Kamis, 21 Februari 2019

KOTA TANPA MANUSIA AGUNG TATO


Oleh Indra Tjahyadi*)

Kota bukan lagi sebuah ruang sosial. Dalam arti bahwa kota yang seharusnya berfungsi sebagai domain tempat manusia melakukan praktik interaksi antarmanusia, tidak berlaku lagi. Ini tampak pada pembangunan kota yang tidak lagi memperhitungkan sisi kenyamanan manusia. Oleh karena itu, definisi kota sebagai tempat hunian manusia, atau tempat manusia tinggal dan mengembangkan diri sudah tidak berlaku lagi.

Saat ini, kota dibangun adalah untuk kota itu sendiri. Perhitungan kecantikan atau keindahan kota menjadi faktor utama yang melandasi pengembangan sebuah kota. Lanskap humanis yang menempatkan manusia sebagai subjek pengembangan kota telah hilang. Maka, tidak heran, apabila kota-kota yang bertumbuhan saat ini hadir dengan citra yang megah dan indah, tetapi tidak memiliki sense of humanity. Akhirnya fungsi kota sebagai pembentuk dunia sosial manusia, sebagai media pemenuh kebutuhan sosial manusia lenyap.

Kiranya, inilah yang ditangkap oleh Agung Tato dalam pergelutan kreatifnya sebagai perupa yang tumbuh dan besar di salah satu kota terbesar di Indonesia, Surabaya. Agung Tato melihat bahwa kota adalah ruang yang diisi oleh bangunan-bangunan tanpa manusia. Bangunan-bangunan tersebut berjejalan membentuk lanskap yang ruwet dan rumit. Bangunan-bangunan tersebut berada di dalam kota. Adapun manusia berada dalam lingkaran luar dari domain kota. Ini tampak pada lukisannya yang berjudul Seond Level. 

Second Level merupakan lukisan Agung Tato yang diproduksi pada tahun 2013. Pada lukisan yang diproduksi dengan menggunakan bahan perpaduan antara charcoal dan cat minyak di atas media kanvas tersebut kota ditampilkan dengan citraan yang suram dan sunyi. Komposisi rampat dan sesak yang dipenuhi oleh figur-figur atap gedung yang saling berhimpitan, didukung pemilihan warna dasar lukisan yang gelap menjadikan lukisan tersebut hadir dengan komposisi yang memperlihatkan kesan suram. Hal tersebut dipertajam lagi dengan tidak adanya figur manusia yang tampak pada lukisan tersebut.

Tidak adanya figur manusia dalam lukisan tersebut membuat kota seakan sebuah wilayah yang sunyi terhadap kehidupan. Dalam perspektif Tato, kota hadir sebagai wilayah yang tidak nyaman dengan kehidupan. Kota hanyalah tempat bagi bangunan-bangunan material yang non-manusiawi. Lukisan Tato tersebut seakan hadir sebagai metafora tentang ketiadaan nilai-nilai kemanusiaan.

Ketiadaan nilai-nilai manusia tersebut, juga tampak pada lukisan karya Agung Tato yang lain. Seperti dalam lukisannya yang berjudul City of Tommorow. City of Tommorow merupakan lukisan yang diciptakan Agung Tato pada tahun 2010. Berbeda dengan Second Level yang hadir dengan model pewarnaan monokrom, City of Tommorow hadir dengan pewarnaan yang rancak dan perhitungan pencahayaan yang tajam. Penggunaan media kanvas dan akrilik, membuat lukisan tersebut tampak begitu cerah dalam pewarnaan. Namun, perwarnaan tersebut masih saja memperlihatkan nuansa kesunyian yang kuat. Meski tidak hadir dengan kesan suram, kesunyian dalam lukisan Agung Tato tersebut tampak begitu kuat dengan tidak hadirnya figur mahluk hidup di dalamnya.

Secara umum, kota dipahami sebagai tempat permukiman yang berpenduduk relatif besar, luas areal terbatas, pada umumnya bersifat nonagraris, kepadatan penduduk relatif tinggi, tempat sekelompok orang dalam jumlah tertentu dan bertempat tinggal dalam suatu wilayah geografis tertentu, cenderung berpola hubungan rasional, ekonomis, dan individualistis. Definisi tersebut masih mengandaikan bahwa kota merupakan wilayah yang dihuni oleh manusia. Ini jelas berbeda dengan definisi kota yang dibangun dalam lukisan Agung Tato.

Dalam lukisannya yang berjudul City of Tommorow, kota hadir sebagai sebuah wilayah yang penuh warna tetapi jauh dari nilai-nilai kemanusia. Ini tampak sekali dengan tidak dihadirkannya figur manusia atau mahluk hidup lainnya dalam lukisan tersebut. Kota seakan menjadi wilayah bagi benda-benda selain mahluk hidup. Kota merupakan wilayah yang tidak menawarkan kenyamanan bagi kehidupan. Figur besi yang bertebaran dalam komposisi lukisan tersebut sekan menjadi penanda yang mereferen pemaknaan kota telah berubah identitasnya menjadi wilayah tempat benda-benda non-mahluk hidup berada.

Hal yang sama juga tampak pada lukisan yang berjudul B… karya Agung Tato.  Lukisan tersebut diciptakan oleh Agung Tato pada tahun 2011. Penggunaan akrilik dan karkoal di atas media kanvas menjadi alat yang dipilih oleh Agung Tato dalam menciptakan lukisan tersebut. Meski hadir dengan komposisi pewarnaan yang memikat penglihatan, namun lukisan tersebut tetap memperlihatkan watak satiris Agung Tato dalam memaknai kota. 

Dominasi warna merah pada figur-figur seperti besi dalam lukisan tersebut seakan memberikan kesan adanya degup kehidupan pada kota. Namun, degup kehidupan tersebut tidak atau bukan dihasilkan oleh manusia. Warna merah pada besi-besi yang menjulur seakan tampak seperti urat dan saraf yang dimiliki oleh mahluk ini. Ini seakan mengartikulasikan bahwa kehidupan kota bukan dihasilkan oleh mahluk hidup yang berada di dalamnya, tetapi oleh bangunan-bangunan yang berjuluran dan bertegakan. Urat dan saraf kota adalah bangunan.

Secara umum, lukisan B… tersebut memang hadir sedikit berbeda dengan dua lukisan yang telah dibahas sebelumnya. Pada lukisan ini tidak tampak kesunyian, namun tetap saja kehidupan yang dihadirkan adalah kehidupan yang tidak mengandaikan adanya mahluk hidup di dalamnya. Tentunya, ini menimbulkan pertanyaan: “Apakah saat ini kota memang bukan lagi miliki manusia?

Saat ini kota telah tumbuh di luar kuasa manusia. Manusia bukan lagi subjek yang menjadi pusat bagi pengembangan atau pertumbuhan sebuah kota. Kota hadir sebagai kota itu sendiri, terlepas dari berbagai mahluk hidup yang ada di alam semesta. Kiranya, inilah makna kota yang ingin dikontruksikan oleh Agung Tato dalam lukisan-lukisannya. Kota dalam lukisan Agung Tato adalah kota tanpa manusia.

*) Penulis adalah penikmat seni dan sastra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar