PENGANTAR PENELITIAN KEBUDAYAAN
Oleh: Indra Tjahyadi
Oleh: Indra Tjahyadi
Penelitian kebudayaan merupakan hal yang unik sebab, selain penelitian ini mengikuti karakteristik budaya yang terintegrasi, merupakan refleksi atas fenomena. Karakteristik ini menuntut peneliti budaya, sebagaimana yang disampaikan oleh Mead dan Geerts, harus turun ke lapangan. Lapangan atau konteks lapangan menjadi sangat panting bagi penelitian kebudayaan, sebab peneliti budaya tidak hanya belajar dari teori atau penemuan-penemuan yang telah ada lebih dulu, tetapi lebih dari itu.
Usaha ini memperlihatkan bahwa penelitian kebudayaan merupakan upaya menangkap realitas, tidak hanya mengejar hal-hal yang faktual atau kasat mata tetapi juga fenomena abstrak. Ini juga kiranya yang menjadi faktor mengapa penelitian kebudayaan bersifat holistik sebab meneliti kebudayaan berarti mempelajari manusia.
Manusia memiliki pemikiran. Pemikiran manusia ini senantiasa berubah-ubah. Ini juga yang mengakibatkan perubahan budaya. Maka, peneliti budaya tidak hanya mencari jawaban mengenai kebudayaan yang diteliti saja, tetapi juga mencari dan memahami perubahan-perubahan apa saja yang terjadi pada satu wilayah kebudayaan.
Kebudayaan bukanlah sesuatu yang bersifat pribadi, tetapi sesuatu yang merupakan milik bersama. Menurut Haviland, ada empat ciri khas fenomena budaya, yakni: milik bersama, hasil belajar, didasarkan lambang, dan merupakan kesatuan integratif. Milik bersama berarti bahwa budaya itu merupakan perbuatan yang dapat dipahami dan didukung semua anggota. Hasil belajar maksudnya bahwa budaya adalah bukan warisan biologis. Didasarkan lambang berarti bahwa budaya menghadirkan penafsiran yang berbeda-beda, bahkan terkadang membingungkan peneliti dan pemilik budaya. Merupakan kesatuan integratif berarti budaya itu bersifat total dan tidak parsial.
Di luar empat ciri fenomena Haviland, kiranya, ada baiknya ditambahkan satu faktor lagi, yakni relatif. Budaya memiliki kekuatan relatif. Oleh karena itu, budaya senantiasa memiliki satu relativitas. Relativitas ini terdiri dari dua tataran, yakni: relativitas ideologis dan relativitas metodologis. Relativitas ideologis setiap budaya merupakan konfigurasi unik yang memiliki citarasa khas dan gaya serta kemampuan tersendiri. Relativitas metodologis dalam arti bahwa relativitas ini beranggapan bahwa tidak ada satu pun budaya yang sama. Relativisme budaya membawa pada kebebasan peneliti untuk memahami budaya. Dalam arti bahwa peneliti bebas untuk menentukan langkah-langkah penelitiannya tergantung pada femonea budaya yang ia teliti.
Kebebasan yang dimiliki oleh peneliti budaya ini tidak berarti bahwa peneliti budaya tidak memiliki paradigma. Dalam melakukan penelitian kebudayaan, seorang peneliti budaya didasarkan pada paradigma etik dan emik. Paradigma etik adalah paradigma yang menekankan jarak antara peneliti dan yang diteliti, sementara paradigma emik adalah paradigma peneliti budaya tidak lagi berjarak.
Dalam penelitian budaya yang mengikuti paradigma emik peneliti harus masuk ke dalam fenomena budaya yang menjadi fokus kajiannya. Paradigma ini menuntut peneliti untuk berpartisipasi secara aktif dengan objek yang menjadi fokus kajiannya. Kritik terhadap paradigma ini adalah bahwa peneliti yang mengikuti paradigma ini cenderung menghasilkan penelitian yang subjektif. Berpastisipasi dan leburnya peneliti ke dalam objek kajian mengakibatkan penelitian budaya ini tidak lagi memiliki jarak antara peneliti dan yang diteliti.
Selain paradigma, penelitian kebudayaan memiliki metode. Salah satu metode dalam penelitian budaya adalah fenomenologis Penelitian budaya dengan metode fenomenologis merupakan metode yang sering digunakan saat ini. Metode ini berusaha menggambarkan fenomena kesadaran dan bagaimana femonema itu tersusun. Oleh karena itu,metode fenomenologis kebudayaan menjadi lebih kompleks.
Metocd fenomenologis memengaruhi banyak model penelitian. Salah satunya adalah model kajian budaya yang mendasarkan diri pada iteraksionisme simbolik. Interaksionisme simbolik adalah satu model penelitian budaya yang berusaha mengungkap perilaku manusia. Di sini perilaku manusia dianggap merupakan suatu femonena.
Interaksionisme simbolik berusaha memahami budaya lewat perilaku manusia yang terpantul dalam komunikasi. Penelitian dengan model ini memiliki beberapa prinsip, antara lain: simbol dan interaksi menyatu. Oleh karena itu dalam melakukan penelitian peneliti tidak cukup hanya merekam fakta, tetapi perlu sampai pada konteks. Ini disebabkan karena simbol bersifat personal. Karena simbol bersifat personal maka diperlukan pemahaman tentang jati diri pribadi subjek penelitian.
Selain fenomenologi, ada juga metode pendekatan etnografis. Metode ini merupakan metode penelitian yang bertujuan menguraikan kebudayaan secara holistik, yaitu aspek budaya baik secara spiritual maupun material. Ini disebabkan karena metode ini memanda budaya bukan semata-mata sebagai produk, tetapi merupakan proses.
Penggambaran budaya, dalam metode ini, dilakukan dengan cara thick description. Bahan-bahan etnografi yang berasal dari masyarakat disusun secara diskriptif. Salah satu caranya adalah dengan mengumpulkan data dari informan, lantas mengajukan kontras, dari kontras ini dicari tema-tema baru apa yang muncul. Jadi, dalam metode ini peneliti berusaha mencari tema-tema baru dari suatu budaya.
sangat bermanfaat..
BalasHapus