ILMU, NILAI, DAN KEBUDAYAAN
Oleh: Indra Tjahyadi
“...sampai di mana manusia bisa mengendalikan kembali ilmu dan teknologi, sehingga jalannya tidak menurut kemauannya dan momentumnya sendiri saja, melainkan melayani keperluan manusia dan keselamatan manusia.”
—Soedjatmoko—
Abad 15-16 Barat bangkit dengan ilmu pengetahuan sebagai cita-cita kebudayaannya. Sejak itu, lambat laun, cita-cita kebudayaan Barat ini menemukan bentuknya pada abad 18, dan semakin memuncak di Barat pada abad 19. Seiring dengan gerakan globalisasi yang diawali pada abad 18 dan dipelopori oleh Barat, cita-cita kebudayaan ini segera menyebar ke seluruh dunia. Tetapi, ketika dunia memasuki abad 20 muncul pesimisme terhadap cita-cita kebudayaan Barat yang menyebar ke seluruh dunia melalui globalisasi ini. Pesimisme yang didasarkan pada fakta bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang melahirkan banyak teknologi ini, dalam kenyataannya, tidak dibarengi oleh kemajuan moral manusia.
Cita-cita kebudayaan Barat yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai yang utama menggiring manusia pada pendewaan akan rasio dan kemampuan penginderaan. Menurut The Liang Gie ilmu pengetahuan adalah
“...rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.”
Bagi ilmu pengetahuan, manusia adalah mesin berpikir yang berpijak pada dua cara, yakni rasional dan empiris. Bagi ilmu pengetahuan, kedua cara berpikir manusia ini satu menyatu membentuk satu tubuh yang utuh: tubuh ilmu pengetahuan. Tubuh ilmu pengetahuan tidak akan ada apabila kedua hal ini tidak satu menyatu, saling berkait antara satu sama lain.
Dipilihnya ilmu pengetahuan sebagai cita-cita kebudayaan Barat pada kisaran abad 15-16 disebabkan oleh suntuknya masyarakat Barat terhadap wujud kebudayaan abad pertengahan. Abad pertengahan adalah abad di mana manusia, yang di abad-abad sebelumnya telah hidup dalam kebudayaan yang dibentuk oleh terang otoritas rasio, tidak lagi memiliki kedudukan yang penting di alam semesta. Di abad pertengahan, otoritas rasio manusia dicabut, diganti oleh otoritas ilahi. Manusia yang rasional bukan lagi subjek, tetapi objek yang harus tunduk pada subjek ilahi. Ini menghasilkan konsekuensi logis berupa terenggutnya kedudukan manusia sebagai subjek bagi alam semesta. Maka, pada abad tersebut, seluruh kebudayaan yang dihasilkan manusia hanya untuk mengukuhkan keberadaan yang ilahi. Ini menggiring manusia sampai pada kenyataan bahwa nilai manusia ditentukan oleh seberapa tunduknya ia pada ilahi.
Situasi ini, ternyata, tidak berlangsung selamanya. Lambat laun kebudayaan yang direpresikan oleh hegemoni abad pertengahan memudar, diganti oleh semangat kebudayaan yang berdasar pada pernyataan yang monumental dari Descartes: cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada). Perubahan kebudayaan ini sangat dimungkinkan karena sifat kebudayaan itu sendiri yang merupakan bukan suatu sistem yang tertutup. Kebudayaan, sebagaimana pernah disampaikan oleh Bourdieu, merupakan sistem yang cair, yang terbuka, yang memampukan manusia untuk berhadapan dengan situasi yang terus-menerus berubah, serta memungkinkan adanya inovasi yang tiada henti. Sebagai sistem yang terbuka, yang cair, kebudayaan yang dimiliki manusia, yang merupakan pemahaman dan cara mengorganisir hidup, selalu berubah-ubah mengikuti perubahan sekecil apa pun yang ada dihadapannya. Oleh karena itu, berubahnya orientasi hidup manusia menghasilkan perubahan pada kebudayaan manusia.
Perubahan kebudayaan ini bukanlah perubahan kebudayaan manusia perorangan. Kebudayaan selalu mengenai masyarakat manusia. Bagi Herder, kebudayaan adalah alat atau cara yang melaluinya manusia mereproduksi dan memahami diri, dan ini adalah urusan manusia bersama manusia lain, bukan perkara perseorangan belaka. Ia merupakan bentuk adikarya manusia yang lahir dari proses kreatif manusia dalam menyempurnakan apa pun yang dihadapi dan dihidupi. Sifat kebudayaan yang seperti ini memungkinkan terjadinya perubahan kebudayaan di Barat pada abad 15-16. Pada abad 15-16, seluruh kebudayaan Barat didasarkan pada otoritas rasio.
Bersekutu dengan ilmu pengetahuan, manusia pada abad itu berusaha untuk menemukan kedudukannya yang penting di alam semesta. Konsekuensi yang muncul dari situasi ini adalah manusia merasa bahwa ia adalah subjek dari alam semesta. Dengan otoritas rasio yang dimilikinya, manusia menentukan jalan hidupnya sendiri di alam semesta. Sejak itulah, manusia memulai penaklukkannya pada alam semesta demi untuk kelangsungan hidupnya. Maka, kebudayaan manusia dinilai sejauh mana otoritas rasio yang dimilikinya mampu digunakan untuk mengatasi setiap halangan yang diciptakan alam.
Lambat laun, cara pandang semacam ini mengubah pandangan manusia mengenai alam semesta. Alam semesta tidak lagi dipandang sebagai mitra manusia dalam menjalankan hidup, tetapi alam semesta dipandang sebagai objek yang harus ditundukkan demi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia di dunia. Seiring gerakan globalisasi yang dipelopori Barat, pandangan ini, lambat laun, merebak dan menulari dunia. Globalisasi memungkinkan cita-cita kebudayaan Barat yang berpegangan pada ilmu pengetahuan menyebar ke seluruh dunia, dan menciptakan hegemoni secara mondial. Konsekuensi yang harus diterima dunia akibat dari hal ini adalah munculnya internasionalisasi kebudayaan. Akibatnya homogenitas kebudayaan menjadi satu hal yang tak terelakkan.
Globalisasi memiliki misi menghilangkan jarak antarwilayah, antarkerlompok, antarmanusia. Menurut Giddens, globalisasi adalah intensifikasi dari relasi-relasi sosial dunia yang menghubungkan wilayah-wilayah yang berjauhan sedemikian rupa sehingga kejadian lokal dibentuk oleh peristiwa yang terjadi di tempat jauh, dan sebaliknya, dan ini berlangsung dalam proses dialektika. Dialektika yang dilakukan oleh globalisasi telah membuat segala hal di dunia ini saling terkait satu sama lain. Melalui globalisasi, apa yang dulunya dianggap tak saling terkait, kini secara amat mencolok tampil saling berkaitan. Ini membuat setiap kebudayaan saling berinteraksi. Tetapi, interaksi ini bukan semata interaksi yang bebas kepentingan.
Interaksi globalisasi yang dipelopori Barat selalu sarat dengan kepentingan Barat. Tingginya kepentingan Barat dalam globalisasi membuat interaksi kebudayaan hadir dengan nuansa hegemoni Barat. Bagi Barat, cita-cita kebudayaan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan adalah hal yang paling benar. Ini menghasilkan munculnya pandangan bahwa kebudayaan yang tidak didasarkan pada cita-cita tersebut bukan kebudayaan. Maka, dimulailah represi Barat ke seluruh dunia. Meskipun demikian, globalisasi cita-cita kebudayaan Barat ini tidak akan mungkin dilakukan apabila tidak ada teknologi.
Teknologi merupakan anak kandung ilmu pengetahuan. Teknologi inilah, sebagaimana dinyatakan oleh Fukuyama, yang membuat globalisasi yang dilakukan Barat terhadap dunia dapat berlangsung seperti yang diinginkan oleh Barat. Penemuan kompas, mesiu, pesawat terbang, dan bentuk-bentuk lainnya dari teknologi merupakan alat yang sempurna untuk penyebaran cita-cita kebudayaan Barat. Tetapi, sekali lagi, penyebaran cita-cita kebudayaan Barat ini tidak dilakukan tanpa kepentingan. Kepentingan inilah yang membuat munculnya kolonialisasi Barat terhadap non-Barat.
Bagi Barat, kebudayaan yang dimiliki oleh non-Barat tidak bernilai sebab tidak memiliki cita-cita seperti Barat. Oleh karena itu, bagi Barat, non-Barat bukanlah subjek, melainkan hanya sekedar objek yang harus ditundukkan. Barat adalah subjek, pusat segala-galanya. Maka, dimulailah penaklukan-penaklukan terhadap non-Barat oleh Barat. Penaklukan ini semakin efektif dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka, teknologi-teknologi perang pun tercipta. Maka, peperangan dan kolonialisasi bisa dilangsungkan di mana saja dan kapan saja. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang tadinya diciptakan untuk kesejahteraan, kenyamanan, dan kebahagiaan hidup manusia telah berubah menjadi sesuatu yang menyengsarakan hidup manusia.
Situasi ini, lambat laun, memunculkan pesimisme manusia pada keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada pertengahan abad 20, pesimisme ini semakin menemukan bentuknya ketika banyak kritik dilontarkan kepada ilmu pengetahuan. Kaum Dada dan Surealis adalah salah satu yang melakukan kritik keras terhadap pendewaan ilmu pengetahuan. Bagi mereka, ilmu pengetahuan tidak membawa keselamatan pada manusia. Justru, menurut mereka, ilmu pengetahuanlah yang menghancurkan manusia. Oleh karena itu, bagi mereka, hal pertama yang harus ditolak adalah rasio manusia. Penolakan rasio dilakukan dengan cara kembali kepada insting primitif manusia. Tetapi, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang tidak terbatas. Tetapi, keinginan manusia adalah sesuatu yang tanpa batas. Maka, meskipun banyak kritik dilontarkan kepada ilmu pengetahuan, ia tetap ada di sana membentuk kebudayaan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar