KEGETIRAN
HIDUP AYAHKU PULANG[1]
Oleh Indra Tjahyadi*)
Sah-sah saja, setiap orang menyatakan bahwa kebahagiaan adalah hal
yang sederhana. Namun, bagi sebagaian orang, untuk mencapai hal itu bukanlah
perkara yang mudah atau sederhana. Berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan
seseorang atau sebuah keluarga, mungkin, tidak memungkinkan hal itu untuk
terjadi. Maka, kebahagiaan bagi sebagian orang bukanlah hal yang sederhana.
Hadir dengan gaya
drama realis, Ayahku Pulang merupakan
drama getir tentang konflik kehidupan sebuah keluarga. Drama yang disutradarai
oleh Novi Arianto dan dipentaskan di Taman Budaya Jawa Timur Surabaya pada
tanggal 24 Agustus 2018 tersebut menampilkan konflik kegetiran hidup yang
dialami oleh sebuah keluarga akibat kepergian si ayah. Konflik tersebut semakin
memuncak ketika si ayah hadir kembali dalam kehidupan keluarga tersebut setelah
lama pergi. Lewat gaya drama realis yang berisi dialog-dialog tanpa lelucon,
konflik keluarga yang disebabkan oleh tokoh Ayah tersebut dihadirkan dengan nada
yang serius. Simak saja dialog antara tokoh Ibu dengan tokoh Gunarto yang hadir
dalam pentas tersebut berikut:
“Dimanalah dicari,Narto? Adik mu Mintarsih hanyalah seorang gadis
biasa.”
“Semua ini adalah karena ulah Ayah! Hingga Mintarsih harus menderita
pula! Sejak kecil Mintarsih sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Tapi kita
sudah melewati kesulitan ini, Bu! Ini
kewajibanku sebagai abangnya, aku harus lebih keras lagi berusaha!”
Drama ini penuh dan sesak dengan dialog. Bagi penonton drama yang
tidak terbiasa dengan tampilan drama realis yang penuh dialog, tentunya, akan
merasakan kejenuhan. Tidak ada aksi akrobatik aktor di atas pentas drama, hanya
dialog-dialog panjang yang penuh dengan kata-kata yang hadir dalam pentas drama
ini. Sebagaimana yang tampak pada kutipan dialog antara tokoh Maimun dengan
tokoh Gunarto berikut:
“Tapi,
Bang. Ibu saja sudah memaafkannya. Kenapa kita tidak?”
“Ibu hanya seorang perempuan. Waktu aku kecil
dulu, aku pernah menangis dipangkuan Ibu karena lapar, dingin dan penyakitan,
dan Ibu selalu bilang “Ini semua adalah kesalahan Ayahmu, Ayahmu yang harus
disalahkan.” Lalu kemudian aku jadi budak suruhan orang! Dan Ibu jadi babu
mencuci pakaian kotor orang lain! Tapi aku berusaha bekerja sekuat tenagaku!
Aku buktikan kalau aku dapat memberi makan keluargaku! Aku berteriak kepada
dunia, aku tidak butuh pertolongan orang lain, .. orang yang meninggalkan anak
dan isterinya dalam keadaan sengsara. Tapi aku sanggup menjadi orang yang
berharga, meskipun aku tidak mengenal kasih sayang seorarng ayah! Waktu aku
berumur delapan belas tahun, tak lain yang selalu terbayang dan terlihat
diruang mataku hanya gambaran Ayahku yang telah sesat! Ia melarikan diri dengan
seorang perempuan asing yang lalu menyeretnya kedalam lembah kedurjanaan! Lupa
ia kepada anak dan isterinya! Juga lupa ia kepada kewajibannya karena nafsunya
telah membawanya kepintu neraka! Hutangnya yang ditinggalkan kepada kita
bertimbun-timbun! Sampai-sampai buku tabunganku yang disimpan oleh Ibu ikut
hilang juga bersama Ayah yang minggat itu! Yah, masa kecil kita sungguh-sungguh
sangat tersiksa. Maka jika memang kita mempunyai Ayah, maka Ayah itulah musuhku
yang sebesar-besarnya!!”
Dialog-dialog yang penuh dengan
intensitas keseriusan yang menguras enerji menjadi titik tekan pada drama ini.
Ini seakan membuat penonton tidak diberi ruang untuk sejenak istirah dari
setiap dialog yang dihadirkan. Penonton seperti terus untuk dipaksa mengikuti
setiap dialog yang dihadirkan oleh para tokoh dalam drama tersebut. Bagi penonton
yang mengharapkan hadirnya lelucon dan penuh permainan parodi, tentunya, Ayahku Pulang bukan drama yang diharapkan.
Drama Ayahku Pulang yang dipentaskan oleh
Kelompok Teater Racun Tikus Surabaya, dengan sutradara Novi Arianto ini,
berasal dari naskah drama karya Usmar Ismail. Naskah ini ditulis oleh Usmar
Ismail pada kisaran tahun 1950an. Dalam keberadaannya, naskah ini pernah
difilmkan oleh Usmar Ismail pada tahun 1950an dengan judul Dosa Tak Berampun.
Upaya Novi Arianto sebagai sutradara untuk menghadirkan
drama yang serius tidak hanya tampak pada dialog-dialog yang dihadirkan, tetapi
juga pada tata artistik panggung. Penggunaan latar yang menyerupai gudang
barang bekas dihadirkan dalam drama tersebut dengan gaya realis. Tidak ada
ornamen pada latar yang dapat membuat penonton untuk sedikit merasakan lelucon.
Barang-barang bekas yang ditumpuk di atas panggung merupakan gambaran betapa
drama Ayahku Pulang ini benar-benar
ingin menghadirkan drama realis yang serius.
Kiranya, sudah
lama kita tidak mendapatkan atau menemukan suguhan drama realis yang serius. Di
tengah hiruk pikuk drama parodi atau eksperimental yang mendominasi panggung
drama kita saat ini, Ayahku Pulang
bisa menjadi alternatif pentas drama yang patut diapresiasi.
*) Penulis adalah penikmat seni.
[1]
Tulisan ini adalah tulisan pengantar untuk pertunjukan drama yang disutradarai
oleh Novi Arianto yang dipentaskan di Taman Budaya Jawa Timur Surabaya pada
tanggal 24 Agustus 2018.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar