Rabu, 02 Januari 2013

SURABAYA: KOTA NERAKA SENI

Surabaya: Kota Neraka Seni

 Seputar Indonesia, Selasa 1 Januari 2013

Surabaya merupakan kota neraka bagi dunia seni. Minimnya sarana dan prasarana seni yang memadai di Surabaya merupakan penanda yang mengartikulasikan keberadaan identitas Surabaya sebagai sebuah kota yang tidak ramah terhadap dunia seni.

Padahal,sebagai sebuah kota modern,keberadaan seni sangat dibutuhkan oleh masyarakat Surabaya sebagai wahana kreasi dan rekreasi agar tidak terjerembab ke dalam jurang degradasi kemanusiaan. |erlampau kuatnya artikulasi hegemonis wacana identitas Kota Surabaya sebagai kota perdagangan merupakan faktor utama yang mengakibatkan terpinggirnya dunia seni di Surabaya.

Sebagai kota perdagangan,tentunya,Surabaya hanya akan merelasikan keberadaannya dengan penandapenanda yang berada dalam titik-titik nodal yang dapat mendukung makna wacana perdagangan,seperti penanda “kerja”,“pekerja”,dan “pekerjaan”. Akibatnya,penanda-penanda yang berada di luar wilayah yang dapat mendukung terbentuk makna wacana identitas Surabaya sebagai kota perdagangan harus diekslusi dari keberadaan relasinya dengan Surabaya.

Maka,tidak mengejutkan, apabila bertemu dengan kata Surabaya makna yang terproduksi adalah makna kota yang sibuk dengan kerja.Sebagaimana yang tampak dalam puisi Agam Wispi yang berjudul “Surabaja”. tiap kita djumpa surabaja aku selalu remadja gembira kepada kerdja …. surabaja bau keringat bau kerdja …. Keteguhan keberadaan wacana identitas Kota Surabaya sebagai kota perdagangan juga dapat dirujuk dalam wacana sejarah.

Di dalam wacana sejarah,keberadaan Kota Surabaya selalu direlasikan dengan wacana perdagangan.Hal tersebut tampak dengan diartikulasikannya Kota Surabaya sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang penting dalam sejarah ekonomi Nusantara.Bahkan keberadaan wacana identitas Kota Surabaya sebagai kota perdagangan yang telah dihegemonisasikan oleh wacana sejarah tersebut semakin menemukan kekuatannya ketika Pemerintah Kota Surabaya juga mengartikulasikan hal yang sama.

Melalui situs resmi internetnya, Pemerintah Kota Surabaya menetapkan keberadaan Surabaya sebagai kota perdagangan. Sebagaimana yang tampak kutipan pernyataannya sebagai berikut. Sejarah Surabaya juga berkaitan dengan aktivitas perdagangan.Secara geografis Surabaya memang diciptakan sebagai kota dagang dan pelabuhan.Surabaya merupakan pelabuhan gerbang utama Kerajaan Majapahit.Letaknya yang dipesisir utara Pulau Jawa membuatnya berkembang menjadi sebuah pelabuhan penting di zaman Majapahit pada abad ke - 14.

Berlanjut pada masa kolonial,letak geografisnya yang sangat strategis membuat pemerintah Kolonial Belanda pada abad ke - 19, memposisikannya sebagai pelabuhan utama yang berperan sebagai collecting centers dari rangkaian terakhir kegiatan pengumpulan hasil produksi perkebunan di ujung Timur Pulau Jawa,yang ada di daerah pedalaman untuk diekspor ke Eropa.

Usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya tersebut jelas membuat Surabaya menjadi kota yang hanya berorientasi pada halihwal yang bermakna ekonomistik saja.Akibatnya berbagai hal yang berada di luar hal tersebut dapat direduksi dan diekslusi keberadaannya.Maka,tidak mengherankan apabila pembangunan sarana dan prasarana seni yang jelasjelas tidak dapat mendukung identitas Surabaya sebagai kota perdagangan tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah kota.

Kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan sarana dan prasarana yang dapat mendukung keberadaan Surabaya sebagai kota perdagangan seperti jalan-jalan,dan gedunggedung yang berfungsi sebagai pusat perkantoran dan perbelanjaan lebih diutamakan.Oleh karena itu,tidak mengejutkan apabila diusianya yang telah mencapai 713 tahun Surabaya masih belum memiliki gedung-gedung kesenian yang benar-benar memadai, atau festival-festival seni yang benarbenar dapat mengaktualisasikan dan mengartikulasikan keberadaan dunia seni di Surabaya.

Sebagai masyarakat kota modern, tentunya,masyarakat Surabaya membutuhkan seni.Maka,apabila dunia seni di Surabaya terus menagalami patologi dan ironi semacam itu,dapat diramalkan kehidupan dan peradaban Kota Surabaya akan mengalami krisis.Agar kehidupan dan peradaban Surabaya tidak mengalami krisis,terdapat beberapa jalan yang dapat ditempuh. Jalan pertama adalah pembangun sarana dan prasarana seni yang memadai di Surabaya.

Sampai saat ini,Surabaya hanya punya satu gedung pertunjukan kesenian,yakni gedung Cak Durasim. Dapat dibayangkan bagaimana kota semodern dan penduduknya sebanyak Surabaya hanya memiliki satu gedung kesenian.Tentunya hal tersebut tidak dapat mewadai ekspresi seni dan aktualitasi seni yang terdapat di Surabaya.Oleh karena itu, perlu dibangun lagi beberapa gedung kesenian di Surabaya,dan kebijakan festival seni yang menggunakan ruang-ruang publik.

Selain pembangunan sarana dan prasarana seni dan pemanfaatan ruang publik,usaha untuk membangkitkan dunia seni di Surabaya juga dapat dilakukan dengan jalan mengakomodasi ekspresi seni para senimannya yang tidak berorientasi pada profit. INDRA TJAHYADI TIM FORUM STUDI SASTRA DAN SENI LUAR PAGAR

KESADARAN MULTIKULTURALISME DALAM SASTRA



KESADARAN MULTIKULTURALISME DALAM SASTRA
Oleh: Indra Tjahyadi*)

Seorang sastrawan peraih Hadiah Nobel berdarah Yahudi, Imre Kartesz, pernah menyatakan bahwa tindak penciptaan sastra merupakan kegiatan privat, sesuatu yang pribadi. Artinya tindak penciptaan sastra seorang sastrawan dilakukan untuk melayani atau memenuhi kebutuhan seorang sastrawan itu sendiri. Ini disebabkan karena seorang sastrawan menulis bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk dirinya sendiri.
Bagi seorang sastrawan, dunia adalah kenyataan objektif yang senantiasa berada di luar dirinya. Dunia sebagai kenyataan objektif adalah sesuatu yang terpisah dari diri seorang sastrawan. Keterpisahan ini mengakibatkan adanya jarak antara sastarawan dengan dunia. Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa seorang sastrawan dalam tindak penciptaan sastranya tidak berangkat dari kenyataan, hanya saja kenyataan yang tampil dihadapan seorang sastrawan bukanlah kenyataan objektif tetapi kenyataan subjektif.
Kenyataan subjektif adalah kenyataan objektif yang telah mengalami persinggungan dengan hal-hal yang personal dari seseorang. Ia merupakan hasil dari perbenturan antara represi kenyataan objektif dan resistensi eksistensialis seseorang. Persinggungan dan perbenturan tersebut akhirnya memproduksi sebuah dunia, suatu kenyataan yang memiliki pemaknaan yang berbeda dengan yang disodorkan oleh kenyataan objektif. Keberbedaan ini karena pemaknaan kenyataan subjektif adalah pemaknaan yang sifatnya pribadi.
Adapun sifat pribadi ini mengakibatkan munculnya kebergandaan pemaknaan terhadap sebuah kenyataan yang berusaha dihadirkan dalam sebuah karya sastra. Sebagai contoh tengok saja puisi karya Mashuri yang berjudul Hotel itu Bernama Surabaya:

selat itu menyekat pipih geografi, kau menyebutnya: Surabaya
kota yang terbaca dari titik kecil: noktah hitam di peta,
di pinggir delta, di tepi laut Jawa
kau berhayat di antara kiblat-kiblatnya
ketika kita bertemu tanpa sekat, lalu kau
melihat sebarisan malaikat ---di Ampel, di Bungkul, berjamaat
atau tak terangkul di seberang semak-keramat
tapi aku terasing, buta, serupa pejalan yang tak sempat
melihat ujung tubuh: ber-Hujung Galuh, be-ruh
aku pun tak mampir berlabuh, tak parkir ke riuh
: bongkar-muat, ganti cawat, atau angkat sauh

kau tetap saja berkisah dengan angka, tahun-tahun
tapi aku seperti tersekat di seperempat abad pertama
pasca 1900: saat segala genap menjadi ganjil
dan segala luapan demikian gigil
saat gelora masih membenih di asa: meletup ke degup
indra, seperti pelari dengan api
yang tak redup, meski hati terseret ke jalan-jalan mati
jalan penuh mimpi!

lalu kau sebut 45: aku pun tersudut ke ruang nganga,
aku tak ingat sungguhkah gaung itu meraung
demikian agung; adakah tonggak: lingga yang menancap
tanah demikian tegap; lalu kau acungkan sahwat
: o, pahlawan, pahlawanku bertugu

tapi aku pun seasing budak belian kembali,
ketika segala temali mengikatku lagi
kutapaki jalan-jalan penuh hantu, perempatan berbatu
kulihat mercu suar membubung tinggi, berkabut
aku terpana ke pesona
: di lorong-lorong renjana
aku dipersilah dengan pantun penuh gairah:

“Tanjung Perak, kapale kobong!
Mangga pinarak, kamare kosong!”*

kau pun beringsut, seperti seorang yang mengigau
tapi aku bersorak, tanpa risau:
“inilah Surabaya, hotel tempat singgah
tapi bukan tempat berlibur, atau mengubur darah
segalanya lembur
seperti juga kapal-kapal yang berhenti lalu
berangkat, berganti-ganti
di sini, segala ranjang tak cukup dipandang
tapi dierami
silahkan merangkak, sebab segala sprei tak sengak
tak ada jerami, tak ada jejak
kecuali apak selangkang sendiri, yang kumal
ketika segala kemudi kembali ke asal
ke tujuan awal
di sini, kamar telah menjadi bujur sangkar
dan tak kenal lingkaran”

kau pun turun, menghitung kesunyian demi kesunyian
tapi biografi telah terbelah, garis-garis itu saling patah
kau dapati dirimu batu
tak berayah-beribu ---kau sangsikan jejak
-jejak panjang, segepok riwayat nan keropok
ihwal pertempuran di delta
antara ikan-buaya
lalu segalanya menjadi nama
kota, jalan, kampung, sungai, juga lorong-lorong keparat
tempat buaya darat bermunajat…
kau pun sangsikan segala sebab; kerna tak ada warta
yang lebih nyata kecuali kata-kata dusta
yang diulang ke berjuta

aku pun tersampir seperti gombal lusuh
di pinggir lenguh ---aku tak hirau pada riuh
sejarah ingatanmu
kudapati tubuhku, kurayakan tubuhku
seperti persinggahan di tengah perjalanan
yang tak mengenal kenang
kenanganku pun hilang bersama sunyi
: perempuan
yang selalu berharap diairi, di semak, di makam
di rumah-rumah yang berjajar dengan geletar

ketika kau mabuk
dan ambruk kedalaman luka tak berufuk
: silam!
kuangkat bir hitam, kuingat pada anak terkutuk
: diriku!
aku bangkit, kuangkat sauh, kulenguh langit
: “beri aku harapan untuk berlayar ke cakrawala
tanpa rasa luka oleh perih kenang dan ingat”

di seberang, kubangun kota-kota di hatiku
dengan batu-batu yang kucuri dari persinggahanku
agar aku tidak melupakanmu,
melupakan angka-angka
yang sempat kau hitung dengan deret aritmatika
yang tak kunjung kau ketahui jumlahnya
---kecuali waktu yang terus berputar
kau tetap tak tak ingin sesat di silam
dan terbenam bersama jangkar malam
: kini telah 180 derajat berputar
tak ada alasan untuk membangun sangkar

moga di milenium ini, kau tak lagi terpaku
pada paku silammu
tapi mengandangkannya di kalbu
lalu kau tulis deret rumus baru
: bahwa zaman telah berganti
hotel itu harus diperbarui, dicat dan pugar kembali
atau disucikan api…

Surabaya, 2006/9
* Di Tanjung Perak, kapal dilalap api
silahkan singgah sejenak, kamarnya tak berpenghuni

(Mashuri, Hotel Itu Bernama Surabaya)

Dalam puisi karya Mashuri tersebut Surabaya hadir dengan gambaran yang ironis. Dalam artian, bahwa Surabaya adalah sebuah entitas yang stagnan padahal zaman telah berubah. Selain itu, ironisitas juga ditampilkan dengan betapa rasa asing begitu kuat dirasakan para pendatangnya. Bagi para pendatang tersebut, Surabaya bukanlah wilayah yang menawarkan kenyamanan atau keramahan. Bagi mereka, Surabaya hanyalah tempat singgah. Istirahat sejenak. Rehat tanpa perlu bertegur sapa.
Ini berbeda dengan puisi Kentrung Jancukan karya F. Aziz Manna yang merepresentasikan Surabaya sebagai sebuah domain hunian meskipun tidak menawarkan kenyamanan akan tetapi tetap dihuni dengan rasa riang gembira:

Kramat Gantung pinggir Gemblongan
ini kentrung, kentrung jancukan

saat matahari begitu jalang
nyocok-cucuki pepunggung kuli bangunan
tramtib berdentam
ram tam tam ram tam tam
njebol warung pinggir jalan

dan kendaraan tetap ngerayap
mobil gilap, motor, bemo, becak
nyelonong setopan, nyerundul uyel-uyelan
awas Cak, ini kentrung, kentrung jancukan

ada yang nangis sesenggukan
ada yang ngos-ngosan, ada pentungan, kayu bongkotan
ada juga yang bawa kelewang, bawa parang
bagi yang berada lima kaki dari jalanan
ini bukan pilem murahan
ini kentrung, kentrung jancukan

beberapa pejalan gegas tergesa
megal-megol-naik-turun pinggulnya
dicethot kondektur angkot
            Auw!  
malah ada yang ketawa

dan panas pun tumpah di Surabaya
di bedak-bedak pasar di Surabaya
di sudut-sudut trotoar di Surabaya
seorang bungkuk
merunduk-runduk
nyanyikan kisah cintanya yang keseruduk
Mak, ini kentrung, kentrung jancukan

dedaun garing reranting ceking
yun terayun jatuh di aspal
bah bedebah biarkan saja
biar seluruh kota porak poranda
sebab kata lenyaplah sudah
aum amuk jadi bahasa
percayalah, ini kentrung, kentrung jancukan

ketika lampu mulai dinyalakan
berapa perempuan langsung berdandan
syahdan, di selempitan gang di Surabaya
saat semua orang sibuk takbiran, sibuk ngurusi kuelebaran
seorang perempuan  ditusuk turuknya

Kramat Gantung pinggir Gemblongan
ini kentrung, kentrung jancukan

(F. Aziz Manna, Kentrung Jancukan)

Dari kedua contoh kasus di atas, dapat ditarik pemahaman bahwa tindak penciptaan sastra seorang sastrawan senantiasa berdasar pada kenyataan, akan tetapi kenyataan tersebut bukanlah kenyataan objektif melainkan kenyataan subjektif. Karena kenyataan tersebut subjektif, maka pemaknaan atas kenyataan tersebut meskipun berakar pada kenyataan yang sama akan tetapi dapat menghasilkan produksi makna yang berbeda. Jika diibaratkan kenyataan objektif itu merupakan penanda kosong dalam tesis Ernesto Laclau sedangkan kenyataan subjektif itu tidak lain adalah penanda mengambang yang siap mengisi penanda kosong tersebut.
Adapun penanda mengambang ini jumlahnya sebanyak jumlah benak manusia sebagai pribadi. Oleh karena itu, pemaknaan atas penanda kosong itu tidak pernah bersifat tetap, senantiasa ada fluktuasi dan dinamika pemaknaan atas sebuah penanda kosong. Maka, Surabaya sebagai penanda kosong bisa berarti apa saja, bermakna apa pun, bergantung pada penanda mengambang yang mengisinya.
Selain keterikatan seorang sastrawan dengan kenyataan dan keberagaman pemaknaan, hal lain yang dapat disimpulkan dari fenomena tersebut adalah bahwa telah tumbuh dan diterimanya oleh publik sastra Indonesia kesadaran seorang sastrawan sebagai seseorang yang bersifat pribadi, privat, dan personal. Lebih jauh, dapat ditarik pemahaman, bahwa fenomena ini memperlihatkan adanya kesadaran pentingnya pengakuan hak-hak manusia sebagai individu.
Kesadaran multikulturalisme adalah kesadaran di mana identitas manusia sebagai individu menemukan pengakuannya. Dalam wacana multikultural, keberagaman budaya merupakan faktor penting terciptanya wacana tersebut. Dengan menerima keberagaman budaya maka dapat dikatakan kesetaraan hak hidup, termasuk berekspresi dan bereksistensi, juga telah diakui. Bagi sastrawan, itu semua hanya dapat dicapai apabila seseorang kembali kepada dirinya sebagai seorang individu, seorang pribadi. Karena, bagaimana pun juga, wacana multikultur adalah wacana yang berangkat dari pemahaman penting pengakuan atas hak-hak yang bersifat periferal dan minoritas.
Di dalam kehidupan yang serba otoritatif dan massif, kesadaran individu adalah kesadaran yang terpinggirkan, kesadaran yang minoritas. Ia tidak lebih narasi-narasi kecil yang berserakan yang tidak diakui keberadaannya. Oleh wacana multikulturalisme kesadaran semacam itu berusaha dibongkar. Oleh karena itu, wacana politik multikultur sangat dekat dengan wacana politik liberal karena pengakuan keberagaman hanya dapat terjadi apabila setiap orang memiliki hak suaranya masing-masing. Terbebas dari represi. Terbebas dari tendensi otoritatif penguasa.

*) penulis adalah anggota Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar.

Senin, 22 Agustus 2011

PUISI DI TENGAH MASYARAKAT KRISIS

PUISI DI TENGAH MASYARAKAT KRISIS 
Oleh: Indra Tjahyadi*)
(Jurnal Nasional, 15 Juni 2008)

Puisi tidak lahir dari kekosongan. Ia lahir dari totalitas pengalaman estetika manusia dalam relasinya dengan realitas dunia, yang kemudian dimaterialkan dalam bentuk jalinan kata-kata (yang indah), yang memiliki daya guna bagi kelangsungan hidup peradaban manusia. Antara puisi dan di dunia ia dilahirkan senantiasa memiliki hubungan yang tak terpungkiri. Suatu pertalian yang sangat erat dan saling bersikait antara satu dengan lainnya.
            Realitas dunia adalah tempat pengetahuan-pengetahuan, pengalaman-pengalaman artistik dan kreatif milik seorang penyair ditempa dan dimatangkan. Untuk kemudian dilebur menjadi satu manifestasi total yang baru, yang dengan “campur tangan” realitas dunia menjadi satu material yang mencakup seluruh eksistensi manusia dalam relasi dan keberadaannya dengan dunia. Oleh sebab itu usaha untuk meniadakan relasi antara puisi dan dunia dengan realitasnya adalah hal yang sangat naif dan mengaburkan kebenaran yang ada.
Meskipun demikian kita tidak boleh secara gegabah dan serampangan menyatakan bahwa puisi adalah sekedar “tiruan” atau “refleksi” dari alam. Sebab, merujuk pada Karl Marx, seorang pemikir besar zaman modern, puisi sebagai bagian dunia yang perlu dibedakan dari kerja manusia, tentu bukanlah sekedar “tiruan” atau “refleksi” atas relitas eksternal, melainkan lebih jauh merupakan upaya memasukkan realitas ke dalam tujuan-tujuan manusia, karena ia melukiskan manusia yang secara alamiah, menjadikan aktivitas hidup manusia sebagai obyek kesadarannya. Dalam kata lain, puisi senantiasa berelasi dengan relitas dunia. Ia tidaklah semata-mata merupakan mimetik dari dunia eksternal, karena dalam puisi realitas internal, yang merupakan totalitas pengalaman estetika manusia, lebur dengan realitas eksternal yang merupakan kenyataan yang ada di luar manusia sebagai diri. Hal ini tak lain dan tak bukan karena puisi, sebagaimana seni pada umumnya, tidak hanya mimetik dengan maksud utilitarian secara langsung, selalu saja ada unsur-unsur di dalam puisi yang mengandung tujuan di dalam dirinya sendiri.
            Di dalam peradaban masyarakat krisis, di mana segala nilai sosial, politik, dan kebudayaan tengah mengalami degradasi dan kerunyamannya seperti saat ini, kita tidaklah dapat menyatakan secara diktatoris-dogmatis bahwa puisi-puisi yang muncul seharusnya berpegang pada komitmen sosial yang berpegang pada kegelisahan yang muncul dari realitas keseharian, sebab pemikiran semacam ini sama saja dengan mengingkari keberadaan realitas internal sebagai salah satu faktor yang juga penting dan utama dalam fakta dan proses penciptaan puisi.
            Masyarakat krisis adalah masyarakat yang telah tercerabut dari nilai-nilai dan norma-norma yang telah dipercayaiannya. Nilai-nilai ataupun norma-norma yang dulu menjadi pegangan hidup dalam menjalani kehidupan kini seakan-akan tak lagi dapat dipercaya, bahkan dapat dikatakan telah hilang dan menemukan pengasingannya dalam realitas keseharian. Ini berdampak pada hilang dan terasingkannya eksistensi yang telah mereka bangun dan miliki selama ini, sehingga ia mengalami semacam kebuntuan, kesesatan, bahkan kegelapan dalam menjalankan tugasnya sebagai “pejalan di muka bumi”.
            Bagi puisi, keadaan yang demikian tersebut mengakibatkan munculnya dua dampak yang tak terelakkan, yakni: (a) di satu sisi ingin melarikan diri dan lebur dalam keasingan, dan (b) di lain sisi berada pada jalur pencarian kembali eksistensi dengan jalan mempertanyakan kembali keberadaannya, dunia dan realitasnya secara frontal. Akan tetapi meski kedua dampak tersebut terlihat agak berseberangan, sebenarnya, keduanya masih menyimpan satu persamaan yang tak dapat dipungkiri, yakni: bahwa keduanya mengandung semangat dan nilai resistensi atas dunia dan realitasnya yang mengingkari dan mengasingkannya.
            Ya. Nilai dan semangat resistensi atas dunia dan realitasnya adalah hal yang khas yang muncul dalam peradaban masyarakat krisis. Dalam pemikiran kaum neo-marxis, nilai dan semangat resistensi yang tumbuh kembang dalam peradaban masyarakat krisis pada akhirnya senantiasa memunculkan dua tipologi pemahaman estetika. Yang pertama, adalah estetika sebagai ruang bebas otonom, tempat orang berekspresi di tengah segala macam penindasan dan keterkungkungan. Pada tipologi ini, puisi menjelma sebuah wilayah “tak bertuan” tempat manusia menjadi kreator yang bisa menciptakan makna yang nampaknya tak ada dalam dunia empiris yang sedang kacau balau dan penuh kontradiksi.
Di dalam wilayah ini, seorang penyair bisa merekonstruksi makna secara subyektif, tanpa terlalu peduli pada objektivitas dan relevansi langsung dari momen-momen realitas dunia. Hal ini menjadikan puisi dapat dipahami sebagai jalan pembebasan, suatu wahana kreatifitas manusia yang ditolak oleh sistem hidup sehari-hari. Sebab ia memuat kekuatan-kekuatan dan daya transendensi, serta kekuatan untuk mengambil jarak dengan kehidupan sosial yang represif, serta mengemban nilai otonomi dalam dirinya sendiri, dan senantiasa tidak berpretensi untuk membawa perubahan atau revolusi masyarakat. Pendeknya, puisi menjadi mimpi masyarakat ideal. Suatu kondisi yang begitu diidam-idamkan oleh masyarakat krisis.
Tipologi yang kedua adalah estetika sebagai alat untuk meneriakkan resistensi, momen korektif dan protes terhadap masyarakat, dan pendorongan ke arah perubahan. Dalam pemahaman tipologi ini, puisi berdiri pada titik di mana ia menjadi sarana untuk mewujudkan kembali dunia yang utuh. Di sini, penyair tidak tenggelam dalam kesempitan dunianya sendiri, karena ia tidak menjadi pasif, dan tidak hanya memperhatikan gerak perubahan jiwanya sendiri. Di sini setiap perubahan gerak jiwa seorang penyair dibarengi dengan perubahan gerak jiwa zaman di mana penyair tersebut hidup dan pernah, serta akan, hidup.
Dalam pemahaman ini, puisi senantiasa terlibat dalam gerakan resistensi, senantiasa memuat kontradiksi masyarakat, memprotes keadaan, memuat pesan utopis-mesianik untuk melawan reifikasi total, komodifikasi, hilangnya aura, dan budaya fetish dari masyarakat krisis. Dalam pemahaman ini puisi berfungsi sebagai semacam alat komunikasi politik yang menampakkan tanggung jawab sosialnya. Ia menginspirasikan sebuah gerakan sosial demi perubahan, dan ia menjadi inspiratif karena diangkat dari situasi sosial masyarakat, tidak diisolasi dan tidak ditaruh di puncak mercusuar yang indah.
Hanya saja pemahaman tersebut juga menimbulkan beberapa efek yang lain, semisal semakin menyempitnya ruang transendensi manusia, dan semakin jauhnya penyair dari sebuah kosmos tunamakna yang memberi kelebihan padanya dalam membentuk ruang pemaknaan yang sebebas-bebasnya. Akibatnya puisi-puisi yang lahir dari tipologi pemahaman estetika ini kerap terjerembab dalam kompromi terhadap situasi. Karena dalam pemahaman ini, puisi berada dalam kerangka besar untuk perubahan masyarakat.

Selasa, 16 Agustus 2011

PARADOKS KOTA HADJAR


PARADOKS KOTA HADJAR
Oleh: Indra Tjahyadi*)
Sumber: Jawa Pos, Minggu 10 Juli 2011 


Bagi masyarakat urban, kota merupakan satu paradoks. Di satu sisi, kota menyajikan impian-impian indah akan harapan kehidupan yang lebih baik, tetapi di sisi lain, kota menghadirkan rasa putus asa yang mendalam bagi setiap anggota masyarakatnya. Situasi ini mengakibatkan munculnya konflik tidak berkesudahan di dalam diri setiap anggota masyarakat urban. Melalui keberadaan konflik tak berkesudahan inilah eksistensi setiap anggota masyarakat urban ditegaskan, dan identitas mereka ditentukan dan diteguhkan.

Kiranya, hal inilah yang hendak direpresentasikan oleh Saiful Hadjar lewat karya-karya seni grafisnya. Saiful Hadjar adalah seorang seniman grafis Surabaya yang namanya sudah tidak asing lagi di dunia seni grafis Surabaya, dan Indonesia pada umunya. Kiprahnya bersama Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) pada era akhir 80an s.d. awal 90an mencuri perhatian para kritikus seni rupa Indonesia. Bahkan oleh seorang kritikus seni rupa Indonesia, Arief Bagus Prasetya, Hadjar dijuluki sebagai "seniman diskursif", sebab ia senantiasa mendasarkan karya-karyanya pada satu wacana yang tengah digelutinya.

Dalam menciptakan karya-karya grafisnya, Hadjar berpegang pada teknik cukil kayu, karakter pewarnaan yang monokrom, pemilihan media dengan bahan yang mudah didapat, dan komposisi tata letak yang kontras Dengan menggunakan teknik cukil kayu, pewarnaan monokrom, serta komposisi tata letak gambar yang kontras ini  kesan kota sebagai sesuatu yang paradoks bagi masyarakatnya disajikan secara kuat. Ini terlihat pada salah karyanya yang berjudul Kendhat.


Kendhat muncul dengan komposisi yang kontras pada tata letaknya. Kekontrasan komposisi terlihat pada penataan gambar sosok perempuan setengah badan dengan rambut bergelung bermimik wajah sedih dan tali bersimpul menggantung di hadapannya yang lebih besar ketimbang gambar kota yang berada di atasnya. Sosok perempuan setengah badan bermimik wajah sedih dengan rambut bergelung merepresentasikan sosok masyarakat urban, lengkap dengan psikologi individunya, yang mengalami rasa putus asa.

Secara sederhana, masyarakat urban dapat dipahami sebagai masyarakat yang timbul akibat urbanisasi. Urbanisasi merupakan satu situasi yang ditimbulkan oleh derasnya arus migrasi penduduk desa ke kota. Citra kota sebagai tempat yang menjanjikan kehidupan perekenomian yang lebih baik merupakan faktor pemicu munculnya migrasi ini. Migrasi yang berupa perpindahan penduduk dari desa ke kota ini tidak hanya meliputi perpindahan yang bersifat fisik saja, tetapi juga psikologis. Ketidaksiapan psikologis para pelaku migrasi dalam beradaptasi dengan tempatnya yang baru memunculkan banyak persoalan kultural.

Cultural shock dan cultural alienation merupakan dua "penyakit" yang banyak diidap oleh masyarakat urban. Cultural shock terjadi karena terguncangnya jiwa seorang individu disebabkan oleh perbedaan budaya antara dirinya dengan masyarakat yang baru dikenal. Berpindahnya seorang individu dari masyarakat desa yang homogen ke dalam kehidupan masyarakat kota yang memiliki karakter budaya yang heterogen dapat menimbulkan depresi.

Cultural shock ini akan menjadi cultural alienation apabila seseorang gagal dalam beradaptasi dengan masyarakatnya yang baru. Heterogenisitas budaya yang dimiliki oleh kehidupan kota, membuat individu-individu yang hidup di kota terbelah-belah dalam pelbagai bentuk dan nilai budaya. Situasi ini mengakibatkan tingkat kesulitan yang tinggi dalam beradaptasi. Pada gilirannya, mereka yang gagal melakukan adaptasi akan terpinggirkan. Peminggiran inilah yang mengakibatkan pengasingan. Itu merupakan paradoks kota yang hendak ditampilkan oleh Hadjar lewat karya-karya grafisnya. Dan itu juga terlihat pada karya-karya grafis Hadjar lainnya, seperti pada karyanya yang berjudul Alienasi.


Alienasi tampil dengan komposisi tata letak yang kontras. Yakni, menampilkan gambar sosok lelaki setengah badan tanpa pakaian dengan tatapan mata menatap kosong yang lebih besar ketimbang gambar kota yang berada tepat di atasnya dengan ukuran gambar yang lebih kecil. Penempatan kota pada posisi di atas gambar sosok lelaki itu memperlihatkan betapa kota masih menjadi angan-angan yang indah, meski menghasilkan kekosongan jiwa.

Pada gilirannya, kekosongan jiwa ini mengakibatkan munculnya rasa terasing dalam diri setiap individu masyarakat urban. Meski demikian, keterasingan itu tetap tidak dapat mengusir bayangan kota sebagai suatu mimpi indah, tempat bergantungnya harapan manusia akan kehidupan yang lebih baik. Karena itu, seburuk-buruknya kota, ia tetap menjadi sesuatu yang indah bagi manusia urban. Dan seindah-indahnya impian yang ditawarkan kota, ia tetap sesuatu yang buruk bagi masyarakatnya. Dalam kata lain, kota, bagaimanapun, tetap merupakan paradoks.
           
*) Penulis adalah mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya Unair.