Oleh Indra
Tjahyadi*)
Kota bukan lagi sebuah ruang sosial.
Dalam arti bahwa kota yang seharusnya berfungsi sebagai domain tempat manusia
melakukan praktik interaksi antarmanusia, tidak berlaku lagi. Ini tampak pada
pembangunan kota yang tidak lagi memperhitungkan sisi kenyamanan manusia. Oleh
karena itu, definisi kota sebagai tempat hunian manusia, atau tempat manusia
tinggal dan mengembangkan diri sudah tidak berlaku lagi.
Saat ini, kota
dibangun adalah untuk kota itu sendiri. Perhitungan kecantikan atau keindahan
kota menjadi faktor utama yang melandasi pengembangan sebuah kota. Lanskap
humanis yang menempatkan manusia sebagai subjek pengembangan kota telah hilang.
Maka, tidak heran, apabila kota-kota yang bertumbuhan saat ini hadir dengan
citra yang megah dan indah, tetapi tidak memiliki sense of humanity. Akhirnya fungsi kota sebagai pembentuk dunia
sosial manusia, sebagai media pemenuh kebutuhan sosial manusia lenyap.
Kiranya, inilah
yang ditangkap oleh Agung Tato dalam pergelutan kreatifnya sebagai perupa yang tumbuh
dan besar di salah satu kota terbesar di Indonesia, Surabaya. Agung Tato
melihat bahwa kota adalah ruang yang diisi oleh bangunan-bangunan tanpa
manusia. Bangunan-bangunan tersebut berjejalan membentuk lanskap yang ruwet dan
rumit. Bangunan-bangunan tersebut berada di dalam kota. Adapun manusia berada
dalam lingkaran luar dari domain kota. Ini tampak pada lukisannya yang
berjudul Seond Level.
Second Level merupakan lukisan
Agung Tato yang diproduksi pada tahun 2013. Pada lukisan yang diproduksi dengan
menggunakan bahan perpaduan antara charcoal
dan cat minyak di atas media kanvas tersebut kota ditampilkan dengan citraan
yang suram dan sunyi. Komposisi rampat dan sesak yang dipenuhi oleh figur-figur
atap gedung yang saling berhimpitan, didukung pemilihan warna dasar lukisan
yang gelap menjadikan lukisan tersebut hadir dengan komposisi yang
memperlihatkan kesan suram. Hal tersebut dipertajam lagi dengan tidak adanya
figur manusia yang tampak pada lukisan tersebut.
Tidak adanya figur manusia dalam lukisan tersebut membuat kota seakan
sebuah wilayah yang sunyi terhadap kehidupan. Dalam perspektif Tato, kota hadir
sebagai wilayah yang tidak nyaman dengan kehidupan. Kota hanyalah tempat bagi
bangunan-bangunan material yang non-manusiawi. Lukisan Tato tersebut seakan
hadir sebagai metafora tentang ketiadaan nilai-nilai kemanusiaan.
Ketiadaan nilai-nilai manusia tersebut, juga tampak pada lukisan karya
Agung Tato yang lain. Seperti dalam lukisannya yang berjudul City of Tommorow. City of Tommorow merupakan lukisan yang
diciptakan Agung Tato pada tahun 2010. Berbeda dengan Second Level yang hadir dengan model pewarnaan monokrom, City of Tommorow hadir dengan pewarnaan
yang rancak dan perhitungan pencahayaan yang tajam. Penggunaan media kanvas dan
akrilik, membuat lukisan tersebut tampak begitu cerah dalam pewarnaan. Namun,
perwarnaan tersebut masih saja memperlihatkan nuansa kesunyian yang kuat. Meski
tidak hadir dengan kesan suram, kesunyian dalam lukisan Agung Tato tersebut
tampak begitu kuat dengan tidak hadirnya figur mahluk hidup di dalamnya.
Secara umum,
kota dipahami sebagai tempat permukiman yang berpenduduk relatif besar, luas
areal terbatas, pada umumnya bersifat nonagraris, kepadatan penduduk relatif
tinggi, tempat sekelompok orang dalam jumlah tertentu dan bertempat tinggal
dalam suatu wilayah geografis tertentu, cenderung berpola hubungan rasional,
ekonomis, dan individualistis. Definisi tersebut masih mengandaikan bahwa kota
merupakan wilayah yang dihuni oleh manusia. Ini jelas berbeda dengan definisi
kota yang dibangun dalam lukisan Agung Tato.
Dalam
lukisannya yang berjudul City of Tommorow,
kota hadir sebagai sebuah wilayah yang penuh warna tetapi jauh dari nilai-nilai
kemanusia. Ini tampak sekali dengan tidak dihadirkannya figur manusia atau
mahluk hidup lainnya dalam lukisan tersebut. Kota seakan menjadi wilayah bagi
benda-benda selain mahluk hidup. Kota merupakan wilayah yang tidak menawarkan
kenyamanan bagi kehidupan. Figur besi yang bertebaran dalam komposisi lukisan
tersebut sekan menjadi penanda yang mereferen pemaknaan kota telah berubah
identitasnya menjadi wilayah tempat benda-benda non-mahluk hidup berada.
Hal yang
sama juga tampak pada lukisan yang berjudul B…
karya Agung Tato. Lukisan tersebut
diciptakan oleh Agung Tato pada tahun 2011. Penggunaan akrilik dan karkoal di
atas media kanvas menjadi alat yang dipilih oleh Agung Tato dalam menciptakan
lukisan tersebut. Meski hadir dengan komposisi pewarnaan yang memikat
penglihatan, namun lukisan tersebut tetap memperlihatkan watak satiris Agung
Tato dalam memaknai kota.
Dominasi
warna merah pada figur-figur seperti besi dalam lukisan tersebut seakan
memberikan kesan adanya degup kehidupan pada kota. Namun, degup kehidupan
tersebut tidak atau bukan dihasilkan oleh manusia. Warna merah pada besi-besi
yang menjulur seakan tampak seperti urat dan saraf yang dimiliki oleh mahluk
ini. Ini seakan mengartikulasikan bahwa kehidupan kota bukan dihasilkan oleh
mahluk hidup yang berada di dalamnya, tetapi oleh bangunan-bangunan yang
berjuluran dan bertegakan. Urat dan saraf kota adalah bangunan.
Secara umum,
lukisan B… tersebut memang hadir
sedikit berbeda dengan dua lukisan yang telah dibahas sebelumnya. Pada lukisan
ini tidak tampak kesunyian, namun tetap saja kehidupan yang dihadirkan adalah
kehidupan yang tidak mengandaikan adanya mahluk hidup di dalamnya. Tentunya,
ini menimbulkan pertanyaan: “Apakah saat ini kota memang bukan lagi miliki
manusia?
Saat ini kota telah
tumbuh di luar kuasa manusia. Manusia bukan lagi subjek yang menjadi pusat bagi
pengembangan atau pertumbuhan sebuah kota. Kota hadir sebagai kota itu sendiri,
terlepas dari berbagai mahluk hidup yang ada di alam semesta. Kiranya, inilah
makna kota yang ingin dikontruksikan oleh Agung Tato dalam lukisan-lukisannya. Kota
dalam lukisan Agung Tato adalah kota tanpa manusia.
*) Penulis adalah
penikmat seni dan sastra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar