa, dan Barat dengan hal-hal yang asali. Alur dari realisme magis bekerja menggabungkan isu dari daerah-daerah pinggiran, pencampuran dan perubahan. Sebab dalam realisme magis seorang penulis membentuk ini untuk menyingkap tujuam utama realisme magis, yaitu: suatu realitas yang lebih nyata dan dalam dari yang diilustrasikan oleh tehnik realis konvensional.
Ironi Berkenaan dengan Perspektif Penulis: penulis harus memiliki arah ironi dari pandangan dunia magis pada realisme untuk tidak menjadi kompromi. Dalam artian, bahwa secara simultan seorang penulis haruslah secara kuat merespon hal-hal magis, atau hal-hal magis tersebut larut ke dalam cerita rakyat yang sederhana atau fantasi yang lengkap, terpisah dari yang riil dan bukannya menyinkronkan dirinya dengannya. Istilah “magis” terhubung pada kenyataan bahwa cara pandang yang dilukiskan teks secara eksplisit tidak mengadopsi sesuai dengan kandungan pandangan dunia realis. Sejalan dengan pikiran tersebut Gonzales Echeverria berpendapat, bahwa tindakan dari memberikan jarak atas dirinya sendiri dari sebuah kepercayaan dipegang oleh suatu keyakinan kelompok sosial menjadikan hal tersebut menjadi tidak mungkin dipikirkan sebagaimana sebuah representasi masyarakat tersebut.
Sikap Bungkam Penulis: sikap bungkam penulis menunjukkan pada keperluan akan opini yang jernih tentang keakurasian suatu persitiwa dan kredibilitas pandangan dunia yang diekspresikan oleh karakter dalam teks. Tehnik ini mempromosikan penerimaan dalam realisme magis. Sebab dalam realisme magis, tindakan sederhana dari menjelaskan hal-hal supranatural akan memusnahkan posisi persamaannya memandang sebuah pandangan konvensional yang bersifat personal dari realitas. Karena hal tersebut akan tidak kurang valid, dunia supranatural akan terbuang dan dibuang saebagai sebuah tertimoni yang salah.
Supranatural dan Natural: dalam realisme magis hal-hal supranatural tidak dipamerkan sebagai suatu keraguan. Semantara pembaca menyadari bahwa hal-hal rasional dan irasional adalah bertentangan dan dua kutub yang saling berkonflik satu sama lainnya, mereka tidak dikacaukan karena hal-hal supranatural menyatu dengan norma-norma dari persepsi narator dan karakter dalam dunia fiksi.
Sepanjang ragam tema dalam realisme magis, ide atas teror mengambil-alih kemungkinan corak baru dalam realisme magis. Semisal figur terkemuka yang otoriter, seperti polisi, tentara, juga orang-orang sadis yang mempunyai kekuatan untuk menyiksa dan membunuh.
Selain itu, waktu juga merupakan tema lain yang menonjol dalam realisme magis. Yang kerap kali dipertontonkan sebagai orbit peredaran yang tetap dari sebuah garis lurus. Dalam pemahaman, bahwa apa yang telah terjadi ditakdirkan untuk terjadi lagi. Hal ini terjadi karena karakter-karakter dalam relaisme magis jarang sekali, apabila pernah ada, menyadari akan janji hidup yang lebih baik. Ini merupakan akibat dari ironi dan paradoks yang senantiasa berakar pada pengulangan-pengulangan sapirasi-aspirasi sosial dan politik. Menurut Angel Flores, dalam realisme magis “waktu” mengalir tanpa pembatasan atas waktu. Hal ini, menurutnya, membuat dalam realisme magis apa yang hadir sebagai sesuatu yang tidak nyata dapat hadir sebagai sesuatu yang nyata. Dan apa yang hadir sebagai sesuatu yang nyata dapat hadir lebih daripada sekedar nyata.
Karnavalistik adalah tema yang lain lagi dari realisme magis. Karnavalistik adalah suatu refleksi yang bersifat karnaval dalam sastra. Konsep karnavalistik ini adalah perayaan akan tubuh, jiwa dan relasi antar manusia. “Karnaval” memperlihatkan manifestasi kultural yang mengambil tempat dalam relasi yang berbeda pada Amerika Utara dan Amerika Selatan, Eropa dan Karibia. Dan juga, kerap kali, termasuk unsur-unsur bahasa dan pakaian, sebagaimana keadaan seorang gila, orang-orang bodoh atau badut. Juga pengaturan penduduk dan partisipasi pada tarian-tarian, musik ataupun teater. Hal ini terjadi karena realisme magis Amerika Latin mengekplorasi sisi terang kekukuhan hidup dan karnaval. Juga realitas revolusi dan pergolakan politik yang tidak ada habisnya pada bagian-bagaian tertentu dunia. secara spesifik hal ini disebabkan karena Amerika Selatan dikarakterisasi oleh pergolakan politik yang tak ada habis-habisnya dari suatu idealitas politik.
Contoh terbaik bagi realisme magis adalah novel masterpiece Gabriel Garcia Marquez yang berjudul “Seratus Tahun Kesunyian”. Dalam novelnya tersebut, Gabriel Garcia Marquez menangani realistas di mana batas dari sesuatu yang riil dan fantastik menjadi kabur secara alami. Ini merupakan tehnik penulisan yang unik dari realisme magis. Dan Gabriel Garcia Marquez, melalui novelnya tersebut, secara sukses mendemonstrasikannya dengan integrasi yang begitu terampil dari fantasi dan realitas dengan deksripsi atas hal-hal aneh dari peristiwa dan karakter-karakter tokoh yang diciptakannya.
Maka, adalah bukan hal yang mengherankan apabila M.H. Abrams dalam “A Glossary of Literary Term” sampai berpendapat, bahwa Gabriel Garcia Marquez dalam karya-karya yang diciptakannya menggunakan realisme magis secara tajam dalam mempresentasikan peristiwa-peristiwa keseharian dan mendeskripsikannya secara detail bersamaan dengan hal-hal fantastik dan elemen-elemen yang menyerupai mimpi, sebagaimana bahan-bahan dasar yang digunakan oleh mitos ataupun dongeng-dongeng.
Dalam novelnya “Seratus Tahun Kesunyian” tersebut, Gabriel Garcia Marquez bercerita dalam sebuah nada narasi yang serius dan natural, dan hal ini sanggup untuk menciptakan sebuah karya realisme magis, di mana segalanya mungkin dan begitu terpercayai. Dan agar penyatuan hal-hal fantastik atau sesuatu yang mustahil sempurna ke dalam peristiwa realistik, dalam novelnya “Seratus Tahun Kesunyian”, cara paling efektif yang digunakan oleh Gabriel Garcia Marquez adalah mengantarkannya sebagaimana apabila hal tersebut merupakan sebuah kebenaran yang tak dapat disangkal. Mencermati hal ini, bukanlah hal yang mengherankan apabila Lindsay Moore dalam sebuah esainya berpendapat, bahwa novel “Seratus Tahun Kesunyian” karya Gabriel Garcia Marquez menggabungkan banyak motif supranatural dan realisme.
Pengapungan di udara dan karpet terbang .adalah sebagian kecil dari motif-motif supranatural yang berusaha ditampilkan oleh Gabriel Garcia Marquez dalam novelnya “Seratus Tahun Kesunyian” yang terkenal itu. Selain itu, motif supranatural juga ditampilkan oleh Gabriel Garcia Marquez dalam novelnya tersebut lewat tokoh Malquiades, seorang gypsi yang memiliki kekuatan supranatural, yang diciptakannya dalam tradisi karnaval grotesk dan realisme supranatural.
Karakter tokoh Malquiades juga dapat dikatakan merupakan contoh hibriditas yang terdapat dalam novel “Seratus Tahun Kesunyian” karya Gabriel Garcia Marquez tersebut. Dan peristiwa-peristiwa kedatangan Malquiades di Macondo dengan membawa benda-benda asing yang berasal dari luar daerah tersebut, seperti balok es atau kaca pembesar, juga dapat dikatakan sebuah peristiwa yang berakar pada gagasan hibriditas. Selain itu, hibriditas juga dapat dilihat pada obsesi-obesesi dan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh karakter-karakter tokoh lainnya seperti Ursula, Kolonel Aureliano Buendeia, atau pun Jose Arcadio Buendeia.
Selain itu, novel “Seratus Tahun Kesunyian” karya Gabriel Garcia Marquez juga mengandung paradoks jasmaniah yang kuat dan demikian memuakkan, juga perayaan. Baik apakah itu perayaan akan sebuah ambivalensi dan gelak tawa, dan rekonstruksi atas kondisi manusia, yang kesemuannya tersebut mencontohkan karakteristik realisme magis. Sejalan dengan hal ini, Dr. Umar Junus berpendapat, bahwa novel Gabriel Garcia Marquez yang berjudul “Seratus Tahun Kesunyian” dapatlah dikatakan begitu kompleks.
Sebab, menurutnya, selain menampilkan watak-watak tokoh yang begitu ramai dan rancak dengan pengalaman pengembaraannya masing-masing, novel Gabriel Garcia Marquez tersebut mengangkat pula pelbagai persoalan budaya selama 100 (seratus) tahun, yang juga disertai akibat-akibat yang ditimbulkan oleh pengembaraan watak-watak tokohnya, juga pemikiran-pemikiran yang dihasilkannya. Akan tetapi, hal ini bukannya menghasilkan efek sampingan pada pembacaan atas novel tersebut.
Kesukaran pembaca untuk membedakan apakah dia berada di dunia nyata atau fantasi dalam membaca novel karya Gabriel Garcia Marquez merupakan akibat yang ditimbulkan yang disebabkan oleh kaburnya batas antara realitas dan fantasi serta hal-hal supranatural dalam novel tersebut. Sehingga, mengutip perkataan Dr Umar Junus, “akibatnya kita tidak pernah yakin apakah kita benar-benar paham bacaan kita”. Meskipun demikian, hal ini dapatlah dikatakan merupakan alasan utama dari novel “Seratus Tahun Kesunyian” karya Gabriel Garcia Marquez tersebut, yaitu berusaha menarik perhatian, meyakinkan, sekaligus menggoda pembaca.
Cara pandang ironi merupakan cara pandang yang kerap kali digunakan oleh Gabriel Garcia Marquez dalam karya-karya yang diciptakannya, seperti pada novel-novelnya yang berjudul “Seratus Tahun Kesunyian”tersebut. Akan tetapi, tidak hanya pada novelnya terseut cara pandang ironi digunakan oleh Gabriel Garcia Marquez, akan tetapi juga pada novel-novel ciptaannya yang lain, seperti “Tumbangnya Sang Diktator” atau juga “Love In the Time of Cholera”.
Selain itu, merujuk pada Prof Madya Dr Rozy Suliza Hashim, seorang Pensyarah Universiti Kebangsaan Malaysia, bahwa novel “Seratus Tahun Kesunyian” tersebut, dapatlah dikatakan, memberikan gambaran tentang Amerika Latin, yaitu tentang sejarah pahit yang dimilikinya, perang saudara yang kerap dialaminya, juga keadaan politiknya yang senantiasa tidak menentu. Ini juga merupakan salah satu tema yang membentuk gaya realisme magis. Disamping gagasan atas teror yang berasal dari karakter-karakter tpkph terkemuka yang korup, yang pada novel “Seratus Tahun Kesunyian” diperlihatkan oleh Gabriel Garcia Marquez lewat, salah satunya, karakter tokoh Kolonel Aureliano Buendeia.
Pada akhirnya, istilah realisme magis pertama kali diperkenalkan oleh Franz Roh, seorang kritikus seni berkebangsaan Jerman, pada tahun 1925, yang menyadari realisme magis sebagai sebuah kategori seni. Realisme magis pada mulanya hadir sebagai suatu istilah kritik seni, yang baru di kemudian hari diperluas juga pada sastra.
Franz Roh pertama kali menggunakan istilah ini guna untuk melakukan karakterisasi sebuah kelompok seni lukis yang dikenal sebagai “Post Ekspresionis”. Sehingga bukanlah hal yang mengherankan apabila oleh kritik seni, realisme magis pada mulanya digunakan untuk mendeskrepsikan pencampuran akan hal-hal yang biasa dengan yang fantastik.
Angel Flores menempatkan Jorge Luis Borges sebagai nenek moyang dalam sastra realisme magis. Meskipun demikian, selain Borges, nama-nama seperti Ben Okri, Isabel Allende, Syl Cheney-Coker, Kojo Laing, Allejo Carpentier, Toni Morrison, Kwsme Anthony Appiah, dan Mario Vargas Llosa. Akan tetapi, Gabriel Garcia Marquez dan Carlos Fuentes adalah nama-nama sastrawan yang mempunyai pengaruh yang kuat dalam perkembangan realisme magis di kemudian hari.
***