PARADOKS KOTA HADJAR
Oleh: Indra Tjahyadi*)
Sumber: Jawa Pos, Minggu 10 Juli 2011
Bagi masyarakat urban, kota merupakan satu paradoks. Di satu sisi, kota menyajikan impian-impian indah akan harapan kehidupan yang lebih baik, tetapi di sisi lain, kota menghadirkan rasa putus asa yang mendalam bagi setiap anggota masyarakatnya. Situasi ini mengakibatkan munculnya konflik tidak berkesudahan di dalam diri setiap anggota masyarakat urban. Melalui keberadaan konflik tak berkesudahan inilah eksistensi setiap anggota masyarakat urban ditegaskan, dan identitas mereka ditentukan dan diteguhkan.
Kiranya, hal inilah yang hendak direpresentasikan oleh Saiful Hadjar lewat karya-karya seni grafisnya. Saiful Hadjar adalah seorang seniman grafis Surabaya yang namanya sudah tidak asing lagi di dunia seni grafis Surabaya, dan Indonesia pada umunya. Kiprahnya bersama Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) pada era akhir 80an s.d. awal 90an mencuri perhatian para kritikus seni rupa Indonesia. Bahkan oleh seorang kritikus seni rupa Indonesia, Arief Bagus Prasetya, Hadjar dijuluki sebagai "seniman diskursif", sebab ia senantiasa mendasarkan karya-karyanya pada satu wacana yang tengah digelutinya.
Dalam menciptakan karya-karya grafisnya, Hadjar berpegang pada teknik cukil kayu, karakter pewarnaan yang monokrom, pemilihan media dengan bahan yang mudah didapat, dan komposisi tata letak yang kontras Dengan menggunakan teknik cukil kayu, pewarnaan monokrom, serta komposisi tata letak gambar yang kontras ini kesan kota sebagai sesuatu yang paradoks bagi masyarakatnya disajikan secara kuat. Ini terlihat pada salah karyanya yang berjudul Kendhat.
Kendhat muncul dengan komposisi yang kontras pada tata letaknya. Kekontrasan komposisi terlihat pada penataan gambar sosok perempuan setengah badan dengan rambut bergelung bermimik wajah sedih dan tali bersimpul menggantung di hadapannya yang lebih besar ketimbang gambar kota yang berada di atasnya. Sosok perempuan setengah badan bermimik wajah sedih dengan rambut bergelung merepresentasikan sosok masyarakat urban, lengkap dengan psikologi individunya, yang mengalami rasa putus asa.
Secara sederhana, masyarakat urban dapat dipahami sebagai masyarakat yang timbul akibat urbanisasi. Urbanisasi merupakan satu situasi yang ditimbulkan oleh derasnya arus migrasi penduduk desa ke kota. Citra kota sebagai tempat yang menjanjikan kehidupan perekenomian yang lebih baik merupakan faktor pemicu munculnya migrasi ini. Migrasi yang berupa perpindahan penduduk dari desa ke kota ini tidak hanya meliputi perpindahan yang bersifat fisik saja, tetapi juga psikologis. Ketidaksiapan psikologis para pelaku migrasi dalam beradaptasi dengan tempatnya yang baru memunculkan banyak persoalan kultural.
Cultural shock dan cultural alienation merupakan dua "penyakit" yang banyak diidap oleh masyarakat urban. Cultural shock terjadi karena terguncangnya jiwa seorang individu disebabkan oleh perbedaan budaya antara dirinya dengan masyarakat yang baru dikenal. Berpindahnya seorang individu dari masyarakat desa yang homogen ke dalam kehidupan masyarakat kota yang memiliki karakter budaya yang heterogen dapat menimbulkan depresi.
Cultural shock ini akan menjadi cultural alienation apabila seseorang gagal dalam beradaptasi dengan masyarakatnya yang baru. Heterogenisitas budaya yang dimiliki oleh kehidupan kota, membuat individu-individu yang hidup di kota terbelah-belah dalam pelbagai bentuk dan nilai budaya. Situasi ini mengakibatkan tingkat kesulitan yang tinggi dalam beradaptasi. Pada gilirannya, mereka yang gagal melakukan adaptasi akan terpinggirkan. Peminggiran inilah yang mengakibatkan pengasingan. Itu merupakan paradoks kota yang hendak ditampilkan oleh Hadjar lewat karya-karya grafisnya. Dan itu juga terlihat pada karya-karya grafis Hadjar lainnya, seperti pada karyanya yang berjudul Alienasi.
Alienasi tampil dengan komposisi tata letak yang kontras. Yakni, menampilkan gambar sosok lelaki setengah badan tanpa pakaian dengan tatapan mata menatap kosong yang lebih besar ketimbang gambar kota yang berada tepat di atasnya dengan ukuran gambar yang lebih kecil. Penempatan kota pada posisi di atas gambar sosok lelaki itu memperlihatkan betapa kota masih menjadi angan-angan yang indah, meski menghasilkan kekosongan jiwa.
Pada gilirannya, kekosongan jiwa ini mengakibatkan munculnya rasa terasing dalam diri setiap individu masyarakat urban. Meski demikian, keterasingan itu tetap tidak dapat mengusir bayangan kota sebagai suatu mimpi indah, tempat bergantungnya harapan manusia akan kehidupan yang lebih baik. Karena itu, seburuk-buruknya kota, ia tetap menjadi sesuatu yang indah bagi manusia urban. Dan seindah-indahnya impian yang ditawarkan kota, ia tetap sesuatu yang buruk bagi masyarakatnya. Dalam kata lain, kota, bagaimanapun, tetap merupakan paradoks.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar