Senin, 04 Juli 2011

CHIKLIT SEBAGAI WACANA PERJUANGAN PEREMPUAN URBAN

CHIKLIT SEBAGAI WACANA PERJUANGAN PEREMPUAN URBAN
Oleh Indra Tjahyadi

Pada kisaran tahun 2000an dunia sastra pop di Indonesia dihingar-bingari oleh kemunculan genre baru, yakni chiklit. Chiklit merupakan singkatan dari nama chicken literature. Chicken literature atau yang biasa dikenal dengan nama chiklit merupakan genre sastra yang menempatkan perempuan beserta segala pernik kehidupannya sebagai titik utama cerita.

Pilihan perempuan dan kehiupannya sebagai titik utama cerita ini dipilih karena kata chick itu sendiri berarti perempuan. Kata chick adalah kata slang bahasa Inggris Amerika untuk menyatakan "perempuan". Tetapi, tidak semua perempuan dalam dipilih sebagai titik utama pada karya-karya bergenre chiklit ini. Perempuan mandiri yang hidup di kota besar atau perempuan urban mandirilah yang dapat dijadikan titik utama dari cerita-cerita dalam karya bergenre ini.

Dalam membicarakan perempuan ini, chiklit memilih jalan yang lebih ringan dan lebih sederhana. Oleh karena itu, apabila berhadapan dengan karya-karya bergenre ini maka pembaca akan mengalami pengalaman yang sama seperti makan-makan yang renyah. Ia bagaikan satu kudapan. Tetapi, kudapan ini tidak, pada awalnya, tidak diperuntukkan untuk semua gender. Chiklit adalah "kudapan" yang diperuntukkan untuk perempuan. Tetapi, hal yang menarik dari "kudapan" ini adalah "kudapan" ini diciptakan oleh perempuan. Jadi, chiklit merupakan karya yang diciptakan oleh perempuan dan dikonsumsi oleh perempuan pula.

Di Amerika dan Eropa Barat lainnya, chiklit tampil dengan semboyan "fun and fearless female". Bagi chiklit, perempuan bukanlah sosok yang murung, yang senantiasa berada di bawah dominasi satu gender. Bagi chiklit, perempuan adalah mahluk yang ceria dan tidak memiliki rasa takut dalam mengarungi kehidupannya. Keberanian ini dalam karya-karya chiklit direpresentasikan dengan tokoh-tokoh protagonisnya yang berupa perempuan mandiri yang dengan ceria dan penuh keberanian mengarungi kehidupan di kota besar.

Menurut Nur Wulan, seorang pengamat chiklit dari Univ. Airlangga Surabaya, tren chiklit di Indonesia dimulai dengan munculnya novel Cintapucinno karya Icha Rachmanti. Novel ini terbit pada tahun 2004 dan lekas meraih banyak pembaca pada tahun itu. Ini dibuktikan dengan penjualan novel tersebut yang sampai menembus kisaran 11.000 eksemplar. Bagi Wulan, penjualan yang menembus angka tersebut merupakan bukti bahwa novel chiklit mampu meraih perhatian pembaca di Indonesia. Dan angka penjualan yang sampai menembus kisaran 11.000 eksemplar itu sangat signifikan mengingat tradisi baca di Indonesia yang masih relatif tidak banyak peminat bacaan.

Baik di negeri asalnya atau di Indonesia, tokoh-tokoh protagonis dalam chiklit merupakan tokoh-tokoh yang merupakan simbol bagi aspirasi perempuan kota. Tokoh-tokoh protagonis dalam novel-novel chiklit merupakan representasi dari utopia perempuan kota. Inilah, kiranya, yang menjadikan betapa chiklit dapat dengan mudah meraih simpati dari para pembaca bergender perempuan, utamanya.

Tetapi, munculnya chiklit di dalam dunia sastra pop, baik di Ameika atau negeri-negeri Eropa, bahkan di Indonesia, tidak steril dari hal politis. Hadir dengan tagline "Being single and happy", chiklit muncul bukan hanya sebagai pemuas akan mimpi kaum perempuan, tetapi ada hal atau target lebih jauh yang hendak ditawarkan oleh chiklit.

Sebagai wacana, chiklit, sebagaimana pernah diutarakan Laclau dan Mouffe, tentunya tidak steril dari ideologi. Setiap wacana, merujuk pada Laclau dan Mouffe, senantiasa menyimpan dan menawarkan satu pandangan dunia, sebuah ideologi. Dalam kasus wacana chiklit, ideologi yang ingin ditawarkan, atau jika mungkin didesakkan, adalah kedudukan perempuan di tengah wilayah kebudayaan yang didominasi oleh wacana heteroseksual.

Wacana heteroseksual adalah wacana di mana peristiwa seksual berlangsung dalam relasi laki-laki dan perempuan. Sepintas lalu, wacana ini tidak memperlihatkan sesuatu yang bersifat negatif. Tetapi, apabila ditelisik lebih jauh dan dalam, wacana ini menyimpan suatu kuasa hegemonistik yang bermakna bahwa relasi antara laki-laki dan perempuan bukanlah relasi yang sejajar. Ketidaksejajaran dalam wacana heteroseksual ini dapat dilihat bagaimana laki-laki selalu mendapatkan kedudukan yang lebih dominan. Dominasi ini diperlihatkan secara simbolis pada setiap model hubungan seksual di mana laki-laki selalu diberi kedudukan sebagai seorang penetrator. Sebagai seorang penetrator, otomatis laki-lakilah yang memegang kekuasaan, sebab dialah yang menentukan jalannya hubungan. Sebagai penentu, maka laki-laki bebas memutuskan apa-apa yang hendak didesakkannya pada perempuan.

Di dalam perkembangannya, pemaknaan atas wacana heteroseksual yang semacam ini, bagi perempuan urban, memperlihatkan ketidakrelavannya. Tidak relevannya pemaknaan lama terhadap wacana ini karena adanya perubahan konteks. Pemaknaan suatu wacana sangat dipengaruhi oleh konteks. Perubahan konteks berarti berubahnya makna atas suatu wacana. Laclau dan Mouffe berpendapat bahwa makna bukan sesuatu stabil. Ia akan mengalami transformasinya sesuai dengan konteks. Oleh karena itu, makna wacana senantiasa berubah-ubah.

Perubahan konteks zaman mengakibatkan retakan. Retakan ini memungkinkan terjadinya perjuangan kewacanaan. Tidak relevannya lagi makna lama wacana heteroseksual saat ini mengakibatkan munculnya retakan pada hegemoni wacana ini. Keinginan dan harapan baru yang mengenai dihargainya hak-hak perempuan sebagai sesuatu yang sama dengan laki-laki merupakan akibat dari retakan ini.

Kiranya, ini pula yang dibaca oleh para penulis chiklit di seantero dunia. Berubahnya kesadaran perempuan yang berdasar pada ekualitas dengan laki-laki akhirnya mengubah konteks zaman. Lewat chiklit, kesadaran semacam ini diubah menjadi ideologi yang berusaha didesakkan.

Tengok saja karya-karya bergenre chiklit semacam Bridget Jone's Diary, Devil Wears Prada, atau Confenssions of Sophaholic, bahkan Cintapuccino, semuanya mengajukan kesadaran ini. Kesadaran akan ideologi bahwa dalam wacana heteroseksual yang merebak sampai saat ini tidak dapat hanya dipandang dari dominasi laki-laki, tetapi juga harus mengandaikan adanya kesetaraan dengan perempuan tanpa harus melakukan perlawanan yang bersifat revolusioner secara fisik dan vulgar.

Kiranya, sampai di sini, dapat dipahami bahwa telah terjadi pergeseran makna wacana heteroseksual. Pergeseran di mana perempuan bukan lagi menjadi "liyan" yang terdominasi, tetapi sebagai sesuatu yang menjalankan fungsi dialektika tanpa hierarki dengan laki-laki. Inilah wacana perjuangan perempuan urban yang dibawa oleh karya-karya bergenre chiklit. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar