Selasa, 10 Maret 2020

DASAR-DASAR PENULISAN CERITA PENDEK


DASAR-DASAR PENULISAN CERITA PENDEK


Indra Tjahyadi[1]
Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Filsafat, Universitas Panca Marga, Jalan Yos Sudarso No.107, Krajan, Pabean, Dringu, Probolinggo, Jawa Timur 67271. Telp: (0335) 422715. Pos-el: indratjahyadi@upm.ac.id


PENGANTAR
            Upaya peningkatan daya kreativitas seseorang dapat dilakukan melalui praktik atau tindak penulisan karya sastra. Dalam praktik atau tindak penulisan sastra, seseorang tidak hanya dilatih untuk berimajinasi saja, tetapi juga diajarkan untuk dapat memanifestasikan imajinasinya tersebut dalam bentuk bahasa yang bersifat linguistis dan menenunnya atau merangkainya menjadi satu bentuk utuh. Dalam kegiatan menenun atau merangkai, dibutuhkan daya kreativitas agar kegiatan tersebut menghasilkan sesuatu yang indah. Inilah yang menyebabkan seseorang yang melakukan penulisan atau penciptaan karya sastra menjadi sebuah pribadi yang kreatif.

PENGERTIAN CERPEN
            Salah satu genre atau jenis karya sastra yang dapat mendorong peningkatan daya kreativitas seseorang adalah cerita pendek (Cerpen). Cerita pendek, atau yang dalam khazanah sastra Indonesia biasa disebut cerpen, merupakan salah satu genre dari prosa-fiksi (Klarer, 2005: 12). Menurut Edgar Allen Poe, seorang sastrawan besar Amerika, (dalam Nurgiyantoro, 2010: 10) cerpen dapat dipahami cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, atau cerita yang durasi pembacaannya kisaran satu sampai dua jam saja. Pemahaman cerpen yang diberikan Poe tersebut masih membingungkan karena masih terlalu luas dan tidak pasti. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan tentang definisi cerpen yang pernah diberikan oleh ahli sastra yang lain.
            Jakob Sumardjo dan Saini K.M. (1986: 36) mendefinisikan cerita pendek atau cerpen sebagai salah satu genre dari prosa yang memiliki karakteristik cerita atau narasi yang tidak bersifat analisis argumentatif tetapi lebih bersifat fiktif, dan memiliki durasi pengisahan relatif pendek. Dalam cerpen, penceritaan atau narasi disajikan secara hemat dan ekonomis. Namun, itu tidak berarti cerpen tidak memiliki kesatuan bentuk yang utuh.
Sebagai sebuah karya bergenre prosa-fiksi, cerpen juga memiliki kesatuan bentuk yang utuh sebagaimana jenis-jenis prosa-fiksi yang lain. Ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Abrams (2012: 365) berikut:
“The short story differs from the anecdote—the unelaborated narration of a single incident—in`that, like the novel, it organizes the action, thought, and dialogue of its characters into the artful pattern of a plot, directed toward particular effects on an audience.”
Berdasarkan pernyataan Abrams tersebut dapat dipahami bahwa cerpen, meskipun berbentuk lebih pendek, tetap memiliki kesatuan bentuk dan kekuatan bercerita yang sama dengan novel. Oleh karena itu, upaya untuk menulis cerpen juga harus bersandar pada unsur-unsur yang dimiliki oleh prosa-fiksi pada umumnya. Itu sebagaimana tampak dalam cerpen berjudul Keputusasaan Perempuan Tua karya Charles Baudelaire [2]berikut:
Kerutan-kerutan di kulit perempuan tua mungil merasakan kegembiraan melihat bayi yang cantik yang dibicarakan banyak orang, seseorang yang ingin disenangkan oleh banyak orang; mahluk yang cantik ini serapuh dirinya, perempuan tua mungil, dan—juga seperti dirinya—tanpa gigi dan rambut.
Dan ia menghampiri bayi itu, berencana untuk membuat seutas senyum dan wajah penuh kegembiraan padanya. Namun, bayi yang takut itu meronta dibelaian perempuan jompo yang baik itu, dan memenuhi seluruh sudut rumah dengan dengkingannya.
Lantas perempuan tua yang baik itu berbalik pulang ke kesendiriannya yang abadi, dan ia menangis di sebuah sudut, berkata kepada dirinya sendiri: “Ah, bagi kami perempuan-perempuan tua yang buruk, zaman-zaman menyenangkan tanpa rasa bersalah telah usai; dan yang kami bangkitkan hanyalah kengerian bagi bayi mungil yang ingin kami cintai!”

            Pada cerpen karya Baudelaire tersebut, unsur-unsur prosa seperti tokoh dan penokohan, alur, latar, bahkan sudut pandang penceritaan tampak terdapat di dalamnya. Tokoh dan penokohan dalam cerpen tersebut diperlihatkan dengan hadirnya tokoh perempuan tua dengan watak yang sabar dan perasa. Alur dalam cerpen tersebut alur maju. Itu tampak pada perubahan peristiwa dari aksi perempuan tua menggendong bayi, lantas meletakkannya, untuk kemudia perempuan tua itu pulang ke rumahnya dengan perasaan sedih. Adapun latar juga tampak pada keberadaan rumah sebagai tempat terjadinya peristiwa. Begitu juga dengan sudut pandang. Sudut pandang pada cerpen tersebut menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Itu disebabkan model penceritaan yang menggunakan model “dia”-an dengan pengarang sebagai narator yang mengontrol jalannya cerita.
            Berdasarkan penjelasan tersebut, tampak bahwa cerpen, meskipun berbentuk relative ringkas, tetap memiliki kesatuan bentuk dan unsur-unsur yang sama kompleksnya dengan novel, atau jenis-jenis prosa yang lain. Ini membuat upaya untuk memahami cerpen, ataupun menulis cerpen, sama dengan usaha memahami atau menulis novel. Oleh karena itu, untuk dapat menulis cerpen dengan baik, maka, perlu dipahami lebih mendalam unsur-unsur yang menyusun sebuah cerpen.

SEJARAH CERPEN
            Menurut Klarer (2005: 13) cerpen merupakan jenis prosa-fiksi yang muncul pertama kali pada abad 18. Kemunculan cerpen pada abad 18 tersebut dipengaruhi oleh munculnya koran sebagai bacaan masyarakat di Eropa dan Amerika saat itu. Kebutuhan untuk sedikit mencari hiburan dari keseriusan penyajian berita di setiap halaman koran, membuat cerpen menjadi alternative yang dapat membuat pembaca koran sedikit merasa rileks. Namun, sebagaimana penyajian berita di koran yang berbentuk ringkas dan ekonomis, cerpen hadir dengan bentuk yang sama: ringkas dan ekonomis. Meskipun demikian, cerpen tetap berbeda dari bentuk penyajian berita yang lebih bersifat faktual. Sifat sastra yang berupa kreasi, membuat cerpen tetap hadir dengan sifat fiksi yang kuat meskipun terdapat di koran.  
            Namun, kemunculan cerpen pada abad 18 di Eropa dan Amerika tersebut bukannya tanpa faktor-faktor yang mendahuluinya. Klarer (2005: 12) berpendapat bahwa meskipun cerpen baru muncul dan menjadi tren di masayarakat pada abad 18, keberadaannya dalam bentuk yang berbeda telah ada sejak Abad Pertengahan (kisaran abad 5 sampai dengan abad 15). Ini tampak pada kemiripan bentuk yang dimiliki dongeng, ataupun fabel, juga legenda dengan cerpen. Oleh karena itu, bentuk-bentuk cerita yang telah ada sejak Abad Pertengahan tersebut dapat dikatakan merupakan akar dari cerpen. Maka, tidaklah mengherankan apabila kita membaca cerita-cerita fabel semacam Si Kancil kita akan menemukan cara bercerita yang sama dengan ketika kita membaca sebuah cerpen.

CIRI DAN UNSUR CERPEN
            Sampai di sini, kita, setidaknya, telah mengetahui pengertian dan sejarah cerpen. Namun, untuk menjadi penulis cerpen yang baik seseorang juga harus mengetahui unsur-unsur yang terdapat pada cerpen. Ini agar cerpen yang dibuat seseorang dapat dihadapi dan dipahami pembaca sebagai cerpen pula. Selain itu, dengan memahami ciri dan unsur cerpen, seseorang dapat melakukan tindak penulisan atau praktik penciptaan cerpen dengan luwes dan kreatif. Ini diperlukan agar karya cerpen yang diciptakan dapat terasa segar dan diminati pembaca.
Ciri Cerpen
            Sebagai jenis prosa-fiksi yang mandiri, cerpen juga memiliki ciri-ciri yang khas yang hanya terdapat padanya. Menurut Hartoko dan Rahmanto (1986: 152) cerpen memiliki ciri khas yang berbeda dari novel. Ciri khas pertama, cerpen biasanya memusatkan perhatian perceritaannya pada satu tokoh saja yang ditempatkan pada situasi sehari-hari. Ketersediaan ruang yang pendek, membuat penulis cerpen biasanya hanya melakukan pemusatan penceritaan pada satu tokoh utama saja. Itu sebagaimana tampak pada sebuah cerpen yang ditulis oleh Yanusa Nugroho yang berjudul Dua Telinga Saya, Rasanya Cukup (http://daenkfatimah.blogspot.com/2011/12/dua-telinga-saya-rasanya-cukup.html).
            Ciri khas cerpen yang kedua adalah penggunaan bahasa yang bersifat sugestif (Hartoko dan Rahmanto, 1986: 152). Secara umum, bahasa sugestif dapat dipahami sebagai bahasa yang mengandung kekuatan presuposisi hipnotik, yakni asumsi yang terselubung (dengan sengaja) dan keberadaan asumsinya tidak bisa dikenali oleh alam sadar/otak kiri secara alamiah. Ruang cerpen yang kecil menuntut seorang cerpenis menggunakan bahasa yang dapat membangkitkan imajinasi atau pencitraan di pikiran pembaca secara efektif tersebut. Ini sebagaimana yang tampak pada sebuah cerpen berjudul Sepotong Senja untuk Pacarku yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (https://sukab.wordpress.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/) berikut:
Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Adapun ciri khas ketiga dari cerpen adalah akhir cerita (ending) yang biasanya disajikan terbuka (Hartoko dan Rahmanto, 1986: 152). Open ending atau akhir cerita terbuka adalah model pengakhiran cerita yang tidak memberikan keputusan mutlak pada cerita. Kelebihan model pengakhiran cerita seperti ini adalah memberi kesempatan kepada pembaca untuk memikirkan kelanjutan cerita. Hal itu karena meskipun cerpen sudah ditutup tetapi seperti masih ada kelanjutan ceritanya. Efek yang diberikan kepada pembaca bisa berupa sebuah misteri, pertanyaan, ambigu, dan sebagainya. Cerpen Anjing-anjing Menyerbu Kuburan karya Kuntowijoyo menjadi sebuah contoh cerpen dengan ending jenis ini, khususnya memberi efek ambigu pada pembacanya.

Unsur Cerpen
Selain ciri khas, cerpen juga memiliki unsur-unsur penyusun yang berada di dalamnya. Dalam studi sastra, unsur-unsur tersebut biasa disebut unsur intrinsik. Menurut Jakob Sumardjo dan Saini K.M. (1986: 37) cerpen memiliki unsur-unsur intrinsik yang meliputi alur, tema, tokoh cerita, suasana cerita, latar cerita, sudut pandang penceritaan, dan gaya pengarang.
Unsur intrinsik cerpen yang pertama adalah alur. Alur atau Plot adalah unsur intrinsik cerpen yang menjelaskan mengenai rangkaian peristiwa yang disampaikan oleh cerpenis untuk membentuk cerita dalam cerpen. Alur cerita memiliki tahapan-tahapan sebagai berikut:
1.      Tahap perkenalan, yaitu tahapan pengenalan tokoh dan latar dalam cerpen.
2.      Tahap kemunculan konflik, yaitu tahapan dimana konflik atau permasalahan mulai muncul dalam cerpen.
3.      Tahap klimaks, yaitu tahapan dimana konflik berada pada titik puncak. Biasanya pada tahap ini tokoh utama mengalami kebingungan atau sedih.
4.      Tahap peleraian, yaitu tahap dimana permasalahan mulai mereda dan terdapat solusi yang diambil oleh tokoh utama.
5.      Tahap penyelesaian, yaitu tahap akhir pada sebuah cerita pendek. Umumnya tahap ini berakhir dengan kebahagiaan (happy ending).
Tahap-tahap di dalam cerpen diatur melalui alur jalan cerita. Alur cerita ini dapat membuat cerpen menjadi lebih menarik dan membuat penasaran pembacanya (Jakob Sumardjo dan Saini K.M., 1986: 48-50).

Berikut ini adalah dua jenis alur yang sering digunakan dalam cerita pendek:
1.      Alur maju, yaitu rangkaian cerita yang bergerak secara berurutan dimana urutannya adalah pengenalan, munculnya masalah/ konflik, klimaks, peleraian, dan penyelesaian.
2.      Alur mundur, yaitu rangkaian cerita yang bergerak secara tidak berurutan. Pada alur mundur biasanya pengarang membuatnya dengan memunculkan konflik terlebih dahulu. Selanjutnya, terlihat beberapa peristiwa yang menjadi sebab-akibat munculnya konflik tersebut.
Unsur kedua yang terdapat di dalam cerpen adalah tema. Tema adalah ide cerita. Tema adalah sesuatu yang ingin disampaikan oleh seorang cerpenis kepada pembaca melalui cerpen yang diciptakannya. Tema tidak selalu berujud moral atau ajaran moral. Tema bisa saja hanya berujud hasil pengamatan seorang cerpenis  terhadap kehidupan. Seorang cerpenis, biasanya, menyatakan tema ceritanya secara tersembunyi dalam suatu potongan perkataan tokoh utamanya, atau dalam satu adegan cerita. Oleh karena itu, tema cerpen bisa hadir secara tersirat ataupun tersurat. Pemilihan tersebut didasarkan pada selera pribadi cerpenis (Jakob Sumardjo dan Saini K.M., 1986: 56-58).
Tokoh cerita adalah unsur instrinsik ketiga dari cerpen. Tokoh merupakan para pemain atau orang-orang yang terlibat di dalam sebuah cerita pendek. Tokoh cerita hadir melalui perbuatan, dialog, penggambaran fisik, dan pikiran-pikiran yang dihadirkan oleh cerpenis pada cerpen. Namun, tokoh dalam cerpen juga dapat dihadirkan melalui teknik penerangan secara langsung oleh pengarangnya (Jakob Sumardjo dan Saini K.M., 1986: 63-66). Dalam keberadaannya tokoh dapat dipilah menjadi beberapa kategori seperti berikut:
A.      Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu
1.      Tokoh sentral protagonis. Tokoh sentral protagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai pisitif.
2.      Tokoh sentral antagonis. Tokoh sentral antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
B.      Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu
1.      Tokoh andalan. Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercataan tokoh sentral (protagonis atau antagonis).
2.      Tokoh tambahan. Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita.
3.      Tokoh lataran. Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.
C.      Berdasarkan cara menampikan perwatakannya, tokoh dalam cerita dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
1.      Tokoh datar/ sederhana/ pipih. Yaitu tokoh yang diungkapkan atau disoroti dari satu segi watak saja. Tokoh ini bersifat statis, wataknya sedikit sekali berubah, atau bahkan tidak berubah sama sekali (misalnya tokoh kartun, kancil, film animasi).
2.      Tokoh bulat/ komplek/ bundar. Yaitu tokoh yang seluruh segi wataknya diungkapkan. Tokoh ini sangat dinamis, banyak mengalami perubahan watak.
Unsur intrinsik cerpen yang keempat adalah suasana cerita. Suasana cerita adalah perasaan atau suasana kejadian peristiwa dalam cerpen itu terjadi. Suasana cerita juga dapat dipahami sebagai latar yang berhubungan dengan situasi atau kondisi ketika terjadinya peristiwa dalam cerita. Contoh Latar Suasana adalah saat gembira, saat galau, saat sedih, saat kecewa dan lain sebagainya.
            Latar cerita adalah unsur instrinsik cerpen kelima yang harus ada dalam setiap cerpen. Latar tidak saja berarti tempat terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita, tetapi juga daerah tertentu, orang-orang tertentu dengan watak-watak tertentu akibat situasi lingkungan atau zaman tertentu, cara hidup tertentu, cara berpikir tertentu. Latar harus menyatu dengan kisah dan perwatakan tokoh.
Ada 3 jenis latar/setting yang utama yakni latar tempat, latar waktu dan latar suasana seperti yang dijelaskan sebagai berikut (Jakob Sumardjo dan Saini K.M., 1986: 75-81):
1.      Latar tempat yaitu menjelaskan dimana peristiwa dalam novel terjadi, misalnya di rumah, di sekolah, di kota, di jalan dan sebagainya.
2.      Latar waktu yaitu menjelaskan kapan peristiwa dalam novel terjadi, misalnya saat pagi hari, malam hari, kemarin, keesokan harinya dan sebagainya.
3.      Latar suasana yaitu menjelaskan bagaimana gambaran suasana saat peristiwa dalam novel terjadi, bisa berkaitan dengan perasaan tokoh juga, misalnya suasana ramai, suasana tegang, suasana sedih dan sebagainya.
Unsur intrinsik cerpen keenam adalah sudut pandang atau point of view. Pengertian sudut pandang adalah cara pandang pengarang dalam menceritakan kisahnya dalam cerpen. Secara umum ada 2 jenis sudut pandang dalam novel yakni sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga sebagai berikut.
1.      Sudut pandang orang pertama yaitu cara pengarang menyampaikan cerita sebagai orang pertama. Ciri-cirinya adalah menggunakan kata ganti orang pertama seperti aku, kami dan sebagainya.
2.      Sudut pandang orang ketiga cara pengarang menyampaikan cerita sebagai orang ketiga. Ciri-cirinya adalah menggunakan kata ganti orang ketiga seperti dia, mereka dan sebagainya.
Gaya bahasa merupakan unsur inrinsik cerpen yang ketujuh. Gaya bahasa adalah ciri khas pemilihan kata dan bahasa yang digunakan oleh penulis. Artinya cerpenis tentu memiliki gaya bahasa yang berbeda-beda. Gaya bahasa bisa berupa pemilihan kata, penggunaan kalimat, penghematan kata, pemakaian majas dan sebagainya.

TEKNIK MENULIS CERPEN
            Setiap cerpenis memiliki teknik penulisan atau penciptaan cerpen yang berbeda-beda dan khas. Namun, secara umum teknik menulis cerpen dapat dipilah menjadi empat teknik besar, yakni teknik tema, teknik tokoh, teknik bebas, dan teknik kerangka karangan. Adapun di antara keempat teknik tersebut tidak ada yang lebih baik, semuanya baik. Pemilihan teknik penciptaan didasarkan pada selera penulisnya atau cerpenisnya.
            Teknik tema adalah teknik penciptaan cerpen yang menitikberatkan penciptaannya pada tema. Pada teknik ini, seorang cerpenis mula-mula menetapkan tema yang hendak diangkat dalam cerpennya.  Pada teknik ini, perhitungan mengenai tepat atau tidaknya tema yang hendak disampaikan menjadi pertimbangan mendasar yang utama.
            Berbeda dengan teknik tema, teknik tokoh adalah teknik penulisan cerpen berdasarkan tokoh yang diminati oleh seorang cerpenis. Teknik ini pernah digunakan oleh Budi Darma dalam menulis cerpen-cerpennya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington. Seorang cerpenis yang hendak menulis dengan menggunakan teknik ini harus memiliki gambaran untuh mengenai perwatakan dan profil fisik tokoh yang hendak diangkat dalamnya. Biasanya, cerpenis yang menggunakan teknik ini tidak terlalu memperdulikan apakah tema yang diangkatnya cukup menarik atau aktual. Profil tokoh yang menjadi pusat perhatian dan pemicu kreativitas penciptaan cerpen yang diciptakan oleh cerpenis tersebut.
            Teknik bebas merupakan teknik berikutnya yang biasa digunakan cerpenis dalam menciptakan karya cerpennya. Teknik bebas adalah teknik penciptaan cerpen yang membiarkan cerita hadir tanpa batas. Pada teknik ini, seorang cerpenis biasanya hanya berdasar pada cerita yang ingin disampaikan. Tema dan tokoh tidak terlalu diperdulikan. Teknik ini juga banyak digunakan oleh cerpenis Indonesia, salah satunya adalah Eka Kurniawan.
            Adapun teknik keempat adalah teknik kerangka karangan. Seorang cerpenis bisa saja melakukan pemetaan cerita sebelum dia menulis utuh cerpennya. Dalam teknik penciptaan cerpen model ini, seorang cerpenis membuat bagan alur cerita sehingga cerpen yang ditulisnya tidak melenceng jauh dari kehendak cerpenisnya. Namun, teknik ini memiliki kekurangan. Biasanya cerpen yang hadir dengan teknik ini memiliki cerita yang sudah terencana dengan baik. Dampaknya sisi misteri cerita yang kerap membuat pembaca tertarik pada cerita tidak muncul. Pembaca bisa dengan mudah menebak akhir cerita.

SUMBER INSPIRASI CERITA
            Dalam tindak penciptaan karya sastra, sumber inspirasi menjadi hal penting. Sumber inspirasi menjadi pemicu awal yang memungkinkan seseorang dapat melakukan tindak penciptaan karya sastra. Begitu juga pada tindak penciptaan cerpen. Seorang cerpenis haruslah memiliki inspirasi yang membuatnya bersemangat atau memiliki tenaga untuk menciptakan cerpen. Tenaga penciptaan itulah yang nantinya dapat menginspirasi pembaca cerpen yang diciptakan oleh cerpenis tersebut. Dengan kata lain, semakin kuat daya inspirasi yang diterima oleh cerpenis, semakin kuat pula cerpen ciptaannya dapat menginspirasi pembacanya.
            Inspirasi cerita bisa diperoleh oleh cerpenis dari banyak hal atau tempat. Sumber inspirasi bisa berasal dari kehidupan yang dijalani oleh cerpenisnya sendiri. Hal tersebut sebagaimana yang dialami oleh Pidi Baiq ketika menciptakan karya novelnya yang berjudul Dilan. Bagi Pidi Baiq kisah hidupnya atau riwayat hidupnya merupakan sumber inspirasi menarik yang dapat membuatnya untuk menciptakan sebuah novel. Namun, inspirasi yang menjadi sumber penciptaan cerpen juga dapat berasal dari sumber yang lain.
            Buku juga dapat menjadi sumber inspirasi yang bagi seorang cerpenis. Pembacaan sebuah buku kerap kali memiliki kesan yang mendalam bagi seseorang. Kesan yang mendalam tersebut dapat membuat seseorang untuk tergerak melakukan kerja penulisan ulang dengan kreativitas yang dimilikinya. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh pengarang Amerika yang terkenal, Jorge Luis Borges. Borges ketika mengarang cerpennya yang berjudul Ibnu Hakkan Al-Bokhari Mati di Dalam Labirinnya Sendiri terinspirasi oleh cerita yang dia baca dalam Al-Quran. Pada intinya, sebenarnya, terdapat banyak sumber inspirasi yang dapat dijadikan pemicu awal bagi seorang cerpenis untuk menciptakan karya cerpennya.

PENUTUP
            Menulis cerpen merupakan tindakan yang dapat meningkatkan kreativitas kita sebagai manusia, karena dalam menulis cerpen kita diajak untuk meningkatkan kemampuan kita tidak saja dalam hal berpikir, tetapi juga mengamati, dan merasakan. Maka, menulis cerpen menjadi elemen penting bagi terwujudnya kemampuan kreatif manusia. Meskipun demikian, untuk menjadi seorang cerpenis hal yang pertama harus dilakukan adalah menulis cerpen. Penguasaan teknik penulisan cerpen bukanlah syarat pertama yang harus dimiliki. Namun, niat menulis cerpen itulah yang menjadi dasar terciptanya sebuah cerpen. Maka, menulis cerpen, menulis cerpen, dan menulis cerpen merupakan kegiatan yang harus dilakukan apabila dia ingin menjadi seorang cerpenis.

DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H.. 2012. Glossary of Literary Terms. Boston: Wadsworth.
Hartoko, Dick dan B. Rahmanto. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Klarer, Mario. 2005. Introduction to Literary Study. London: Routledge.
Sumardjo, Jakob dan Saini K.M.. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.






[1] Makalah ini disusun sebagai acuan dalam acara Bimtek Gerakan Literasi Nasional di Probolinggo dengan tema  “Penulisan Pentigraf bagi SIswa SMA, SMK, dan MA se-Wilayah Probolinggo” di Aula SMA Negeri 4  di Kota Probolinggo, pada tanggal 4—6 April 2019.
[2] Charles Baudelaire merupakan sastrawan kenamaan dari Perancis. Lahir pada tahun 1821 dan meninggal pada tahun 1867. Karya-karyanya banyak menginspirasi sastrawan dunia, termasuk para sastrawan Indonesia. Cerpen karya Baudelaire yang dikutip dalam makalah ini diambil dari cerpen Baudelaire yang diterjemahkan oleh Indra Tjahyadi dan dimuat di http://intjah.blogspot.com/2011/08/.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar