Selasa, 10 Maret 2020

KEGETIRAN HIDUP AYAHKU PULANG (Article by Indra Tjahyadi)


KEGETIRAN HIDUP AYAHKU PULANG[1]
Oleh Indra Tjahyadi*)

Sah-sah saja, setiap orang menyatakan bahwa kebahagiaan adalah hal yang sederhana. Namun, bagi sebagaian orang, untuk mencapai hal itu bukanlah perkara yang mudah atau sederhana. Berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan seseorang atau sebuah keluarga, mungkin, tidak memungkinkan hal itu untuk terjadi. Maka, kebahagiaan bagi sebagian orang bukanlah hal yang sederhana.
            Hadir dengan gaya drama realis, Ayahku Pulang merupakan drama getir tentang konflik kehidupan sebuah keluarga. Drama yang disutradarai oleh Novi Arianto dan dipentaskan di Taman Budaya Jawa Timur Surabaya pada tanggal 24 Agustus 2018 tersebut menampilkan konflik kegetiran hidup yang dialami oleh sebuah keluarga akibat kepergian si ayah. Konflik tersebut semakin memuncak ketika si ayah hadir kembali dalam kehidupan keluarga tersebut setelah lama pergi. Lewat gaya drama realis yang berisi dialog-dialog tanpa lelucon, konflik keluarga yang disebabkan oleh tokoh Ayah tersebut dihadirkan dengan nada yang serius. Simak saja dialog antara tokoh Ibu dengan tokoh Gunarto yang hadir dalam pentas tersebut berikut:
Dimanalah dicari,Narto? Adik mu Mintarsih hanyalah seorang gadis biasa.”
“Semua ini adalah karena ulah Ayah! Hingga Mintarsih harus menderita pula! Sejak kecil Mintarsih sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Tapi kita sudah melewati  kesulitan ini, Bu! Ini kewajibanku sebagai abangnya, aku harus lebih keras lagi berusaha!”

Drama ini penuh dan sesak dengan dialog. Bagi penonton drama yang tidak terbiasa dengan tampilan drama realis yang penuh dialog, tentunya, akan merasakan kejenuhan. Tidak ada aksi akrobatik aktor di atas pentas drama, hanya dialog-dialog panjang yang penuh dengan kata-kata yang hadir dalam pentas drama ini. Sebagaimana yang tampak pada kutipan dialog antara tokoh Maimun dengan tokoh Gunarto berikut:
                        Tapi, Bang. Ibu saja sudah memaafkannya. Kenapa kita tidak?”
            Ibu hanya seorang perempuan. Waktu aku kecil dulu, aku pernah menangis dipangkuan Ibu karena lapar, dingin dan penyakitan, dan Ibu selalu bilang “Ini semua adalah kesalahan Ayahmu, Ayahmu yang harus disalahkan.” Lalu kemudian aku jadi budak suruhan orang! Dan Ibu jadi babu mencuci pakaian kotor orang lain! Tapi aku berusaha bekerja sekuat tenagaku! Aku buktikan kalau aku dapat memberi makan keluargaku! Aku berteriak kepada dunia, aku tidak butuh pertolongan orang lain, .. orang yang meninggalkan anak dan isterinya dalam keadaan sengsara. Tapi aku sanggup menjadi orang yang berharga, meskipun aku tidak mengenal kasih sayang seorarng ayah! Waktu aku berumur delapan belas tahun, tak lain yang selalu terbayang dan terlihat diruang mataku hanya gambaran Ayahku yang telah sesat! Ia melarikan diri dengan seorang perempuan asing yang lalu menyeretnya kedalam lembah kedurjanaan! Lupa ia kepada anak dan isterinya! Juga lupa ia kepada kewajibannya karena nafsunya telah membawanya kepintu neraka! Hutangnya yang ditinggalkan kepada kita bertimbun-timbun! Sampai-sampai buku tabunganku yang disimpan oleh Ibu ikut hilang juga bersama Ayah yang minggat itu! Yah, masa kecil kita sungguh-sungguh sangat tersiksa. Maka jika memang kita mempunyai Ayah, maka Ayah itulah musuhku yang sebesar-besarnya!!”

Dialog-dialog yang penuh dengan intensitas keseriusan yang menguras enerji menjadi titik tekan pada drama ini. Ini seakan membuat penonton tidak diberi ruang untuk sejenak istirah dari setiap dialog yang dihadirkan. Penonton seperti terus untuk dipaksa mengikuti setiap dialog yang dihadirkan oleh para tokoh dalam drama tersebut. Bagi penonton yang mengharapkan hadirnya lelucon dan penuh permainan parodi, tentunya, Ayahku Pulang bukan drama yang diharapkan.
            Drama Ayahku Pulang yang dipentaskan oleh Kelompok Teater Racun Tikus Surabaya, dengan sutradara Novi Arianto ini, berasal dari naskah drama karya Usmar Ismail. Naskah ini ditulis oleh Usmar Ismail pada kisaran tahun 1950an. Dalam keberadaannya, naskah ini pernah difilmkan oleh Usmar Ismail pada tahun 1950an dengan judul Dosa Tak Berampun.
               Upaya Novi Arianto sebagai sutradara untuk menghadirkan drama yang serius tidak hanya tampak pada dialog-dialog yang dihadirkan, tetapi juga pada tata artistik panggung. Penggunaan latar yang menyerupai gudang barang bekas dihadirkan dalam drama tersebut dengan gaya realis. Tidak ada ornamen pada latar yang dapat membuat penonton untuk sedikit merasakan lelucon. Barang-barang bekas yang ditumpuk di atas panggung merupakan gambaran betapa drama Ayahku Pulang ini benar-benar ingin menghadirkan drama realis yang serius.
            Kiranya, sudah lama kita tidak mendapatkan atau menemukan suguhan drama realis yang serius. Di tengah hiruk pikuk drama parodi atau eksperimental yang mendominasi panggung drama kita saat ini, Ayahku Pulang bisa menjadi alternatif pentas drama yang patut diapresiasi.

*) Penulis adalah penikmat seni.
           
             



[1] Tulisan ini adalah tulisan pengantar untuk pertunjukan drama yang disutradarai oleh Novi Arianto yang dipentaskan di Taman Budaya Jawa Timur Surabaya pada tanggal 24 Agustus 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar