Surabaya: Kota Neraka Seni
Seputar Indonesia, Selasa 1 Januari 2013Surabaya merupakan kota neraka bagi dunia seni. Minimnya sarana dan prasarana seni yang memadai di Surabaya merupakan penanda yang mengartikulasikan keberadaan identitas Surabaya sebagai sebuah kota yang tidak ramah terhadap dunia seni.
Padahal,sebagai sebuah kota modern,keberadaan seni sangat dibutuhkan oleh masyarakat Surabaya sebagai wahana kreasi dan rekreasi agar tidak terjerembab ke dalam jurang degradasi kemanusiaan. |erlampau kuatnya artikulasi hegemonis wacana identitas Kota Surabaya sebagai kota perdagangan merupakan faktor utama yang mengakibatkan terpinggirnya dunia seni di Surabaya.
Sebagai kota perdagangan,tentunya,Surabaya hanya akan merelasikan keberadaannya dengan penandapenanda yang berada dalam titik-titik nodal yang dapat mendukung makna wacana perdagangan,seperti penanda “kerja”,“pekerja”,dan “pekerjaan”. Akibatnya,penanda-penanda yang berada di luar wilayah yang dapat mendukung terbentuk makna wacana identitas Surabaya sebagai kota perdagangan harus diekslusi dari keberadaan relasinya dengan Surabaya.
Maka,tidak mengejutkan, apabila bertemu dengan kata Surabaya makna yang terproduksi adalah makna kota yang sibuk dengan kerja.Sebagaimana yang tampak dalam puisi Agam Wispi yang berjudul “Surabaja”. tiap kita djumpa surabaja aku selalu remadja gembira kepada kerdja …. surabaja bau keringat bau kerdja …. Keteguhan keberadaan wacana identitas Kota Surabaya sebagai kota perdagangan juga dapat dirujuk dalam wacana sejarah.
Di dalam wacana sejarah,keberadaan Kota Surabaya selalu direlasikan dengan wacana perdagangan.Hal tersebut tampak dengan diartikulasikannya Kota Surabaya sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang penting dalam sejarah ekonomi Nusantara.Bahkan keberadaan wacana identitas Kota Surabaya sebagai kota perdagangan yang telah dihegemonisasikan oleh wacana sejarah tersebut semakin menemukan kekuatannya ketika Pemerintah Kota Surabaya juga mengartikulasikan hal yang sama.
Melalui situs resmi internetnya, Pemerintah Kota Surabaya menetapkan keberadaan Surabaya sebagai kota perdagangan. Sebagaimana yang tampak kutipan pernyataannya sebagai berikut. Sejarah Surabaya juga berkaitan dengan aktivitas perdagangan.Secara geografis Surabaya memang diciptakan sebagai kota dagang dan pelabuhan.Surabaya merupakan pelabuhan gerbang utama Kerajaan Majapahit.Letaknya yang dipesisir utara Pulau Jawa membuatnya berkembang menjadi sebuah pelabuhan penting di zaman Majapahit pada abad ke - 14.
Berlanjut pada masa kolonial,letak geografisnya yang sangat strategis membuat pemerintah Kolonial Belanda pada abad ke - 19, memposisikannya sebagai pelabuhan utama yang berperan sebagai collecting centers dari rangkaian terakhir kegiatan pengumpulan hasil produksi perkebunan di ujung Timur Pulau Jawa,yang ada di daerah pedalaman untuk diekspor ke Eropa.
Usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya tersebut jelas membuat Surabaya menjadi kota yang hanya berorientasi pada halihwal yang bermakna ekonomistik saja.Akibatnya berbagai hal yang berada di luar hal tersebut dapat direduksi dan diekslusi keberadaannya.Maka,tidak mengherankan apabila pembangunan sarana dan prasarana seni yang jelasjelas tidak dapat mendukung identitas Surabaya sebagai kota perdagangan tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah kota.
Kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan sarana dan prasarana yang dapat mendukung keberadaan Surabaya sebagai kota perdagangan seperti jalan-jalan,dan gedunggedung yang berfungsi sebagai pusat perkantoran dan perbelanjaan lebih diutamakan.Oleh karena itu,tidak mengejutkan apabila diusianya yang telah mencapai 713 tahun Surabaya masih belum memiliki gedung-gedung kesenian yang benar-benar memadai, atau festival-festival seni yang benarbenar dapat mengaktualisasikan dan mengartikulasikan keberadaan dunia seni di Surabaya.
Sebagai masyarakat kota modern, tentunya,masyarakat Surabaya membutuhkan seni.Maka,apabila dunia seni di Surabaya terus menagalami patologi dan ironi semacam itu,dapat diramalkan kehidupan dan peradaban Kota Surabaya akan mengalami krisis.Agar kehidupan dan peradaban Surabaya tidak mengalami krisis,terdapat beberapa jalan yang dapat ditempuh. Jalan pertama adalah pembangun sarana dan prasarana seni yang memadai di Surabaya.
Sampai saat ini,Surabaya hanya punya satu gedung pertunjukan kesenian,yakni gedung Cak Durasim. Dapat dibayangkan bagaimana kota semodern dan penduduknya sebanyak Surabaya hanya memiliki satu gedung kesenian.Tentunya hal tersebut tidak dapat mewadai ekspresi seni dan aktualitasi seni yang terdapat di Surabaya.Oleh karena itu, perlu dibangun lagi beberapa gedung kesenian di Surabaya,dan kebijakan festival seni yang menggunakan ruang-ruang publik.
Selain pembangunan sarana dan prasarana seni dan pemanfaatan ruang publik,usaha untuk membangkitkan dunia seni di Surabaya juga dapat dilakukan dengan jalan mengakomodasi ekspresi seni para senimannya yang tidak berorientasi pada profit. INDRA TJAHYADI TIM FORUM STUDI SASTRA DAN SENI LUAR PAGAR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar